Not An Angel

Not An Angel
46



Happy Reading!


-


-


-


Dominic melirik seorang pria yang menatap ke arah eloise dan dirinya, pria itu menggunakan penutup mata di sebelah kirinya, jujur dominic sangat curiga dengan pria itu, tetapi tidak lama pria itu menghilang begitu saja.


"Master?" Eloise memanggil dominic, pria itu mengangkat kedua alisnya sembari menoleh pada gadis pirang itu.


"Ada apa?" Tanya eloise sembari menatap ke arah dimana dominic melirik, dominic mengantungkan kedua tangannya dan menggeleng.


"Tidak ada, omong-omong bagaimana ujian nya?" Tanya dominic, eloise dengan sumringah menunjukkan gulungannya.


"Wah bagus sekali, selamat kau lulus, kerja bagus murid ku!" Dominic mengelus kepala eloise, sedangkan sang empunya tersenyum senang.


Eloise membuka gulungannya, dan membaca isinya, dia mencari peringkat penilaian agar ia tahu apakah ia mendapat beasiswa nya atau tidak.


"Eh, kok tidak ada ya?" Eloise bingung, dominic melihat gulungan itu.


"Apa yang kau cari?" Tanya dominic, eloise menoleh dengan alis bertautan.


"Peringkat, aku ingin tahu apakah aku dapat beasiswa nya atau tidak, kenapa tidak ada ya master? Padahal master Wheatlight bilang seluruh informasi nya ada disini." 


"Ahh itu, kau akan tahu seminggu setelahnya, biasanya mereka akan mengirim surat pada sang pemilik peringkat." Jelas dominic, eloise ber-oh ria dan mengangguk-angguk.


"Itu artinya harus menunggu ya." Eloise berbicara dengan nada kecewa, dominic mengelus kepala eloise.


"Tidak perlu khawatir, santai saja." Ujar dominic, tapi wajah eloise tidak berubah.


Gadis itu khawatir jika dia tidak lulus karena ujiannya sungguh sulit, dan ada banyak siswa yang memiliki kemampuan sihir sangat bagus.


"Omong-omong eloise, lain kali kau harus lebih berhati-hati jika keluar, jangan pernah lepaskan kalung itu." Dominic mendadak, eloise mengangkat kedua alis dan mengangguk dengan pelan, tapi ia menatap wajah dominic dengan tanya.


Dominic hanya tersenyum, "sekarang ayo kita ke ibu kota, sekalian merayakan kelulusan ujian mu, aku akan mentraktir mu apapun, dan jika kau mau beli gaun baru atau yang lain beli saja, dompet ku terbuka untuk mu hari ini." Dominic tersenyum lebar, wajah eloise masih sama, dia masih mengkhawatirkan peringkat ujiannya.


"Bukan kah itu masih terlalu awal?" Dominic menggeleng, kemudian menepuk-nepuk bahu eloise.


"Tentu saja tidak, sudah soal peringkat nanti saja, sekarang kita rayakan saja keberhasilan mu yang ini okeh." Eloise awalnya ragu kemudian mengangguk.


Dominic memegang tangan eloise, "ayo!" Eloise berjengit terkejut.


"Tunggu master! Setidaknya aku taruh barang ku–" 


Kalimat eloise terpotong bersamaan dengan hilangnya mereka berdua berteleportasi.


Dan mereka sampai, dominic berteleportasi di sebuah gang ibu kota, "kita sampai!" Dominic hendak berjalan keluar dari gang, tetapi eloise menahan mantelnya.


"Seharusnya kita taruh–" kalimat eloise berhenti kala melihat barang yang di bawanya menghilang, begitu juga dengan gulungan itu, dan eloise teringat dengan kata-kata master Wheatlight, jangan sampai hilang.


"AAAA!! GULUNGAN NYA HILANG!!" Eloise panik berteriak, dominic langsung membekap mulut eloise takut memancing perhatian orang dan berpikir ada kejahatan terjadi di gang ini.


