MY MATE

MY MATE
47



Author Pov


Kesadaran dan kesembuhan Drey karena telah melewati masa jurang kematian karena terkena belati perak yang ditaburi racun Wolfsbene dan serbuk bunga Mortem. Semua rakyat Moon Stone Pack menyambut bahagia saat Alpha mereka telah sembuh.


Begitu pun dengan Ashley yang menangis bahagia saat manik mata biru milik Drey terbuka kembali. Luna Qiandra dan Geigi terharu begitu pun Liena yang melihatnya, sedangkan Alpha Sean sebisa mungkin mencegah air matanya terjatuh.


Wyersa dan Xastel ikut tersenyum memeriahkan kebahagian dipack ini. "Kakak..." Ucap Geigi lirih dan langsung memeluk tubuh Drey yang kini sudah bersandar diatas kepala kasur rumah sakit.


"Kau sudah kembali?" Tanya Drey sambil mengelus rambut Geigi.


"Maafkan aku yang tidak mengetahui kondisi pack ini, aku bodoh terlalu fokus dengan mata kuliahku." Ujar Geigi dengan sesegukkan.


Drey menenangkannya dan berkata. "Tugasmu memang harus rajin belajar Ge, demi masa depanmu. Pack ini adalah tanggung jawabku, maka tak elak jika aku menerima resiko seperti ini."


Geigi hanya terdiam mendengar ucapan kakaknya, memang yang diucapkan oleh kakaknya adalah benar. Tapi jika seperti ini keadaannya akan sangat salah karena Geigi tidak diberitahu oleh keluarganya.


Ashley hanya memandangi pembicaraan sang kakak adik yang tengah melepas rindu, saat tengah memandangi bahunya ditepuk pelan oleh Xastel.


"Tugasku mungkin sudah selesai, Luna. Aku akan pamit dan kembali kerumahku." Kata Xastel maksud berpamitan.


"Kau terburu-buru Misca, kita saja belum menjamu dirimu sebagai tamu kita." Ucap Luna Qiandra.


Xastel hanya tersenyum. "Tugasku sudah selesai sebagai penyembuh, tidak masalah untuk soal menjamu. Aku ada pekerjaan lain disana." Tolak Xastel dengan halus.


"Misca?" Sahut Drey heran. "Bukankah Misca sudah punah dan sulit ditemukan?" Lanjutnya.


"Kau benar Alpha, aku salah satu dari beberapa Misca yang masih bertahan hidup." Ujar Xastel tersenyum manis.


"Terimakasih atas bantuanmu." Ucap tulus Drey.


Xastel menggeleng dan berkata. "Berterima kasihlah kepada Luna Ashley karena dirinya lah yang paling banyak membantu untuk membawa jiwamu kembali."


Perkataan Xastel diangguki oleh Wyersa tanda setuju. "Apa yang dikatakan oleh Xastel benar, Alpha. Luna Ashley lah yang menyelamatkanmu." Ujar Wyersa.


Drey melirik kearah dimana Matenya berdiri disamping Ibunya dan juga Ibu Ashley. Drey menatap begitu lekat, sedangkan Ashley yang ditatap seperti itu tertunduk malu. Mereka yang menyadari situasi antara keduanya tertawa renyah mengisi ruangan.


"Aku ingin pengangkatan Luna sekaligus acara pernikahan kita diadakan 2 hari lagi." Ujar Drey dengan mendadak membuat Ashley sangat terkejut.


Ashley langsung mengangkat kepalanya lalu berkata. "Itu terlalu cepat."


Drey mengangkat sebelah alisnya dengan gaya kedua tangannya dilipat diatas dada. "Bukankah lebih cepat lebih baik?" Ujar Drey.


"Tapi...." Ucapan Ashley terpotong oleh kedua perempuan disampingnya.


"Aku setuju!" Kata Luna Qiandra dan Liena serempak.


"Aku pun!!" Seru Geigi semangat sambil merangkul pundak Ashley dari belakang dengan alis yang terangkat bergantian bermaksud menggoda.


"Jika itu mau kalian, aku akan mempersiapkan semuanya. Ah ya untukmu Wyersa dan Xastel, saya harap kalian bisa datang keacara sakral ini." Ucap Alpha Sean yang diangguki Luna Qiandra, Liena, Geigi dan juga Drey. Ashley hanya diam seperti patung.


Chara tertawa mengejek wajah Ashley yang menegang, namun dengan kesabarannya Ashley tidak membalas cacian untuk Wolfnya tersebut.


"Terimakasih banyak. Jika kalian ingin pulang biarkan Beta Alrick membawa kalian kembali." Ujar Luna Qiandra.


"Tentu saja jika tidak merepotkan." Kata Wyersa.


