MY MATE

MY MATE
15



Jeyran tersenyum lebar sembari merentangkan kedua tangannya. Tak butuh waktu lama, Sara langsung berhamburan ke pelukan Jeyran, sepupu satu satunya yang ia punya.


"Aku merindukan mu" ungkap Sara.


"Aku juga"balas Jeyran.


Mereka berpelukan lama, hingga Jeyran memutuskan untuk melepaskan pelukan mereka.


Mata hazel Jeyran menatap Sara dari atas hingga kepala. Ia menatap takjub dengan perubahan Sara.


" Apa aku terlihat cantik? "ucap Sara songong.


" Sangat sangat cantik" jawab Jeyran. Ia menjadi tambah yakin dan percaya jika sepupunya ini benar-benar kuat dan tidak akan di tindas lagi.


"Kau terlihat sangat kuat sekarang" ujar Jeyran tersenyum bangga. Berbeda dengan Sara yang menekuk wajahnya lalu duduk kembali di akar kayu.


Jeyran mengerut melihatnya, ia berjalan mendekat pada Sara.


"Ada apa? " tanya Jeyran bingung.


"Aku sangat kuat, siapapun bisa aku kalahkan, tapi semua itu tidak mempan untuk melawan Rava" lirih Sara membuat Jeyran tersenyum.


"Itu sudah kodratnya, karena seorang alpha adalah melindungi matenya, jadi kau harus meminta perlindungan nya. karena itu kekuatan mu lemah di hadapan Rava. Namun kekuatan kalian akan sangat besar jika kalian bekerja sama" jelas Jeyran panjang lebar. Ia tahu banyak soal ramalan dan sejarah kuno karena Jeyran sudah mencari semua tentang asal usul kekuatan yang turun ke darah saudara nya ini.


"Musuh ku hanya Rava" jawab Saran lagi.


"Tapi dia mate mu, dan aku yakin jika kamu tidak bisa menolak pesonanya" ucap Jeyran dengan nada menyindir.


Sara malah menjadi salah tingkah, bayangan Rava menciumnya kembali berputar di benak Sara.


"Aku bisa menebaknya" lanjut Jeyran menebak dari rekasi Sara yang mendadak diam.


"Jangan asal bicara" sangkal Sara, ia berdiri dari duduknya menatap Jeyran yang masih duduk menengadah menatapnya.


"Kau mau kemana? " tanya Jeyran.


"Aku berjanji akan bertemu Luna sebentar lagi" jawab Sara.


Jeyran mengangguk lalu ikut bangkit dari duduknya.


"Aku akan pergi, kau jaga diri mu baik baik. Panggil aku jika seseorang membuat mu terluka" ucap Jeyran dengan nada memperingati.


Sara mengangguk dan tersenyum, Jeyran selalu membuatnya merasa aman dan nyaman. Satu satunya keluarga yang Sara punya saat ini.


Setelah memastikan Jeyran pergi, Sara berjalan cepat membelah hutan menggunakan sedikit kekuatannya agar tiba di pack lebih cepat.


Ketika tiba di packhouse Sara berselisih dengan Rava. Secepat mungkin Sara menghindari agar Rava tidak kembali mengusiknya.


Sara bergegas memasuki kamar Luna Melani yang sebelumnya ia mengetuk pintu terlebih dahulu dan masuk ketika sudah mendengar Luna menyahuti nya.


"Kau terlihat tergesa gesa" ucap Luna melani yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Aku baru saja menghindari serigala jelek" jawab Sara spontan.


Luna Melani mengerut, siapa serigala jelek. Sudah jelas semua yang ada di pack ini adalah Serigala.


"Bukan apa apa" ucap Sara mengalihkan pembicaraan agar Luna tidak memikirkan nya dan mempertanyakan lebih lanjut.


"Ada apa Luna memanggil ku? " tanya Sara memulai pokok pembicaraan yang menjadi tujuannya masuk ke kamar ini.


"Aku ingin kau menikah dengan Rava secepatnya" ucap luna Melani seketika membuat Sara melotot.


"Maaf Luna, bagaiamana mungkin Luna mengatakan itu" ucap Sara sedikit memberikan rasa penolakan, namun jauh di lubuk hatinya Sara merasa menginginkan hal itu.


"Kau Luna pack ini, dan pack kita membutuhkan seorang Luna. " jelas Lena Melani yang kini DM sudah bersiri di depan Sara, ia meraih tangan Sara dan menggenggam erat kedua tangan Sara seola meletakkan begitu banyak harapan.


"Tapi aku.... " ucap Sara terjeda.


"Aku apa?? kau ingin mengatakan jika kau pernah di rejecknya? " tebak Luna.


