Not An Angel

Not An Angel
4



Happy Reading!


-


-


-


"Nona?"


Pendeta mathias memanggilku, aku sempat menatap kepergian arion cukup lama, aku langsung menoleh padanya dan tersenyum.


"Maafkan aku, ada yang ingin aku bicarakan dengan pendeta agung." Pendeta mathias mengangguk.


"Akan lebih baik kita mencari tempat, ikuti mohon ikuti aku." Ujar nya sambil tersenyum, kemudian pria itu berjalan dan aku mengekor di belakangnya.


⬛⚪⬛


Kami sampai di sebuah ruangan, aku melihat tanda di pintunya yang tertulis di atas kayu dengan nama lengkap pendeta mathias.


'Mathias Theodore roxane, eh roxane?'


Aku sangat terkejut, di belakang nama pendeta mathias ada marga keluarga kekaisaran, ini sudah pasti menunjukkan dia adalah keturunan kekaisaran roxane, ada kemungkinan dia adalah perwakilan kekaisaran yang mengawasi kuil.


Tetapi aku memilih untuk diam dan mengikutinya, pendeta bersurai hitam kemerahan itu membuka pintunya, ku pikir tidak ada seorang pun, tapi aku melihat seorang anak laki-laki, usianya tampak cukup jauh lebih muda dari ku.


"Selamat datang kembali pendeta agung mathias dan...." Kalimat nya berhenti ketika melihat ku.


Dengan sopan aku memperkenalkan diriku padanya, aku menarik kaki kiri ku kebelakang dan melebarkan rok gaunku dan sedikit membungkuk.


"Perkenalkan nama ku Eloise Somnivera." Ujar ku.


"Kau tidak punya marga?" Anak itu bertanya, aku sedikit terkejut, dan menatapnya bingung.


'Bagaimana dia bisa tahu aku seorang bangsawan??'


"Ah tidak, maaf, soalnya kau tampak seperti seorang bangsawan dan sikap mu sangat sopan." Anak itu menggaruk tengkuknya.


"Tidak apa-apa." Ucapku tersenyum.


"Silahkan duduk nona eloise, peter tolong buat kami teh." Anak itu mengangguk lalu pergi untuk membuat teh, aku duduk di sebuah sofa dan pendeta mathias duduk di hadapanku.


Aku melihat sekitar ruangan nya, sebenarnya dari aku masuk ke kuil ini aku terpesona dengan setiap sudut kuil ini, layaknya bangunan bersejarah yang di buat secara khusus, setiap ruangan dinding nya selalu di ukir dengan seni geometris dan naturalis, juga ada beberapa kaca jendela yang di buat gambar tertentu seakan mengandung kisah di dalamnya.


"Kuil ini sangat indah, aku sangat menyukai nya dan terpesona dengan setiap sudut kuil ini." Ucapku untuk memulai percakapan ringan.


"Aku lega nona menyukai tempat ini, sering-sering lah nona kemari." Aku mengangguk, tidak lama anak bernama peter tadi membawa satu nampan yang berisi dua cangkir teh dan beberapa kudapan.


Kemudian peter menyajikan nya di meja hadapan kami.


"Terima kasih peter." Ucapku setelah ia selesai, ia sedikit bersemu merah dan mengangguk pada ku, lalu pergi keluar ruangan.


"Silahkan di minum nona eloise." Aku mengangguk dan mengambil secangkir teh begitu juga dengan pendeta mathias, aku mencium aroma menenangkan dari cangkir teh itu.


'chamomile.'


Kemudian meminum sedikit teh itu, sangat enak, dan menenangkan, aku menyukai teh ini.


Kemudian aku menaruh cangkir teh ku, sedangkan pendeta mathias masih memegang cangkirnya, dia menatap ku.


'mungkin lebih baik langsung saja, basa-basi tadi sudah cukup.'


"Pertama-tama aku ingin mengucapkan terima kasih pendeta agung mathias." Pendeta itu menatap tanya padaku, tapi tidak menghilangkan senyum di bibirnya.


"Aku akan menceritakan sesuatu pada pendeta agung, mungkin rasanya aneh karena kita baru pertama kali bertemu, tapi aku yakin bisa mempercayai pendeta agung, dan aku rasa aku butuh bantuan pendeta agung mengenai kondisi ini." Pendeta mathias terdiam sebentar, kemudian menaruh cangkir tehnya.


"Tentu saja nona, aku akan berusaha membantu nona semampu ku." Ujarnya sambil tersenyum, aku membalas nya dengan ekspresi lega.


"Baiklah, pertama, pendeta agung mathias, sebenarnya aku adalah orang yang kembali dari masa depan." Aku memberhentikan kalimatku di situ untuk melihat reaksinya, tapi pendeta mathias tetap diam dan menyimak ku.


Aku mendengus pelan dan menarik nafas dan kembali bicara.


"Di masa depan, aku akan di hukum mati atas tuduhan pembunuhan berencana pada tuan putri charol yang saat ini bertunangan dengan pangeran mahkota gionard, tetapi sebenarnya bukan aku pelakunya, aku tidak dapat menjelaskan secara spesifik, yang pasti itu bukan aku.


Tidak ada yang menyelidiki kasus itu secara lebih dalam, aku pikir tidak ada lagi yang bersimpati padaku. 


Tapi saat hukuman mati ku di laksanakan, pendeta agung datang ke tempat ku dan mendoakan ku, walaupun pendeta agung tidak menghentikan benar-benar hukuman mati itu tapi aku senang masih ada yang bersimpati pada ku."


Pendeta mathias menatapku dengan alis menurun, aku hanya tersenyum lembut.


