Not An Angel

Not An Angel
24



Happy reading!


-


-


-


Aku duduk di meja penjaga perpustakaan, dagu ku menumpu pada tangan ku, mataku menatap ke depan dengan padangan kosong.


Aku masih memikirkan kejadian tadi, ketika aku berhasil mengeluarkan sihir ku.


'Aku hampir membakar seluruh halaman perpustakaan jika dengan sihir api ku.'


Kemudian aku menatap telapak tanganku, aku teringat dengan apa yang kulihat dalam diriku.


Sebuah api yang awalnya kecil dengan kehangatan yang nyaman, ketika ku sentuh menjadi besar dan tidak terkendali.


Apa itu berarti kekuatan ku berbahaya?


Aku menghela nafas panjang, dan alis ku bertautan satu sama lain dengan pandangan yang sama ke arah entah kemana.


Tuk


Tiba-tiba sebuah buku di taruh di hadapan ku, aku mengangkat kepalaku, dan itu adalah arion, lebih tepatnya adalah senior arion, karena aku akan mengikuti tes masuk akademi ini, otomatis aku akan menjadi junior kelas nya.


Walaupun aku tidak begitu yakin akan berhasil masuk ke akademi itu.


"Ini buku yang ingin ku pinjam." Ujar arion.


"Baik tunggu sebentar." Aku membuka buku besar yang berisi daftar peminjaman buku.


"Seperti biasa peminjaman hanya untuk 4 hari, jangan terlambat mengembalikan karena akan kena denda yang cukup besar, jika ingin memperpanjang jangka waktu nya, silahkan memperbarui ke sini." Jelas ku sembari menulis pada buku itu.


Pria itu tidak merespon apapun tapi aku bisa merasakan bahwa dia hanya tersenyum.


Setelah selesai menulis aku menyerahkan buku dan pena pada nya, Arion menandatangani perjanjian peminjaman bukunya.


"Baiklah ini buku nya ryknight." Ucapku dengan formal.


Yah walaupun aku pernah berkenalan dengan dia sebelumnya tetapi karena ini masih jam kerja ku, aku merasa harus profesional dalam hal apapun.


Arion mengambil bukunya dan tangan kirinya menggosok tengkuknya, pria itu menatapku dengan alis menurun dan bibir yang tersenyum kaku.


"Bukankah kita sudah mengenal cukup lama, jadi aku ingin kau tidak bicara seformal itu padaku." Jelas pria itu, aku mengangkat kedua alisku.


"Maaf tapi saya harus berbicara layaknya profesional dalam bekerja, saya bukanlah murid di akademi ini." 


Pria itu mendengus pelan masih dengan senyum kaku.


"Baiklah, kalau begitu aku permisi, sampai jumpa eloise." Ujar pria itu secara santai selayaknya teman, aku sedikit terkejut tetapi aku memilih mengabaikannya.


⬛⚪⬛


"Berlatih di tempat lain?" Tanya ku sembari memegang sendok makan, dan master dominic mengangguk dengan mulut mengunyah.


Pria itu menelan makan dalam mulutnya lalu meminum air.


"Maksud master, aku di usir?" Ujar ku dengan wajah sangat sedih.


"Hah?? Tidak tidak, maksudku kau akan berlatih di tempat lain, di tempat temanku lebih tepatnya, aku tetap akan mengajarimu seperti biasa." Jelas master.


Aku mengangguk dan bernafas lega.


Aku meminum air ku, lalu lanjut bertanya.


"Kalau boleh tahu dimana master?" Tanya ku, master dominic tertawa aneh membuatku sedikit bergidik.


"Kau akan tahu nanti, tidak seru kalau ku beritahu sekarang." Aku mempautkan bibirku karena master tidak menjelaskan secara jelas.


Aku kembali menyantap hidangan makan malam hingga habis, setelah itu aku meminum air putih.


"Oh ya master." Panggil ku, master dominic menoleh ke arahku sembari meminum kopinya.


"Bagaimana dengan perpustakaan? Siapa yang menjaga selama kita pergi ke tempat dimana kita latihan nanti?" Tanyaku.


"Ah soal itu tenang saja, karena kita akan melakukan nya di hari libur musim panas, liburan musim panas di akademi ini terjadi selama 3 bulan bulan, otomatis semua fasilitas akan di tutup sementara waktu." Jelas master.


"Benarkah, kira-kira kapan liburan itu tiba?" Master melirik kalender yang berada di meja lalu mendengus.


"Masih lama, ada sekitar 4 bulan lagi." Ujar master, bahu ku seketika menurun mendengarnya.


Karena itu waktu yang masih sangat panjang.


"Tidak perlu terburu-buru, ujian masuk akademi masih ada sekitar 9 bulan lagi kurang lebih, katanya akan di laksanakan setelah upacara kedewasaan di istana kekaisaran, jadi kau masih punya banyak waktu untuk mengembangkan diri." Jelas master.


Yah perkataan master memang benar, tetapi bagi ku itu terlalu lama, karena ada tujuan yang ingin cepat kucapai.


