Not An Angel

Not An Angel
23



Happy reading!


-


-


-


Hari ini sekitar jam 9 pagi, aku dan master pergi ke halaman belakang perpustakaan, sesuai rencana kemarin lusa, jika aku akan mulai di ajarkan untuk pertama kalinya sihir secara langsung.


Setelah sarapan kami langsung ke halaman belakang.


"Ini."


Master memberiku sebuah batu permata bening yang cukup besar di tanganku, aku menatap master dominic dengan tanya.


"Itu adalah batu sihir, fungsi nya untuk memeriksa sihir apa yang terkandung dalam sebuah vocorgi atau pun mahkluk hidup, keluarkan sihir mu ke batu ini agar kita bisa melihat spesialis sihir mu."


"Eh kupikir kita akan belajar sihir dasar?" Tanya ku, karena yang ku bayangkan adalah sihir yang di ajarkan seperti sihir teleportasi atau mengangkat barang, dan sebagainya.


"Sihir itu bisa kau dapatkan di akademi nanti, aku malas mengajari mu, yang lebih penting kau harus bisa lulus tes masuk jalur beasiswa dulu, tes nya ada beberapa bulan lagi, masih lama sih sebenarnya, tapi nanti yang akan di tes adalah sihir spesialis mu, karena itu pertama kita harus belajar ini." Jelas master, aku mengangguk mengerti.


"Kalau begitu lakukan." Ujar master, aku terdiam menatap batu sihir yang ku pegang begitu juga master diam menungguku.


Suasana hening sesaat.


"Apa yang kau tunggu?" Tanya master.


"Master....cara mengeluarkan sihirnya bagaimana.." tanya ku menatap master.


Kami sama-sama terdiam.


"Di buku tidak ada ya? Maaf sepertinya aku kurang memberi buku mu hehe." Alisku menurun mendengar kalimat master.


"Ya karena power gate mu belum sepenuhnya terbuka, sebab kau belum pernah menggunakan sihir maka di awal mungkin akan kesulitan, tapi kedepannya akan lebih mudah.


Pertama fokus pada dirimu, dan pikirkan kekuatan apa yang ada dalam dirimu, lalu coba keluarkan, ini mirip seperti menghayal tetapi ini akan menjadi nyata.


Kuncinya adalah kamu harus mengerti dengan dirimu sendiri." Jelas master.


Sebenarnya jujur saja ini terdengar sulit bagiku, karena kuncinya adalah mengerti dengan dirimu sendiri.


Tidak semua manusia mampu melakukan hal itu, karena terkadang pikiran dan hati rasanya sangat rumit.


Tetapi aku harus bisa.


Aku memejamkan mataku dan mencoba membaca kekuatan dalam diriku, aku berusaha fokus agar bisa melihat nya.


Rasanya sulit, tetapi entah kenapa di mataku dari gelap aku melihat sebuah cahaya.


Aku mencoba lebih fokus dengan hal itu.


"Api?"


Aku melihat sebuah api kecil yang menyala, entah kenapa rasa hangat menjalar keseluruh tubuhku, itu sangat nyaman.


Entah bagaimana dimataku tanganku menyentuh api itu, dan api itu semakin membesar.


"ELOISE!!"


Mataku langsung terbelalak terkejut mendengar master dominic berteriak memanggil ku, pandangan awalnya memburam kembali jelas dan aku melihat api besar membakar hampir membakar seluruh halaman dan master dominic berdiri cukup jauh dari tempat ku.


"Huaa!!" Aku sangat terkejut dan melempar batu itu.


"Achilles!" Master dominic memunculkan achilles kemudian hespirvit itu dengan cepat terbang ke arah ku dan membawa ku jauh dari tempat itu.


Master mengarahkan tangannya ke api itu, dan di bawah api itu muncul lingkar sihir besar dan kemudian tidak lama air besar muncul dari lingkar sihir itu.


Master memandamkan api itu tanpa waktu lama, setelah api padam achilles membawa ku ke tempat master berdiri.


Aku turun dari gendongan achilles, master diam menatap dimana api besar itu tadi ada.


Aku menatap master dengan sorot khawatir, kemudian mataku melihat ke arah yang sama.


Rumput halamannya terbakar cukup besar, sepertinya itu karena api yang ku buat.


Itu artinya spesialis sihir ku adalah api.


Aku menatap tanganku, kemudian menatap master yang melihat ke arah api itu dengan serius.


Aku mengatupkan bibirku karena merasa menyesal sudah merusak halaman perpustakaan, perbaikan nya pasti mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.


"Ma-master.... Aku minta maaf...." Ujar ku menatap master.


Master dominic mengangkat kedua alisnya dan menatap ku, dia tersenyum dan mengelus kepalaku.


"Tidak, jangan khawatir, yah ini salahku juga karena tidak membuat antisipasi." Ujar master, walau dia sudah berkata seperti itu, tapi tetap saja aku merasa bersalah.


"Kita akan lanjutkan besok pelajarannya, aku harus menghubungi petugas taman akademi untuk memperbaiki ini."


"Ma-master biar aku bantu perbaikannya..." Ujar ku.


