
Happy reading!
-
-
-
Situasi ku benar-benar kacau, entah bagaimana aku bisa salah teleportasi, sekarang aku berada di tempat dimana yang tidak seharusnya, kamar pribadi reithel.
Bagaimana aku bisa tahu tempat ini? Karena aku pernah ke sini, jangan berpikiran buruk, disini aku hanya menemaninya saja saat itu, kami benar-benar tidak melakukan apapun, itu sudah lama, entah kapan itu.
Dan sekarang aku malah disini.
Aku mencoba mengingat-ingat apa yang ku pikirkan saat teleportasi.
Tunggu.
"Pada umumnya sihir lebih mengikuti kata hati di banding logika mu, karena itu sangat penting kalau kau harus bisa menguasai hati mu dengan rasional."
Itu kalimat master, ia pernah mengatakan itu pada ku ketika aku masih belajar hanya dengan buku.
Saat aku teleportasi, otak ku berniat dan sudah membayangkan jalan castillon dan pagar mansion Castillon, tetapi aku.
'Aku ingin bertemu reithel.'
Ctarr!!
Hati ku mengatakan itu, sihir nya tidak salah tapi aku lah yang salah, seharusnya aku mengatakan pada hati ku di jalan castillon bukan menemui reithel!
Tapi karena aku memang berniat menemui lah jadi lah seperti ini akhirnya.
Aku berdeham, kemudian aku menutupi kepalaku dengan tudung jubah ku dan melihat ke arah lain.
"Mohon maaf mengganggu..." Aku hendak berteleportasi lagi untuk pergi.
Grep
Aku merasakan pergelangan tanganku di tahan oleh reithel, aku menatap nya dengan terbelalak, tapi pria itu juga menatap ku dengan manik membesar.
"Tu-tunggu..." Dia bilang, aku tidak tahu harus merespon apa, jadi aku hanya diam dan menatapnya, kemudian ia mengusap tengkuknya dan menatap sekitar kamarnya, matanya mengarah pada sebuah meja dengan dua kursi yang berhadapan.
Masih dengan tangannya memegang ku, ia menuntun ku ke sana, karena ku pikir aku juga ada urusannya dengan nya, jadi aku memutuskan untuk mengikutinya lalu pergi setelah mengatakan nya.
"Tolong batalkan pertunangan ini."
Iya, setelah iya menyetujui aku akan pergi.
Pria itu mempersilahkan aku untuk duduk, kemudian ia keluar, aku bisa mendengar suaranya yang sedang berbincang dengan seseorang, sepertinya itu seorang pelayan.
Kemudian setelah itu ia kembali, lalu ia berjalan ke arah ruang tempat dimana ia menyimpan baju-baju nya, tidak lama aku mendengar seseorang membawa kereta makanan, dan ketika terlihat ternyata itu sebastian.
Aku berdiri dan tersenyum padanya.
"Ha-halo Sebastian." Sapa ku, pria paruh baya itu menatapku dengan terkejut, lalu ia melihat ke arah belakang nya, dan menatap ku lagi.
"Ma-maaf, sepertinya saya tidak menyambut nona di pintu depan." Pria itu membungkuk sedikit.
"A-ah tidak-tidak, aku mendadak kesini, aku teleportasi entah kenapa, bisa disini..." Aku bingung bagaimana menjelaskan situasi yang tidak di sengaja ini.
Lalu terdengar suara pintu tertutup, tampak reithel yang keluar dari ruangan dengan kemeja yang sudah terkancing rapih dan jas hitam.
"Terima kasih sebastian, kau boleh pergi." Ujar reithel, Sebastian mengangguk dan memberi hormat kemudian pergi.
Aku melirik reithel dan menunggunya duduk agar bisa langsung bicara, tapi pria itu malah menarik kereta makanan yang berisi beberapa piring kudapan dan teh itu lebih dekat ke meja, kemudian menyiapkan dua cangkir dan membuat teh.
'Reithel membuat teh...'
Aku sedikit terkejut, karena sebelumnya ia tidak pernah melakukannya padaku.
Setelah teh siap, pria itu menaruh secangkir di hadapan ku, kemudian yang lain di kursi depan ku, lalu ia menaruh semua piring kudapan itu di meja, lalu duduk di kursi.
Suasana hening sesaat, karena aku juga bingung harus di mulai dari mana.
"Minum lah." Akhirnya ia berbicara dulu, aku mengangguk dengan sedikit gelagapan, lalu meminum teh tersebut dengan merasa canggung.
Reithel ikut meminum teh nya, lalu ia menaruh kembali cangkirnya, dan berbicara menatap ku.
"Apa ini soal pesta dansa debutante?" Tanya pria itu, alis ku bertautan menatapnya.
Bagaimana ia bisa tahu?
"Malam kemarin, rapat guru terakhir, setelah ujian masuk, aku dan dominic berbincang, dan nona Wheatlight bertanya pada ku, aku rasa dominic akan memberi tahu soal ini, karena itu aku yakin tidak lama lagi kau pasti menemui ku."
'hahaha...'
Entah kenapa rasanya aku bisa menebak jawabannya tentang pembicaraan nanti, tapi itu bagus, karena reithel bukan tipikal orang yang suka basa-basi, ini akan mempermudah ku untuk menyampaikan tujuan ku.
Aku menaruh cangkir ku, kemudian menatap nya dengan serius.
"Kalau begitu saya bisa langsung menyampaikannya," aku menjeda kalimat ku kemudian menarik nafas.
"Tolong batalkan pertunangan ini." Ucapku dengan tegas tapi dengan nada sedang, suasana hening sesaat.
"Kenapa?" Dia bertanya padaku, aku mengangkat kedua alisku bingung.