Aku memikirkan hal itu, maksud ku, walaupun aku bekerja sebagai pustakawan secara penuh tetapi aku masih punya banyak waktu senggang diantara itu, ini bisa saja di lakukan.


"Terkadang semua hal tidak akan berhasil jika di lakukan tidak pada waktunya, jangan coba-coba berlatih tanpa pengawasan dariku." Ujar master.


Lagi-lagi master seakan membaca apa yang ku pikirkan.


Aku mendengus mendengar kalimat master.


"Bagaimana master bisa tahu?" Tanyaku, pria itu menghela nafas panjang.


"Kalian anak muda di usia ini masih kurang rasional pemikirannya, jadi aku bisa menebak nya." Ujar master santai, aku terdiam mendengar itu.


"Tapi tidak perlu khawatir, bukan berarti selama 4 bulan kau tidak akan melakukan apa-apa selain sebagai pustakawan.


Karena kemarin buku yang ku berikan kurang, jadi aku akan memberikan buku yang lebih banyak, dan juga.


Kau akan belajar teknik dasar sihir, seperti mengangkat barang, terbang atau teleportasi.


Tetapi aku tidak mengawasi mu, karena aku punya banyak pekerjaan.


Kau bisa membaca caranya yang ada di buku nanti." Jelas master lebih panjang.


"Apa itu tidak apa-apa?" Tanya ku, master dominic tersenyum.


"Karena teknik dasar sihir seperti itu tidak mengandalkan sihir spesialis, jadi kau tidak perlu khawatir kejadian itu akan terulang."


Aku mengangguk sebagai jawaban.


⬛⚪⬛


Aku membuka sebuah buku, di sampulnya tertulis, "sihir spesialis dan sihir umum." Ini berbeda dengan buku yang waktu itu di berikan master sebelum nya.


Master bilang aku harus memahami isi buku ini untuk mempelajari dasar sihir.


Aku membuka halaman pertama pada buku itu.


"Sihir spesialis adalah sihir yang terlahir dari bakat penyihir itu sendiri, pada umumnya sihir spesialis di jadikan sebagai tolak ukur seberapa kuat dan besar potensi penyihir itu untuk menjadi seorang penyihir risilv.


Sihir umum adalah sihir yang dapat di gunakan oleh semua orang yang memiliki power gate, sihir ini terbilang cukup mudah di pelajari karena pengendalian kekuatan sihir tidak sulit.


Pada umumnya perbedaan sihir spesialis dan sihir umum di ukur dari penggunaan mana yang di keluarkan.


Sihir spesialis sangat membutuhkan banyak mana, sedangkan sihir umum hanya perlu sedikit mana yang dikeluarkan."


Aku mengangguk-anggukkan kepalaku sendiri, aku mengerti penjelasan nya sampai sini.


Aku membuka halaman selanjutnya, semuanya berisi tentang sihir spesialis, karena master tidak mengijinkan ku untuk melakukan sihir itu jadi aku langsung membuka halaman mengenai sihir umum.


"Kunci dalam penggunaan sihir umum adalah pengendalian mana, jika seseorang dapat mengendalikan mana nya dengan baik maka sihir umum dapat di lakukan dengan mudah.


Teknik dasar sihir umum paling mudah adalah mengangkat barang, cara nya adalah, lapisi sebuah benda dengan mana lalu angkat barang tersebut."


"Hahhhh....." Aku menghela nafas dengan keras karena aku sama sekali tidak mengerti penjelasan nya di bagian itu.


"Melapisi mana ke sebuah benda? Bahkan pertama kali aku menggunakan sihir adalah mengeluarkan sihir spesialis yang berhasil membuat halaman hampir terbakar habis..." Aku kembali menghela nafas, kemudian menutup buku itu, lalu memijat keningku.


"Apa yang harus ku lakukan?..."


"Apa terjadi sesuatu?" Aku mengangkat kepalaku kala mendengar seseorang berbicara.


Pria bersurai perak dengan manik magenta, dan mengenakan seragam akademi violetfay.


"Ari– ehem, maksudku ryknight, tunggu, kenapa anda ada di sini? Bukankah buku kemarin masih ada 3 hari sebelum tanggal batas waktu?" Tanyaku.


Pria itu tertawa pelan, "sudah kubilang jangan formal.


Memang buku itu masih lama kok, dan ku tinggal di kamar ku, sekarang aku ingin meminjam buku baru, apa boleh? Atau ada peraturan baru?" Aku terdiam sebentar lalu menggeleng.


"Tidak ada kok, baiklah biar saya catat dulu." Pria itu memberikan 3 buku, dan aku mencatat buku itu di catatan peminjaman. 


Setelah selesai mencatat aku memberi pena dan buku peminjaman itu untuk di tanda tangani.


"Umm, ryknight..."


"Arion..." Pria itu memperbaiki panggilannya, dia mengangkat wajahnya seakan dia keberatan jika aku memanggilnya dengan marganya, aku menghela nafas dan tersenyum kecil.


"Baiklah arion, ada sesuatu yang ingin ku tanyakan."


-


-


-