"Tidak-tidak, biar mereka saja, kau lakukan saja pekerjaan mu menjaga perpustakaan, ini sudah telat dari waktunya perpustakaan buka, sebaiknya kau segera bersiap-siap." Jelas master, aku mengangguk lalu berjalan kembali ke dalam perpustakaan.


Dominic menepuk tangannya kemudian membukanya dan lingkar sihir muncul di atas telapak tangannya, kemudian sebuah burung merpati juga muncul.


"Aku minta petugas taman untuk datang siang ini setelah istirahat pertama ke perpustakaan, dominic hartmann." Setelah mengatakan itu merpati itu terbang dari tangan dominic.


Pria itu mendengus kemudian ketempat dimana eloise membuang batu permata sihirnya.


Dominic mengambil batu itu dari tanah, batu itu retak parah.


"Sepertinya sudah tidak bisa di gunakan tuan." Ucap achilles.


Dominic hanya mengangguk terdiam sembari menatap batu itu.


"Apa ada masalah tuan?" Tanya achilles.


"Tidak hanya saja, sepertinya aku harus berhati-hati dalam mengajar eloise, sihir yang ia miliki ternyata lebih besar dari dugaanku." Ujar master.


"Sepertinya sihir nya menurun dari orang tua nya." Balas achilles.


Dominic terdiam dan di benaknya terbesit bayangan seorang perempuan bersurai coklat tua dengan manik ruby yang memegang tongkat dan tersenyum.


Dominic kembali mendengus kemudian ia membakar batu permata itu hingga tidak tersisa.


"Achilles aku ingin minta tolong padamu." Ujar dominic, achilles menatap tanya.


"Tolong belikan aku beberapa vocorgi di kota, hehe." Pinta dominic membuat alis achilles bertautan.


"Aku sibuk Achilles sungguh~ hari ini jadwal mengajarku sangat padat, aku tidak punya waktu~ ayolah~" dominic memohon dengan nada pada Achilles.


Hespirvit itu mendengus lelah melihat tuannya memohon.


"Baiklah, berikan uangnya." Dominic tertawa senang, kemudian ia menjentikkan jarinya dan muncul sebuah kantung cukup besar dengan isi koin.


Achilles memeriksa berapa uang dalam koin tersebut.


"Ini sangat banyak, apa jangan-jangan vocorgi yang di beli juga banyak?" Tanya Achilles dengan mengerutkan alis.


"Tidak-tidak." Dominic mengibas tangannya.


"Vocorgi tidak banyak kokk, hanya saja harga nya memang mahal, ini daftar nya." Dominic memberikan secarik kertas pada achilles.


Hespirvit itu mengambilnya dan melihat daftarnya, ada 10 vocorgi yang perlu di beli.


Achilles mendengus lelah,  "baiklah aku pergi sekarang." Ujar achilles kemudian ia melompat tinggi dan pergi ke kota.


"Hati-hati di jalan~" ujar dominic.


Setelah kepergian achilles, dominic berteleportasi ke ruangannya, kemudian pria itu menatap ke arah jam di mejanya.


Masih ada 1 jam lagi sebelum kelas nya di mulai, dominic berjalan ke mejanya dan duduk di bangkunya.


Ia menatap langit-langit ruangan dan menghela nafas.


"Haruskah aku meminta tolong padanya?" Guman dominic.


Dominic mengambil sebuah benda di laci mejanya, benda itu berbentuk seperti bola dengan warna hitam yang di bawahnya di tataki oleh batu permata sebagai penyangga.


"Izolda."


Sebut dominic dan seketika bola tersebut berubah bening dan tampak wajah seorang wanita dengan manik emas dan rambut hijau, serta telinga yang runcing.


"Ada apa kakek?" Respon wanita itu yang di panggil izolda.


"Panggil aku yang benar orang hutan." Dominic membalas ucapan izolda, wanita itu tertawa.


"Lihat siapa yang tidak lihat umur, omong-omong tumben sekali kau menghubungi ku, butuh sesuatu?" Dominic terkekeh mendengarnya.


"Kau berbicara seakan aku ini pria brengsek." 


"Itu kenyataan." Izolda pedas, dominic mendengus.


"Ayolah aku sedang tidak ingin ribut, benar aku butuh sesuatu." Ujar dominic, izolda tertawa pelan.


"Baiklah apa itu?" Tanya wanita itu.


"Aku punya murid dan aku ingin dia belajar di tempat mu, karena disini tidak aman."


"Wah, itu mengejutkan, kau punya murid, tidak masalah jika dia ingin belajar disini, tapi kenapa?" Tanya izolda.


"Sihir nya sedikit berbahaya, jadi lebih baik dia belajar di sana, aku hanya minta waktu dua minggu sisanya dia akan belajar lagi disini, untuk pengendalian nya saja." Jelas dominic.


"Begitu, baiklah silahkan." Balas izolda dengan senyum, dominic membalas nya juga dengan senyum.


"Terima kasih, sebentar lagi aku ada kelas, ku tutup dulu, sampai jumpa lagi."


-


-


-