Not An Angel

Not An Angel
18



Happy reading!


-


-


-


Kini aku berada di kamar ku bersama kakak, aku duduk di ranjang ku dan kakak duduk di bangku dekat ranjang, dan posisi kami bisa di bilang berhadapan.


Suasana hening sudah cukup lama menyelimuti kami, jujur saja, aku tidak tahu harus berkata apa, dan memulai dari mana.


Coba ku ingat lagi.


Kakak pergi menjadi ksatria 2 tahun yang lalu jika di hitung di waktu ini, kami sudah selama itu tidak bicara, setelah kakak keluar dari mansion, kami pun juga tidak berkontak melalui surat atau apapun.


Aku pernah menanyakan perihal kakak pada marquis dan Marchioness Garthside, tetapi mereka mengabaikan ku seakan tidak ingin membahas itu.


Sebenarnya saat itu aku marah pada kakak karena meninggalkan ku begitu saja, bahkan tidak meninggalkan pesan atau memberitahu ku kenapa.


Tetapi mengingat kejadian dimana aku keluar dari mansion, aku yakin kakak sepenuhnya tidak salah.


Banyak hal yang ingin ku tanyakan dan ku bahas padanya, tetapi.


'Canggung sekali....'


Baiklah, mungkin aku akan menanyakan kabar terlebih dahulu.


"Ak–"


Kami angkat bicara bersamaan, aku terdiam menunggu nya bicara terlebih dahulu, tetapi dia juga melakukan hal yang sama, aku memutuskan untuk mempersilahkan nya bicara lebih dulu karena aku lebih ingin mendengar tentang nya.


"Kakak duluan saja." Ujar ku, mata biru safir nya membesar kala aku mengatakan hal itu, dia terdiam sebentar lalu senyum senang terukir di wajahnya.


Aku sedikit terkejut, maksud ku, kenapa dia sebahagia itu, tiba-tiba sebuah ingatan terlintas di benak ku.


"Aku merasa kecewa padamu, shannon."


Aku ingat, pada saat upacara kedewasaan aku tidak memanggilnya kakak, melainkan namanya, itu karena saat itu aku masih marah padanya, walaupun begitu aku tetap berharap padanya.


Mengingat hal itu seketika aku menyesal, pasti rasanya waktu itu sakit sekali, aku merasa bersyukur di beri kesempatan untuk kembali ke masa ini, dan memperbaiki semuanya.


Aku yakin sebenarnya kakak juga merasa bersalah padaku karena meninggalkan ku, hal itu di perkuat oleh kalimat Marquis yang mengatakan dia mengusir kakak, karena itu, aku akan mendengarnya terlebih dahulu.


Aku menatap nya tepat pada manik safirnya dan tersenyum lembut, aku ingin memberi nya kesan bahwa aku tidak marah pada nya, hubungan kita masih baik-baik saja, semacam itu.


Dia menundukkan pandangan nya, tetapi aku masih dapat melihat wajahnya, alisnya menurun.


"Maafkan aku, eloise." Itu kalimat pertama yang dia ucapkan setelah lama tidak bicara, aku tersenyum, ternyata tebakan ku benar.


"Aku tidak marah, aku memaafkan kakak jadi tidak perlu khawatir, tetapi aku butuh penjelasan dari kakak, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya ku.


Senyumannya memudar dan alisnya semakin mengerut, tangannya meremas satu sama lain.


"Mereka hanya ingin memanfaatkan kita, selayaknya untuk mendapatkan harta, aku tidak suka dan benci hal itu, aku yakin kau sadar, kalau sebenarnya harusnya aku yang bertunangan dengan duke castillon, tetapi aku menolak nya, kemudian mereka mengusir ku karena aku bersikukuh menentang mereka.


Sebenarnya aku ingin membawa mu, tapi sebagai kakak, aku tidak ingin kau hidup susah di jalanan, aku ingin kau hidup dengan layak, jadi aku memutuskan untuk meninggalkan mu di sana...


Te-tetapi, bukan berarti, aku menyerah." Ia menarik nafas, dan menghembuskan nya dalam, aku tetap tenang mendengarkannya.


"Saat itu, setelah keluar dari mansion, aku tidur di jalanan dan mencari makanan dengan meminta, itu adalah masa yang terburuk bagiku.


Lalu di tengah kota, aku melihat di papan pengumuman kalau kekaisaran membuka pelatihan gratis untuk menjadi ksatria bagi para rakyat jelata, aku mendengar beberapa orang membicarakan soal gaji ksatria yang sangat besar, jadi aku memutuskan untuk menjadi ksatria untuk mencari uang.