"Tenang lah! Gulungannya ada di ruangan mu, aku menteleportasi ke sana, kalau kau tidak percaya aku bisa mengirimkan anigi ku kesana untuk membuktikan." Dominic melepas tangannya dari mulut eloise, kemudian gadis itu mendengus panjang.


"Jangan begini master, sungguh." Eloise menyisir poninya ke belakang, dominic tertawa pelan, kemudian menggandeng tangan eloise, dan membawa gadis itu keluar, mata eloise berbinar kala melihat situasi di luar gang.


Mereka ternyata berada di tengah ibu kota, daerah pasar dan toko-toko, keadaannya cukup ramai.


"Baiklah kau mau kemana? Atau mau beli apa? Hari ini aku akan mengikuti seluruh kemauan mu." Ujar dominic, eloise senang, tetapi dia bingung mau kemana dan apa yang ingin di belinya.


"A-aku tidak tahu, aku jarang pergi ke tengah kota seperti ini, apa master punya rekomendasi?" Tanya gadis itu, dominic memegang dagunya dan melihat sekeliling.


"Aku juga jarang sebenarnya, biasanya aku menyuruh achilles jika aku punya keperluan, aku kesini hanya untuk pergi ke bar." Mendadak eloise merasa kasihan pada achilles.


"Lho eloise, tuan dominic?" Eloise dan dominic menoleh karena namanya di panggil, tampak shannon bersama tristan dan feitan.


"Kakak!" Eloise senang kemudian langsung memeluk shannon, gadis bermata safir itu membalas pelukan eloise dan memeluk adiknya itu erat.


"Sudah lama ya tidak bertemu." Ucap shannon lembut, eloise mengangguk, kemudian mereka melepas pelukannya dan tersenyum.


"Ada apa tuan dominic disini?" Tanya tristan.


"Ah hari ini aku dan eloise ingin merayakan lulus ujiannya eloise, gadis ini berhasil masuk ke akademi violetfay." Bangga dominic, tristan dan shannon terkejut dan tersenyum.


"Wah hebat sekali! Selamat eloise!" Seru shannon, eloise mengangguk.


"Terima kasih kak." 


"Hebat sekali eloise! Setelah lulus semoga kau bisa menjadi penyihir agung dan bekerja bersama kami!" Seru tristan, eloise hanya tersenyum, karena gadis itu memang tidak berencana untuk berada disini setelah lulus, dia akan pergi bersama kakaknya dan hidup berdua, tetapi ia memilih menyimpan hal tersebut.


"Apa kalian sedang bertugas jaga?" Tanya dominic, tristan mengangguk.


"Iya, sekarang shift kami, apa kalian mau ke suatu tempat? Kami bisa antar kok." Tawar tristan sembari tersenyum.


"Ah aku punya tempat rekomendasi yang bagus untuk minum teh, beberapa minggu yang lalu ada toko herbal yang baru buka, toko itu juga memiliki fasilitas untuk minum teh, di sana banyak kudapan yang enak dan teh nya juga enak dan sehat karena herbal, kalian mau coba?" Tawar shannon.


Dominic dan eloise menoleh satu sama lain kemudian mengangguk.


"Baiklah kalau begitu biar kami–" kalimat tristan terpotong ketika feitan memukul kepala tristan.


"Kita ada tugas jaga, biar shannon saja yang mengantar mereka, sekalian merayakan." Ujar feitan.


"Oh iya."


"Ah tidak apa-apa, kami tidak ingin menganggu kerja kalian, beritahu saja nama tokonya kami akan kesana berdua." Ucap dominic.


"Tidak tuan, feitan ada benarnya, aku dan temanku ini saja yang akan lanjut jaga, shannon kau nikmati perayaan mu bersama adikmu, belakangan ini kau sibuk kan, sekali-kali beristirahat lah." Senyum tristan, shannon membalas senyum pria itu dan mengangguk.


