MY MATE

MY MATE
25



*Author Po**v*


Seorang lelaki tengah menatap nyalang kearah gadis yang tengah mencari sesuatu disekitaran pack itu. Lelaki yang jauh dari jarak perempuan tersebut hanya menggeram marah dibalik pepohonan tinggi.


"Kau harus menerima balasanku atas apa yang orangtuamu lakukan dulu!" Ucap lelaki tersebut dengan banyaknya amarah yang terpendam.


Lelaki tersebut berbalik arah dan berlari meninggalkan Moon Stone Pack dan kembali kepack nya. "Alpha, ini info yang saya dapatkan mengenai anak dari Beta Ananta dan istrinya Lily." Ujar seorang lelaki yang diyakini sebagai tangan kanan kepercayaan lelaki misterius itu.


Lelaki yang dipanggil dengan sebutan Alpha itu meraih berkas yang dikasih oleh Beta-nya. "Kau boleh pergi." Kata lelaki tersebut, Beta itu bernama Nike hanya mengangguk dan menundukkan sedikit badannya sebagai hormat, lalu berjalan keluar dari ruang kerja lelaki tersebut.


Lelaki itu membuka berkas berwana cokelat. Membuka selembar kertas putih berisi riwayat hidup seseorang, matanya meneliti setiap detail tulisan tersebut. Setelah selesai membaca berkas sebuah senyuman sinis tercetak dibibirnya.


"Alpha Sean? Bukankah ini sangat seru? Sekali tembak mendapat dua ekor burung. Tunggu balasan dariku!" Ucapnya penuh peringatan dan tersenyum sinis.


Disisi lain yaitu Moon Stone Pack, Ashley melangkahkan kakinya keruangan pribadi milik Drey. Dia pernah dibawa keruangan ini saat Drey membawa Ashley keliling kepack ini lagi.


Ashley mengetuk pintu sekali, tidak ada jawaban dari dalam. Ketukan pintu kedua Ashley mengetuknya berkali-kali, hingga suara teriakan sekaligus terbukanya pintu tersebut membuat Ashley terlonjak kaget.


"TIDAK USAH MENGGANGGUKU SAAT INI!" Teriak Drey tanpa melihat dengan siapa dia berteriak.


Ashley yang mendapat bentakan dari Drey sedikit terkejut dan merasakan sakit dihatinya. Ashley hanya terdiam, sedangkan Drey mendongakkan kepalanya melihat siapa orang yang mengganggu dirinya.


Saat matanya menangkap sosok Ashley, dia terkejut sekaligus merasa bersalah karena tidak melihat orang yang dia bentak sekeras tadi. Didalam hatinya tersembunyi rasa bersalah berlipat kali dengan kejadian pagi tadi.


"Ashley." Lirih Drey pelan membuat Ashley mendongakkan kepalanya yang tertunduk. Drey menatap manik mata hitam kecokelatan milik Ashley yang sudah berkaca-kaca pertanda air yang menggenang dipelupuk mata akan terjun bebas dipipi mulus Ashley.


"Kau membentakku, Drey." Ucap Ashley pelan, begitu pelan terbawa angin yang berada diluar ruangan.


Seperti dihantam ribuan ton besi hati Drey merasa sangat bersalah kepada Matenya. "Maafkan aku." Kata Drey sambil mencoba meraih tangan Ashley. Namun dengan cepat Ashley menghindarkan tangannya.


Berjalan sedikit mundur dibelakang dan pergi berlari meninggalkan Drey yang masih berada didepan pintu ruangan tersebut. Drey yang mendapatkan perlakuan dari Matenya mengacak frustasi rambutnya, dia berteriak marah.


"Kau sangat-sangat bodoh Drey! Dia Mate kita, mengapa kau membentaknya begitu keras!!" Teriak Grey marah didalam sana melalui Mindlink. Kemarahan Grey membuat kepalanya berdenyut sakit.


"Aku tidak sengaja membentaknya! Kau juga tahu itu!!" Jawab Drey tak kalah marahnya.


"Kejar dia bodoh!! Minta maaf padanya. Sedang apa kau berdiri seperti orang tidak memliki pikiran. Lama-lama aku akan berganti shift juga denganmu!!" Ucap Grey yang diselingi geraman marah.


Drey meringis, mengapa Wolfnya sangat kasar padanya akhir-akhir ini? "Kau tidak usah mengajari seorang Alpha!!" Kata Drey sengit.


"Alpha bodoh yang menyakiti Matenya, huh?" Ujar Grey tertawa meremehkan.


Drey berusaha untuk tidak terpancing emosi oleh Wolfnya sendiri, karenanya Drey lebih memilih memutuskan Mindlink secara sepihak. Dia melangkahkan kakinya mencari keberadaan Ashley dengan mengendus aroma tubuhnya.


