
Happy reading!
-
-
-
Ting! Ting!
Suara bel jam utama kekaisaran bergema, reithel menatap keluar jendela, mata langit nya melihat ke arah langit yang sudah malam dan sang purnama yang sudah mencapai puncak nya.
Kemudian netra nya kembali menatap tumpukkan kertas yang merupakan bagian dari pekerjaan nya, ia belum selesai dan kini sudah memasuki waktu jam 9 malam.
Tok-tok
"Masuk." Ujar pria itu singkat.
Seseorang membuka pintu yang rupanya adalah sebastian.
Pria umur 40-an dengan surai biru tua dan netra malam yang sudah bekerja setengah dari umurnya dengan keluarga castillon.
"Bagaimana?" Tanya reithel tanpa basa-basi.
"Kami tidak menemukan nona eloise di kota maupun daerah kediaman Garthside, tampaknya nona eloise sudah keluar dari kota ini." Ujar sebastian yang membuat alis reithel bertautan.
Setelah meninggalkan kediaman Garthside, reithel memerintahkan seluruh ksatria nya untuk mencari eloise di kota, tapi tidak di duga reithel gadis itu sudah pergi lebih jauh dari perkiraannya.
Reithel teringat dengan tadi siang, ketika pria itu mengunjungi kuil roxane, dia yakin eloise datang ke tempat itu.
Karena pria itu melihatnya, awalnya ia sempat berpikir bahwa salah lihat, tapi ketika dia kembali ke mansion nya, dia tidak melihat keberadaan eloise yang seharusnya, akhir nya dia memutuskan untuk pergi ke mansion Garthside untuk memastikan.
Dan dugaannya benar eloise tidak ada di sana, dan ketika eloise kembali, gadis bermanik ruby itu memakai pakaian yang sama dengan gadis yang di lihatnya tadi.
"Apa kau sudah mencari ke kuil roxane?" Tanya reithel, sebastian mengangguk.
"Sesuai perintah anda yang mulia, tapi kami tidak menemukan beliau." Ujar sebastian.
Reithel mendengus kasar, dan menyisir rambut gelapnya ke belakang.
"Kemana dia pergi?"
⬛⚪⬛
Master dominic dan aku berjalan menuju perpustakaan, kami tidak bisa meminta kereta masuk karena jam tamu sudah habis.
Di perjalanan aku melihat ke sekeliling lingkungan akademi violet fay, dan ketika aku melihat di kereta dengan jalan kaki, ternyata cukup berbeda, ini lebih luas dan lebih besar bangunannya.
"Di akademi violet fay." Master Dominic menahan kalimatnya, aku mengalihkan pandanganku ku kemudian menatap ke arahnya.
Pria itu berjalan sembari kedua tangannya di saku di jas hijau tosca tua dengan garis hitam yang dikenakannya, dan matanya masih menatap ke arah ia berjalan.
"Ada beasiswa, dimana setiap murid yang ingin mendapat beasiswa harus mengikuti beberapa ujian, 10 murid dengan nilai ujian tertinggi akan mendapatkan beasiswa itu." Kemudian wajahnya menoleh padaku.
"Aku ingin kau mendapat beasiswa itu, karena itu mulai besok, selain kau bekerja sebagai asisten ku, kau akan belajar lebih dalam mengenai sihir.
Penerimaan siswa baru akan di laksanakan tahun depan, kau masih punya banyak waktu untuk belajar." Panjang master.
"Baik saya akan berusaha master." Jawab ku dengan mantap.
"Bagus, karena kau sekarang menjadi murid ku, kau harus lebih hebat dari yang lain." Ujar nya sembari tersenyum, Aku mengangguk.
"Kita sampai." Ucap master, tetapi kita tidak sampai di depan pintu perpustakaan yang ku masuki sebelumnya.
Master menunjuk sebuah papan yang terdapat sebuah simbol aneh bagi ku, "ini adalah benda sihir, dengan benda ini seseorang tidak bisa masuk ke pintu ini tanpa benda sihir, tempelkan tanda pengenal yang ku berikan padamu tadi."
Aku mengeluarkan tanda itu dari saku baju ku, lalu menempelkannya pada benda itu, simbol itu bercahaya, kemudian pintu yang tinggi nya sedikit lebih tinggi dari master itu terbuka dengan sendiri nya.
"Hebat!!" Seru ku kagum, ya karena di kehidupan sebelumnya aku belum pernah melihat benda seperti ini.
Di kehidupan sebelumnya, walau reithel adalah seorang penyihir, aku tidak pernah melihat nya menggunakan benda sihir.
Tetapi sebenarnya di kediaman reithel ada sebuah ruang yang tidak boleh ku masuki, sebastian asisten reithel mengatakan kalau ruangan itu penuh dengan benda penelitian reithel, demi keamanan tidak bisa di masuki oleh orang lain selain reithel sendiri.
'Aku yakin ruangan itu berisi dengan benda seperti ini.'
Kemudian master dominic masuk kedalam, aku mengikuti langkah pria itu, dan ketika di dalam ternyata kita memasuki ruang dapur.
'Sepertinya kita masuk melalui pintu belakang.'
"Karena ini sudah jam 9 malam, semua pintu utama fasilitas akademi ini akan terkunci otomatis oleh sihir, jadi kita tidak akan bisa masuk lewat pintu depan." Jelas master, alis ku mengkerut.
"Aku hanya menebak nya dari wajah mu." Ujar pria itu sembari terus berjalan menyusuri lorong, dan aku mengekor di belakangnya.