"Terima kasih tristan." Ucap shannon, pria itu tersenyum menunjukkan deretan giginya.


"Baiklah kami pergi duluan, kapan-kapan eloise kencan dengan ku ya, nanti ku traktir apa saja!" Seru tristan.


"Tidak boleh."


Dominic membalas bersama shannon dengan tegas, terutama dominic dengan tatapan membunuh, tristan hanya tertawa kaku sedikit takut, kemudian pria itu pergi bersama feitan.


Setelah itu shannon bersama dominic dan eloise pergi menuju toko yang di maksud, mereka sampai pada sebuah toko yang besar dan bertingkat, gedung toko ini tampak seperti toko yang hanya di masuki oleh para bangsawan.


"Eh seperti nya ini mahal." Mendadak eloise.


"Tidak apa-apa, aku punya banyak uang jadi tidak masalah." Dominic sombong, eloise dan shannon hanya tertawa pelan.


"Lho eloise?" Seseorang memanggil eloise, gadis itu menoleh dan terkejut melihat siapa itu.


"Leia?" 


"Apa itu teman mu?" Tanya dominic, eloise hendak menjawab.


"Tidak kami bukan teman, hanya kebetulan kami satu angkatan, aku salah satu peserta yang lolos di ujian masuk, anda master Hartmann kan, salam kenal saya leia Drizella Vanitas, murid khusus master reithel." Jelas leia, seketika membuat eloise semakin terkejut.


'Ternyata dugaan ku benar, pantas saja mereka memiliki sihir yang sama.'


"Begitu ya, salam kenal juga." Balas dominic, leia tersenyum kemudian menoleh ke arah shannon.


"Anda ksatria pangeran roxane kan? Anda mirip dengan eloise apakah saudara?" Tanya leia, shannon dan eloise mengangguk.


"Iya kami kembar, omong-omong tidak perlu formal pada ku santai saja, aku bukan bangsawan kok." Ujar shannon.


"Ah walaupun anda bukan bangsawan tapi jasa anda sebagai ksatria sangat besar, terutama pangeran raven menjaga keamanan kekaisaran ini, jadi saya sangat menghormati anda." Jelas leia dengan senyum.


"Omong-omong kalian mau datang ke toko ku ya, silahkan masuk." Leia mendampingi mereka bertiga untuk memasuki toko tersebut.


Sampai di dalam, dominic bersiul kagum sedangkan eloise dan shannon berbinar-binar menatap seluruh ruangan ini, semuanya sangat bagus dan estetis.


"Selamat datang di toko Moonlight." Seorang karyawan menyambut kedatangan mereka.


"Tolong siapkan ruangan." Titah leia pada karyawan itu, karyawan wanita itu mengangguk kemudian pergi.


"Toko anda bagus sekali, pantas saja populer." Puji shannon, leia tersenyum.


"Terima kasih." Balas leia.


Dominic memperhatikan setiap herbal yang di pajang di etalase toko dan pria itu berhenti pada sebuah herbal.


"Bukankah ini tanaman angel breath, hebat sekali, bahkan herbal yang sulit di temukan kalian juga menjualnya." Dominic terkejut.


"Iya, tapi herbal ini di jual sangat terbatas." Leia memberi tahu.


"Angel breath memang nya untuk apa?" Tanya eloise.


"Itu adalah satu-satunya tanaman herbal yang memiliki sihir penyembuhan tersendiri, dengan mengkonsumsi herbal ini, segala penyakit akan sembuh, tetapi herbal ini sangat sulit di temukan, dan herbal ini tidak bisa di tanam sendiri, karena herbal ini di sebut tumbuh karena takdir." Jelas dominic.


"Begitu ya." balas eloise, dan Leia mengangguk.


"Karena itu harganya sangat mahal." Ujar leia, tiba-tiba dominic memberikan leia sebuah kertas panjang.


"Ini cek kosong, ku beli semua angel breath." 


-


-


-


To be continued