Dia bertanya kenapa? Bukankah sudah jelas.
"Tapi aku, tidak pernah berpikir untuk membatalkan pertunangan ini." Potong nya langsung, seketika mulutku berhenti bicara dan menatapnya terkejut.
Ini seperti bukan reithel yang terakhir kali ku kenal, ia tidak mungkin mengambil keputusan yang sia-sia ini, bukankah dia harus mengambil wanita yang lebih berguna bagi nya?
"Kenapa...kenapa anda tidak membatalkan nya? Bukankah sudah jelas tidak ada guna nya di pertahankan, kita tidak saling mencintai." Ujar ku dengan sedikit merintih.
Pria itu mengangkat kedua alisnya, ia terkejut dengan kalimat ku.
Tetapi itu memang kenyataannya, untuk apa mempertahankan sesuatu yang tidak ada guna nya, secara sosial aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi, tidak ada gelar bangsawan yang ku sandang, lalu soal perasaan, itu sama sekali tidak ada.
"Aku tidak peduli." Aku mengangkat kedua alis ku dengan terkejut, sedangkan reithel menatap ku dengan serius.
"Aku benar-benar tidak peduli. kau punya atau tidak status bangsawa itu, dan hal lainnya entah apapun itu, aku tidak peduli, tapi yang pasti," ia menjeda kalimatnya dan menatap ku seakan ia mengunci manik ku.
"Aku tidak akan melepas mu."
Grakk
Aku terkejut hingga berdiri dari kursi ku, jantung ku berdegup kencang, kemudian aku langsung menunduk dan menghilang berteleportasi kembali ke kamar ku.
Aku menjatuhkan diriku dan bersandar pada belakang pintu, lalu menekuk kaki ku dan memeluknya erat.
"Aku tidak akan melepas mu."
Kenapa dia berkata seperti itu, apa maksudnya itu, tidak mungkin dia mengatakan itu tanpa alasan.
Tapi apa alasannya?
Dia mencintai ku?
"Tentu saja tidak bodoh." Aku berguman.
Aku mengangkat kepalaku dan menyandarkan nya di belakang pintu dan menatap ke langit-langit kamar, aku melepas tudung ku, dan menyisir poniku kebelakang.
Aku menutup mataku dan mendengus panjang.
"Apa yang harus ku lakukan..."
⬛⚪⬛
Di sisi lain reithel terdiam di tempatnya, ia menatap kursi di hadapannya, kursi yang sebelumnya di tempati eloise.
Gadis itu pergi dengan wajah terkejut dan tidak percaya padanya, setelah reithel mengucap kan kalimat itu.
Reithel menyisir kasar rambut depannya kebelakang, dan mendengus keras.
Sebenarnya reithel juga tidak tahu kenapa ia mengatakan hal itu, eloise benar, reithel seharusnya bertunangan dengan wanita bangsawan, itu sudah menjadi tradisi turun menurun keluarga castillon, semuanya memiliki murni darah bangsawan.
Tetapi ketika eloise mengatakan itu, reithel seakan harus melepas sesuatu penting yang ada di genggamannya, dan jika ia benar-benar melepasnya, ia merasa akan sangat menyesal.
"Kita tidak saling mencintai."
Kalimat eloise itu terus berputar di kepalanya, eloise tidak mencintainya, tetapi bagaimana dengan reithel sendiri?
Ia mulai merasakan sosok eloise ternyata begitu penting ketika gadis itu tidak pernah lagi ke mansion nya, dan menemaninya kemana pun.
Ketika eloise benar-benar menghilang dari pandangannya, lebih tepat nya jarak diantara mereka yang mulai menjauh.
Ia merasa kehilangan.
Reithel bangkit lalu membuka salah satu laci di meja samping ranjangnya, ia mengambil sekotak rokok dan korek api, kemudian membawanya ke balkon, pria itu menyalakan rokok nya dan menghirup asapnya dengan dalam.
Semilir angin meniup lembut rambutnya, waktu sudah menjelang malam, tetapi reithel tidak akan bisa tidur hari ini.
"Sebastian." Panggil reithel, pria paruh baya yang menjadi kepala pelayan reithel itu datang dan membungkuk sedikit memberi hormat.
"Bawa kan aku rum." Ujar nya, sebastian mengangkat kedua alisnya, tidak biasanya reithel minum.
Pria itu menatap meja yang di atasnya terdapat dua cangkir teh dan kudapan yang belum tersentuh.
Sebastian bisa tahu kalau ada sesuatu yang terjadi di antara tuan nya dan eloise.
"Baik yang mulia." Kemudian sebastian pergi, tidak lama kemudian, sebastian membawa nampan berisi satu botol rum dan segelas es batu, pria itu menaruhnya di meja balkon, kemudian ia mengambil kursi dari dalam dan menaruhnya di dekat meja, reithel berjalan dan menduduki kursi itu.
Lalu ia mulai menuangkan rum ke gelas berisi es batu tersebut dan langsung menenggaknya hingga habis, pria itu mendengus panjang nafasnya.
Lalu ia mengisi gelas nya lagi, ia menatap botol yang sudah berkurang hampir setengah isinya, pria itu menaruh dan kembali menghisap rokoknya.
"Bawakan lagi dua botol." Titahnya, sebastian menatap khawatir tuannya, tetapi ia tetap pergi untuk mengambil botolnya.
Sedangkan reithel sendiri termenung dalam diam, kalimat eloise entah mengapa membuatnya merasa sesak dan sakit.
Pria itu kembali menenggak minumnya dan mendengus panjang.
Malam ini reithel ingin membiarkan alkohol membawa kesadarannya dan melupakan rasa sesaknya.
-
-
-
To be continued