"Tapi kemudian, sebuah keajaiban datang padaku, di sebuah tempat yang tidak aku ketahui, seseorang menemui ku, dan mengatakan ia dapat mengembalikan aku ke masa lalu, awal nya aku sempat berpikir itu adalah tipuan dan kalaupun benar pasti akan membutuhkan sebuah pengorbanan besar, mengingat ini bukanlah sesuatu yang dapat di lakukan dengan mudah.


Tetapi orang itu melakukan tanpa meminta imbalan dari ku sedikitpun, dan akhirnya kembalilah aku disini, 5 tahun sebelumnya."


Aku mengakhiri kisah ku, "bagaimana menurut pendeta agung?" Aku bertanya dengan raut canggung, aku pikir dia tidak akan percaya pada cerita ku dan menganggap ini hanyalah sebuah karangan.


"Rasanya sangat tidak mungkin itu terjadi tapi itu jika dipikirkan baik-baik, menurut ku hal ini ada kaitannya dengan sihir." Ujar nya, aku terkejut dia bicara seakan benar-benar mempercayai ku. 


"Pendeta agung mempercayai ku?" Tanyaku terkejut, pendeta mathias terdiam sebentar dan tertawa pelan.


"Tentu saja nona, jika hal itu tidak pernah terjadi nona tidak mungkin mendatangi ku, di tambah langsung menceritakan hal ini di pertemuan pertama, jadi aku percaya padamu, lagipula hal seperti ini tidak sekali dua kali terjadi, sesuatu yang kadang terdengar mustahil sering terjadi, di kuil ini kami menyebutnya dengan mukjizat dari dewa, tapi kasus seperti nona baru pertama kali aku mendengar nya."


Aku mengangguk mengerti, "terima kasih telah mempercayai ku." Ujarku sedikit terharu.


Pendeta mathias mengangguk dan tersenyum, "Aku tidak bisa memberikan pendapat banyak soal kasus nona, tetapi aku bisa merekomendasikan seseorang untuk nona bisa tanyakan perihal ini."


Aku menatap tanya, "seseorang?"


"Jika nona ingin mengusut kasus ini lebih dalam sekaligus mengubah hidup nona, aku menyarankan nona meminta bantuan pada seorang penyihir yang menjaga perpustakaan besar umum violet fay, tuan dominic hartmann.


Beliau adalah salah satu penyihir terhebat yang aku kenal, aku menyarankan beliau karena ia nona bisa temui di waktu dekat dan tempatnya pun tidak jauh sekali dari sini, di tambah beliau memiliki pengalaman berkaitan sihir lebih banyak, mungkin hal itu bisa membantu." Jelas pendeta mathias.


Aku tersenyum senang, dan menatap pendeta mathias dengan mata berbinar-binar, "Terima kasih pendeta agung, saran pendeta agung sangat berguna bagiku, terima kasih banyak." Ucapku sangat syukur.


Aku bangkit, "kalau begitu pendeta agung mathias, aku pamit, sekali lagi terima kasih atas sarannya, aku akan kembali lagi nanti." Pendeta mathias tersenyum mengangguk.


"Tentu saja, silahkan datang sesukamu, aku menyambut baik kedatangan mu." Ujarnya.


Aku membungkuk hormat, ketika ingin mengangkat kepalaku pendeta mathias menyentuh dahi ku dengan jarinya, aku melirik wajahnya.


"Aku memberi berkah padamu." Cahaya kecil muncul dari tangannya, seketika tubuhku terasa sangat ringan dan nyaman.


Setelah itu pendeta mathias mengelus kepalaku, "Semoga kesempatan kali ini kau bisa mengubah hidupmu menjadi lebih baik." Ujar nya tersenyum, aku membalas senyumnya.


Kemudian berjalan pergi, sebelum benar-benar keluar dari ruangan, "Sampai jumpa pendeta agung." Ucapku dan pendeta mathias mengangguk.


⬛⚪⬛


Aku keluar dari ruangan, aku berpikir untuk langsung pergi ke perpustakaan besar umum violet fay, itu berarti perpustakaan itu berada di akademi sihir besar violet fay.


Aku melihat ke atas langit dan matahari masih berada di atasnya, waktu belum menunjukkan sore, kupikir sepertinya sempat untuk kesana sebentar.


Di perjalanan keluar dari kuil aku bertemu dengan peter lagi, kali ini dia membawa banyak buku.


"Halo peter!" Sapaku ceria, anak itu mengangkat kedua alisnya terkejut, aku terdiam sejenak.


'eh apa aku terlalu cepat merasa akrab dengannya?'


Melihat reaksi ku, peter segera angkat bicara. "Ha-halo no-nona eloise..." Balasnya dengan terbata-bata.


Aku tertawa pelan, "tidak perlu memanggil ku nona, cukup panggil aku eloise, ah walaupun aku lebih tua dari mu, tidak perlu memakai embel-embel kakak ya." Ujar ku, anak itu mengangguk dengan manis.


"Ba-bagaimana pertemuannya?" Tanya peter, aku tersenyum.


"Pendeta agung mathias memberiku banyak bantuan, aku sangat berterima kasih, ah aku harus segera pergi, sampai jumpa peter, aku akan kembali lagi." Ucap ku.


"Ba-baik nona, hati-hati di jalan!" Seru Peter, aku sudah cukup jauh darinya dan membalas kalimatnya dengan lambaian tangan kemudian aku berbalik dan berjalan untuk keluar dari kuil.


'Baiklah selanjutnya, perpustakaan violet fay.'


-


-


-