"Tidak, tentu saja tidak." Ucap Geigi mewakili, akhirnya mereka semua keluar kecuali Drey dan juga Ashley yang masih berada diruangan tersebut.


"Aku ikut!" Ujar Ashley saat Geigi menjadi yang terakhir keluar dari ruangan.


"Astaga, jika kakak ikut siapa yang menjaga kak Drey disini?" Tanya Geigi yang berhasil membuat Ashley bingung harus menjawab apa. "Sudahlah kalian disini saja." Lanjut Geigi sambil menutup pintu tersebut dibarengi dengan suara tawa geli.


Seperti deja vu didalam situasi ini. Kejadian terulang kembali dimana untuk pertama kalinya Ashley ditinggal berdua bersama Drey diruangan ini.


"Apa kau akan berdiri disitu dan mengabaikanku disini, Sweetheart?" Tanya Drey dengan alunan suara yang membuat hati Ashley berdesir.


Dengna tubuh yang kikuk akhirnya Ashley berjalan kearah tempat tidur rumah sakit. "Kau ingin meminum sesuatu atau lapar? Pasti perutmu sangat lapar, aku akan ambilkan makanan." Ujar Ashley dengan tubuh yang siap berputar arah kearah pintu.


Dengan cepat tangan Drey berhasil mencegah tangan Ashley agar tidak pergi. Menariknya hingga tubuh Ashley menabrak dada bidang Drey yang keras. "Aku tidak lapar, aku membutuhkanmu." Kata Drey dengan suara seraknya.


Sesekali Ashley melihat kabut gairah berada dimanik mata Drey, tak luput bola mata berwarna emas terang milik Greyson keluar sekilas. Tubuh Ashley dipeluk begitu erat sampai gadis tersebut kesulitan meminta dilepaskan.


"Lepaskan aku Drey, kau butuh istirahat agar badanmu cepat pulih." Ujar Ashley sambil meronta-ronta minta dilepaskan.


"Kau tidak ingin aku peluk? Kau tidak rindu padaku? Aku saat ini hanya ingin berdua bersamamu, Shey." Ucap Drey bertubi-tubi dan berhasil membuat Ashley berhenti meronta.


"Aku.... Tidak seperti yang kau bayangkan, Drey." Kata Ashley mencoba menyingkirkan rasa kesalah pahaman.


"Jika seperti itu, peluk aku kembali dan jangan sedikit pun meronta." Pinta Drey dengan sedikit memohon.


Jika sudah seperti ini, dengan cara apapun pasti tidak berhasil untuk menolak. Alhasil Ashley hanya pasrah dan balas memeluk tubuh Drey, dilihat jika Ashley menuruti ucapannya membuat Drey bersorak senang didalam hati, begitu pun dengan Greyson wolfnya.


Drey mengelus surai rambut milik Ashley yang begitu dia rindukan, sesekali menghirup aroma shampo rambut yang sering Ashley pakai. Akhirnya Drey melepaskan pelukan tersebut dan membuat Ashley bernafas lega.


Namun disaat Ashley menerima kebebasan sesaat, Drey kembali menangkup wajah Ashley dengan kedua tangan besarnya. Jarak antara wajah mereka semakin Drey tipiskan hingga hidung mereka bersentuhan satu sama lain.


Detak jantung Ashley saat ini sedang tidak teratur. Nafasnya tercekat seperti lupa bagaimana caranya bernafas, Drey yang menegtahui ketegangan Ashley saat ini hanya tersenyum dalam diam.


Tanpa aba-aba Drey langsung mendaratkan bibirnya dibibir Ashley, membuat gadis tersebut melototkan matanya terkejut lalu langsung memejamkan kedua matanya.


Dengan wajah yang tegang Ashley hanya diam. Karena tidak ada respon atau tolakkan dari Ashley, Drey pun pelan-pelan memanggung bibir merah muda alami milik Ashley. Beberapa saat hanya kecupan dan panggutan kecil, namun lama-kelamaan ciuman Drey seperti menuntut lebih.


Kabut gairah menghalangi pikiran Drey karena Wolfnya. Dengan menggigit kecil bibir bawah Ashley membuat gadis tersebut tersentak dan membuka mulutnya. Lidah Drey masuk kedalam mulut Ashley dan semakin intens memperdalam ciumannya, memancing Ashley agar tidak lagi berpikir jernih.


***°TO BE CONTINUE°***


***Up kan ini? hehehe. Akhirnya Drey selamat😻 Btw Drey kok baru sadar malah langsung gitu sih sama Ashley🙈 Btw maap ya kalo kebanyakan typo hehehe. Jangan lupa kasih Like, vote& comment besar²an buat next selanjutnya😘


See you next part🌻***