Sara menunduk, ia tidak tahu harus melakukan apa. Di sisi lain ia masih merasakan sakit dan trauma atas penolakan itu, dan sisi lain ia juga tak bisa memungkiri jika ikatannya dengan Rava sungguh sanaya terasa.


"Aku akan memeikirkannya" jawab Sara membuat Luna Melani tersenyum lebar dan langsung memeluk Sara erat.


Di balik pintu seseorang yang hendak mengetuk pintu kamar Melani mengurungkan niatnya karena mendengar percakapan dari dalam kamar.


Seketika senyumnya mereka mendengar semua percakapan itu. Rava berbalik dan mengurungkan niatnya untuk bertemu sang mama.


Yah, dia adalah Rava sang alpha yang sudah merejeck matenya dan kini malah mulai menggilai matenya sendiri.


"Aku akan menaklukkan mu" gumam Rava penuh tekat.


Sara keluar dari kamar Luna, memasuki kamarnya yang sudah di sediakan di packhouse. Sara sebentar tidak terlalu ingin disini, ia lebih nyaman dengan kamar kecil nya.


Grep..


Seseorang tiba-tiba memeluk Sara dari belakang ketika ia baru saja mengunci pintu.


Deg~


Sara terpaku ketika tubuhnya di balikkan oleh Rava yang langsung menatap nya intens.


"Hai... Mate" sapa Arvie dengan suara beratnya.


Sara tersenyum ketika menyadari itu adalaha Arvie bukan Rava.


"Dia sangat menyukai ku" cibir Arvie pada Rava yang mengerut kesal sekarang. Arvie memaksa mengambil alih tubuhnya ketika ia lengah.


"Aku merindukan mu" lirih Sari. Sara juga membiarkan Sari untuk mengambil alih tubuhnya.


"Aku lebih sangat merindukan mu" jawab Arvie memeluk erat tubuh Sara yang di kuasai oleh Sari.


"Lebay kali" cibir Sara.


"Diam kah, biarkan aku menikmati waktu bersama mate ku" ucap Sari kemudian memutuskan mind link nya secara sepihak, membuat Sara semakin kesal.


Arvie merenggangkan pelukan nya, matanya menatap lekat pada mata hijau muda Sari.


Perlahan mereka tersenyum dan saling mendekatkan wajah. Hingga bibir keduanya saling menempel dan mulai bermain di sana.


Arvie mendorong Sari membentur pintu pelan dan langsung menekan tengkuk Sari agar leluasa dalam memperdalam ciuman mereka.


"Cih,,, " decih Sara dan Rava bersamaan, namun mereka tidak mengetahuinya.


Cukup lama Arvie berciuman dengan Sari hingga merasa paru-paru mereka terasa kosong. Arvie melepaskan pangutannya di bibir Sari.


******* lembut Arvie sangatembuag Sari merasa mabuk, hingga ia tak rela melepaskan nikmatnya ******* itu.


Arvie tersenyum dan beralih mengendus leher Sari dengan penuh nafsu, Sari yang diperlakukan seperti itu hanya diam dan menikmatinya.


Hingga Arvie sudah mengecup hingga menjilati lehernya dan bersiap untuk memberi tandan. Arvie sungguh di kuasai oleh nafsu sekarang, ia sangat ingin secepatnya menandai matanya.


"Tahan Arvie!!! " teriak Rava dari dalam sana, membuat Arvie tersadar dan membuka matanya paksa.


"Jangan gegabah, Mate kita bukan sembarangan" sambung Rava, Arvie membenarkan ucapan Rava. Ia tersenyum miring mengingat Rava sudah mengakui matenya special.


Sari yang sudah memejamkan matanya menikmati cuman Arvie membuka matanya karena Arvie yang tiba-tiba menghentikan kegiatannya.


"Ada apa? " tanya Sari menatap Arvie sayu.


"Aku sedang menguasai diriku agar tidak menerkam mu saat ini juga" ucap Arvie jujur membuat Sari terkekeh pelan.


Cup~


Sari mengecup bibir Arvie singkat kemudian beranjak menuju kamar mandi, meninggal kan Rava yang sudah mengambil alih tubuhnya lagi.


Agar tidak melakukan hal konyol sebelum waktunya, Rava membuka pintu kamar Sara dan berlalu meninggalkan kamar Sara.


Sementara Sari masih mengambil alih tubuh Sara, ia kini berada di kamar mandi berdiri di depan cermin besar.


"Sangat indah" puji Sari mengusap tanda kemerahan yang Arvie ciptakan di area lehernya.


"Indah apanya sih, maling tahu" cibir Sara. Ia sangat maling jika anggota pack lain melihat tangan kissmark itu di lehernya, di tambah lagi mereka tahu jika itu alpha mereka yang melakukannya.