Aroma itu semakin kuat saat langkah kaki Drey berada ditaman belakang pack. "Kau rupanya suka sekali datang kesini." Ucap Drey didalam hati. Kakinya mencari sosok Mate-nya yang dia yakini berada disekitaran taman jika dicium dari aroma tubuh matenya.


"Sweetheart?" Panggil Drey dengan nada selembut mungkin. Drey duduk disamping Ashley yang masih membenamkan wajahnya.


"Ashley maafkan aku yang bodoh sudah membentakmu dengan keras tadi." Kata Drey lagi dengan nada sedikit memohon. Ashley mengangkat kepalanya, namun tidak melirik kearah Drey.


Pandangan Ashley menatap kedepan, tangan kanannya mengusap air mata yang membanjiri pipinya. "Untuk apa kau disini? Bukankah kau bilang tidak ingin diganggu olehku?" Ucap Ashley dengan isakan yang masih terdengar.


"Aku tidak bermaksud untuk membentakmu, Mate. Maafkan aku karena aku tidak bisa mengendalikan emosiku saat itu." Ujar Drey sambil memeluk tubuh Ashley dari samping. Tidak ada penolakan dari Ashley, dia hanya diam tak bergeming.


"Sweetheart, kau tidak bisa mendiamiku seperti ini. Aku sangat sakit jika Mateku membenci diriku." Kata Drey lagi dengan menenggelamkan wajahnya diceruk leher Ashley.


Ashley yang mendengar penuturan tulus dari mulut Drey perlahan hatinya mulai meluluh, dia pun tidak tahu mengapa dia gampang luluh oleh bujukan Drey. "Lupakan saja." Ucap Ashley.


Drey mengangkat wajahnya, kedua tangannya berada diwajah Ashley dan mempertemukan wajah mereka. "Apakah kau memaafkanku? Jika iya aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi." Ujar Drey dengan nada memohon yang Ashley tangkap.


"Kau tidak perlu berjanji padaku Drey, semua orang, maksudku semua makhluk hidup dibumi ini tidak usah berkata 'aku berjanji' jika kesalah akan terulang. Cukup jalani dan hindari ucapan itu saja, aku takut janji mu akan teringkari dan membuat hatiku semakin sakit." Ucap Ashley dengan berusaha sekuat tenaga berbicara seperti itu.


"Ya, aku akan melakukannya," kata Drey dengan bersungguh-sungguh. Ashley membalas pelukan Drey yang semakin erat ditubuhnya. "Aku mencintaimu, sangat! Bahkan lebih dari diriku sendiri." Katanya lagi dengan tulus.


"Love you more." Ucap Ashley diselingi senyum saat mengatakan hal tersebut. Sedangkan Drey detak jantungnya berdetak begitu cepat saat Ashley berkata seperti itu.


Sedangkan Grey tertawa melihat Drey seperti sekarang. "Apakah aku boleh berkata sesuatu, Drey?" Tanya Ashley saat pelukan mereka terlepas.


"Tanyakan saja. Aku akan menjawabnya." Ujar Drey sambil menjawil hidung Ashley.


"Nanti malam bulan purnama akan datang, apakah kita akan pergi diperbatasan sungai Emerland?" Tanya Ashley dengan hati-hati.


"Tapi Shey, kau baru saja sembuh. Aku takut tubuhmu menolak dan kau kehabisan tenaga." Jawab Drey dengan nada sedikit khawatir.


"Ini adalah kesempatan untukku dan juga Chara wolfku. Setelah sekian lama aku menunggu kesempatan ini, moon goddess memberikan kesempatan itu sekarang. Apakah aku harus menyia-nyiakan begitu saja?" Kata Ashley berbicara begitu panjang.


Sedangkan Drey tidak langsung menanggapi. Dia berpikir keputusan apa yang harus dia ambil saat ini. "Tunggu saja nanti malam, jika tubuhmu dirasa baik kita akan pergi keperbatasan itu, tapi aku mohon Shey jika kau tidak sanggup jangan paksakan itu." Ucap Drey sambil menatap lekat Ashley.


"Ya, aku akan baik-baik saja. Terimakasih, Drey!!" Ujar Ashley begitu senang dan langsung memeluk kembali Drey secara tiba-tiba. Membuat jantung Drey yang semula sudah membaik kini kembali berdetak keras.


*Inikah yang dinamakan debaran cinta?


**°TO BE CONTINUE°***


***Hai!! Maaf aku up nya terlalu malam, tadinya mau up 2 kali tapi otakku gak bisa mikir heheh. Oke jangan lupa Vote, Like&comment untuk DreyShey🤗


See you next part🌻***