Aku berencana setelah mengumpulkan uang banyak, aku akan mengeluarkan mu dari mansion itu, dan kita hidup berdua dengan membuka usaha di kota lain." Ia mengangkat kepalanya, lalu menatap ku, aku menarik nafas.


"A-aku sudah membeli rumah di kota dellwick, sekarang aku mengumpulkan uang untuk membuka usaha nanti...eloise..." Aku menurunkan alisku.


Di upacara kedewasaan saat itu, aku yakin kakak sudah berhasil mengumpulkan uang dan berniat mengajak ku pergi, tetapi kalimat ku waktu itu, membatalkan niatnya.


Aku mengatupkan bibirku karena sangat menyesal, aku menarik nafas dan menghembuskan nya pelan.


"Kalau begitu kita akan tinggal bersama setelah aku lulus dari akademi violet fay, aku sudah punya rencana untuk mengikuti beasiswa tahun depan, dan bersekolah di sana, aku sudah berjanji untuk ini pada master dominic, karena itu mohon tunggu aku juga ya." Ujar ku sembari tersenyum.


Kakak menatap ku dengan terkejut, kemudian matanya tampak berkaca-kaca, dan sepertinya ia sudah menahan air matanya sejak tadi, karena akhirnya tetesan tumpah di ujung matanya.


"Ak-aku, eloise....hiks...hiks." aku bangkit dan langsung memeluk kakak ku, kemudian mengelus punggung nya lembut.


"Aku disini, kita tidak akan berpisah lagi, karena itu kakak tidak perlu cemas lagi, mari kita selesaikan rencana kita kemudian tinggal bersama." Ujar ku sembari menatap sendu arah lain, aku merasakan gerak kakak ku yang mengangguk dan memeluk ku lebih erat.


Untunglah, semuanya berjalan lancar.


⬛⚪⬛


Setelah kakak bercerita, giliran aku yang menceritakan diriku.


Aku menceritakan semuanya pada kakak bagaimana hingga aku bisa di perpustakaan ini.


Tetapi aku tidak menceritakan bahwa aku adalah orang yang sebenarnya berasal dari masa depan lalu kembali ke masa lalu dan menempati tubuh ini.


Karena aku tidak ingin membahas itu lagi, aku ingin mengubah semuanya sebisa ku, dan langkah ku sampai sini menurut ku ini sudah langkah yang jauh sampai aku bisa lepas dari takdir ku yang seharusnya mati di eksekusi.


Dan yang perlu kulakukan sekarang adalah, menemukan peran ku disini sebagai apa, dan melindungi sisa yang tinggal ku miliki.


"Kakak..." Setelah mendengar cerita ku, kakak terdiam dengan alis bertaut, dia tampak berpikir keras.


"Apa kau yakin, kau sudah benar benar putus tunangan dengan Duke castillon?" Kakak menanyakan hal itu, aku menaikkan kedua alis ku dan terdiam sebentar.


Menurut ku, kejadian waktu itu sudah menjelaskan kalau aku sudah putus tunangan, maksud ku, status ku kini bukan lagi bangsawan, aku hanyalah rakyat biasa.


Dan reithel yang ku tahu, dia sangat obsesi dengan status tinggi, entah apa yang ingin di kejar nya, tapi kurasa itu tuntutan sebagai keluarga castillon.


Karena itu aku yakin, dia pasti sedang mencari atau mungkin sudah menemukan wanita lain yang status nya lebih tinggi.


Dia sudah menjadi duke sesuai persyaratan nya, karena itu sudah pasti dia tidak memerlukan aku walaupun seandainya aku masih menjadi anak dari keluarga garthside.


"Aku yakin, lagipula dia pasti sudah menemukan wanita yang lebih dari pada aku." Ujar ku, kakak tampak tidak yakin.


"Ada apa?" Tanyaku, ia menoleh ke arah ku, dan manik ruby ku bertemu dengan safir miliknya.


"Kau tahu kan bagaimana pertunangan itu? Maksudku walaupun kejadian itu terjadi, sebenarnya secara sah kau belum putus tunangan dengan duke castillon, dia harus mentalak mu dulu, maka pertunangan di anggap batal, ya kan?" Jelas kakak, aku terdiam sebentar mendengar kalimatnya, aku mencoba mengingat.


Duke castillon di saat hari dimana aku meninggalkan mansion, ia tidak mengatakan apapun.


"Dia tidak mengatakannya padaku, tapi pasti dia sudah mengatakannya pada marquis Garthside bukan?" Aku mencoba meyakini opiniku.


Kakak mengulum bibirnya dan menatapku dengan memiring kepalanya.


"Akan lebih baik kau bertanya lagi padanya." Ujar kakak dengan senyum kaku.


Aku menghempaskan tubuhku ke ranjang.


'Aku tidak ingin bicara lagi padanya.'


-


-


-