"Master selalu berbicara seakan tau apa yang pikirkan." Ujar ku.
"Karena apa yang kau pikirkan semua nya tergambar di wajahmu." Ucap master membuat ku semakin mengerutkan alisku.
"Itu bukan pujian ya?" Tanya ku.
"Aku memang tidak sedang memujimu, aku hanya menjawab mu." Aku mendengus mendengar kalimat nya.
Kemudian pria itu berhenti di sebuah pintu, ia membuka pintu itu dan masuk kedalam, aku terus mengikuti langkahnya.
Master dominic memutar tubuhnya ke arah ku.
"Ini adalah kamar dulu asisten yang bekerja dengan ku sebelumnya, di lemari ini ada seragam pustakawan, tidak perlu khawatir, seragam itu tidak kotor karena sudah di bungkus dengan rapih jadi tidak terkena debu, jadi besok pakailah."
Kemudian master menunjuk sebuah pintu dalam kamar ini.
"Itu adalah kamar mandi." Ujar pria itu, kemudian ia berjalan ke arah pintu dan menggerakkan pintu itu dan menunjukkan kunci kenop pintu.
"Disini ada kunci dalam, untuk kunci luarnya, kau bisa memakai tanda pengenal mu untuk menguncinya, ada di samping depan pintu." Ia kembali menjelaskan.
Lalu master dominic berjalan keluar ruangan, kemudian tubuhnya memutar ke arah ku.
"Ada yang ingin di tanyakan?"
"Itu, perpustakaan buka jam berapa? Dan master bilang saya punya tugas memasak juga, master biasa nya sarapan jam berapa?" Tanya ku.
"Biasa nya buka jam 9 pagi dan juga aku tidak sarapan, jadi untuk sarapan terserah mau buat atau tidak, tapi untuk makan siang di waktu istirahat jam 1 dan makan malam jam 8, ada lagi?"
Aku menggeleng, "terima kasih atas semuanya master." Ujar ku sembari tersenyum.
Tetapi master hanya terdiam dan tidak merespon apapun, dia tertegun.
"Master?" Aku memanggilnya, dan berhasil menyadarkan lamunannya, pria itu menutup pintu kamar ku.
"Selamat malam." Ucap nya di depan pintu, aku mendengar suara langkah kaki yang pergi menjauh.
Aku kembali menatap sekeliling kamar ini, semuanya tertata rapih, tetapi karena jarang di bersihkan, tampaknya ada lumayan banyak debu yang menempel di dinding, tetapi semua benda di lapisi oleh plastik, sehingga debunya tidak menempel pada benda tersebut, aku menaruh koper yang ku bawa di dekat ranjang.
Aku menarik plastik besar yang menutup ranjang itu, kemudian menyentuh ranjang tersebut, bersih tidak ada debu.
Aku menjatuhkan diriku ke kasur lembut itu, kini kasur yang ku tiduri tidak senyaman kasur ku di kediaman Garthside.
Walau begitu aku tetap merasa bersyukur, sebenarnya aku malah senang telah meninggalkan Garthside.
Aku teringat kalimat Marquis yang mengatakan kalau kakak ku di usir, tetapi ketika di upacara kedewasaan, kenapa kakak ku tidak mengatakan apapun.
"Haruskah aku pergi ke ibu kota?" Aku berguman.
Ibu kota adalah tempat dimana istana kekaisaran dan pusat tempat ksatria berada, kota itu juga sering menjadi tempat festival-festival kekaisaran diadakan, biasanya yang tinggal di ibu kota adalah bangsawan berpangkat tinggi, seperti Duke, perdana mentri, hingga keluarga kekaisaran.
Ibu kota juga merupakan pasar terbesar yang menjual apapun, karena ekspor dan impor barang di lakukan disana, biaya hidup nya cukup mahal, terutama pajak nya karena ibu kota itu adalah kota yang memiliki keamanan tertinggi di seluruh wilayah kekaisaran roxane.
Dan reithel tinggal disitu.
Aku menggeleng cepat, berusaha menghapus pikiran ku mengenai reithel.
Aku tidak boleh mempedulikan nya lagi, karena dia juga sebenarnya tidak mempedulikan aku.
Sebenarnya aku tahu kontrak yang dimaksud Marquis yang ia katakan di mansion.
Kontrak antara reithel dengan Marquis Garthside adalah, pertunangan politik, reithel mau bertunangan dengan ku karena dia menginginkan gelar duke secepatnya, keluarga castillon memiliki syarat, bahwa gelar duke hanya di warisi oleh ahli waris yang sudah memiliki pasangan apapun itu hubungannya.
Sedangkan marquis akan mendapat uang yang sangat banyak setiap bulan, aku tidak begitu tau jumlahnya berapa, tapi setidaknya uang itu bahkan mampu memenuhi gaji seluruh karyawan dan pembiayaan di kediaman Garthside.
Karena banyak menerima uang dari reithel, Marquis sudah tidak bekerja lagi dan tidak meneruskan bisnisnya, di kehidupan ku sebelumnya aku sudah tahu hal ini, tapi aku mengabaikan nya.
Jika di pikir-pikir reithel bisa saja memilih gadis lain, tapi alasan perkiraan ku reithel memilihku, karena aku sebagai tunangan nya tidak menuntut apapun pada nya waktu itu, dan hanya terus menunggunya pulang dan mengurus nya, layaknya seorang boneka.
Kami terikat dengan perasaan tidak berbalas.
-
-
-