
Sara berusaha keras membuka pintu, namun sekuat apapun usahanya. Pintu itu tetap tidak mau terbuka.
Sara juga menggunakan kekuatan sihirnya untuk menghancurkan mantra Rava.
"Huh. Kenapa kekuatan ku tidak berfungsi!" dengus Sara menghantam pintu dengan tendangan keras.
Sedangkan Rava, dia hanya terkekeh pelan melihat belahan jiwanya mengoceh sendiri di sana.
"Datang lah ke sini mate, Aku ingin berdamai dengan mu. Aku tidak mau kau terus menerus memendam kebencian yang pernah aku lakukan kepada mu!" ucap Rava.
Sara menatap nya tajam. Dengan mudah nya pria itupun mengatakan ingin berdamai dengan dirinya setelah apa yang telah dia lakukan.
"Oke aku tahu, aku terlalu kejam kepada mu selama ini. Tapi, aku juga tidak menginginkan semuanya ini Mate. Aku termakan oleh tipuan demon dan semua penyihir yang ingin menghancurkan klan kita" terang Rava.
Pria tampan itu berdiri di hadapan wanita yang merupakan belahan jiwanya. Menatap lekat wajah yang sangat dia rindukan.
"Apa kau tidak waras? kau sudah mengetahui segalanya, tapi kau masih menyiksa ku. bahkan serigala bodoh mu itu juga!" decak Sara kesal.
"Kok aku yang di maki?" gumam Arvie di dalam sana.
"Diam kau!" dengus Rava.
Sara menepis tangan Rava ketika pria itu hendak merengkuhnya masuk ke dalam pelukan nya.
Rava terus berusaha, meskipun Sara menghindar dia tetap tidak mau kalah.
"Aku sudah mencari mu Mate, aku mengelilingi setiap hutan. Membantai setiap Roque yang menghalangiku. Namun, ketika aku melihat mu bersama dengan Slamor. Membuat bara api di hati ku menggebuh. Kau tidak tahu, dia itu musuh ku, musuh yang telah membuat klan kita salah paham dengan mu dan keluarga mu"
Deg.
Sara terdiam, dia terkejut mengetahui bahwa ratu yang mati di dalam buku itu adalah ratu Slamor.
"Aku mohon Sara, dengarkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membenci mate ku. Tapi, posisi dan situasi lah yang membuat aku tidak bisa berhenti membenci mu. "
"Kau bahkan tetap memerintahkan Warior untuk memburu ku. Padahal kau sudah mengetahui segalanya Rava. Kau tetap ingin melenyapkan aku!!!"
"Kau mencap aku sebagaimana pengkhianat. Kau menyiksaku. !!"
"Apa?" Rava terkejut, dia tidak pernah mengutus siapapun untuk mencari Sara dan memerintahkan pelenyapan.
"Mate, aku tidak pernah melakukan itu. Aku lebih memilih mencari mu sendiri, aku tidak pernah menyuruh siapapun!" jelas Rava.
"Tapi kau menyuruh mereka Rava. Tidak akan ada yang bisa mengurus Warior selain kau!"
Rava terdiam, apa itu sebab nya Sara menyerang Warior waktu itu?
Tapi, siapa yang telah mengutusnya. Mengapa Warior itu berani menggunakan namanya.
"Kenapa diam? apa kau sudah mengingat kesalahan mu sekarang huh?"
Rava menggeleng. "Aku tidak pernah menyuruhnya. Aku malah kaget, saat Warior itu di bawa ke pack dengan mengatakan kau akan membalas ku. melampiaskan amarah pada Warior ku!" balas Rava.
Deg.
"Sara, apa ada seseorang yang mencoba mengadu domba kita?" seru Sari.
"Aku tidak tahu Sari, tapi tetap saja pria ini salah!"
"Tapi Sara, jika di adu domba, tidak ada yang salah di sini!"
"Kau membelanya?" decak Sara kesal!.
"Mate, aku mohon percayalah. Aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Aku hanya emosi karena berpikir ku berkhianat."
Plak!
"Apa kau pikir aku serendah itu? aku tidak akan mudah berkhianat dengan musuh bodoh!"
Rava tersenyum getir, tamparan Sara terasa nikmati di kulit pipinya.
"Aku tidak tahu, jika raja Demon itu adalah musuh. Aku hanya bertemu beberapa kali dengan nya. Tapi, kau malah menyiksaku. Dan lagi, pria yang kau lihat di atas bukit adalah sepupuku. Sisa klan ku yang kau anggap berkhianat!" terang Sara.
"Maafkan aku Mate, aku tidak tahu. Maafkan aku menjadi pasangan yang di takdirkan oleh moon goddess yang bodoh untuk mu!"
Rava berlutut di hadapan Sara, meminta maaf atas semua kebodohan nya. Mulai sekarang, dia tidak akan mempercayai apapun kecuali Mate nya.
"Maafkan aku Mate, maafkan aku..."
Sara juga merasakan, adanya ketulusan di hati Rava.
"Mate.." Suara Rava terdengar parau, seperti nya itu adalah Arvie.
Mendengar itu, Sari langsung mengambil alih tugas tubuh Sara.
"Yes Mate" sahut Sari.
"Setelah Rava meminta maaf, Aku juga akan meminta maaf pada mu" Ujar Arvie.
Beda dengan Rava, Arvie tidak berlutut, namun dia malah memeluk Sari yang juga memeluknya.
"Tidak adil" dengus Rava cemburu di dalam sana.
Memang benar, selama ini Arvie tidak bersalah. Dia hanya menyiksa Sara ketika dia melihat Sara bersama dengan Jeyran.
"Mate, jangan bicara seperti itu. Selama ini kau selalu menerima kami. Hanya manusia itu yang tidak" dengus Sari menyebut Rava.
Arvie terkekeh, dia mengecup singkat bibir Sari.
"Terimakasih sudah memahami ku"
"Tentu" sahut Sari.
Dalam sekejap, mereka berubah menjadi dua serigala besar yang sangat indah.
Mereka saling menyatukan moncong mereka satu sama lain.
Melakukan ritual penyatuan dan versi Serigala.
Sara tidak tahu harus melakukan apa, dia menyerahkan semuanya pada Sari.
Sedangkan Rava, dia berusaha mengambil alih tubuh nya dan kembali ke dalam ujud manusia. Namun, Arvie menahan nya. Dia tidak mau membiarkan penyatuan ini menggunakan versi manusia.
"Biarkan aku yang melakukan nya kali ini Rava" dengus Arvie.
"Huh!" Rava mendengus kesal. Dia tidak bisa berbuat apa apa, selain pasrah merasakan hasrat yang saat ini di rasakan oleh Arvie. Namun, dia hanya bisa diam dan menikmati nya saja.
Di luar sana, semua serigala berlari keluar. Melolong panjang ketika merasakan kekuatan kuat tengah menghampiri mereka.
"Akhirnya" gumam Melani bahagia. Dia memeluk lengan suaminya.
"Seperti nya mereka sudah berdamai"
"Yah, kau benar mate. Mereka sudah berdamai" sahut Melani.
Aurah malam ini sangat berbeda, angin bertiup seakan bersorak dengan riang.
Malvin melakukan hal yang sama, seperti yang telah di ramalkan. Siapa saja yang melakukan penyatuan di saat Alpa dan Luna melakukan penyatuan, maka mereka akan mendapatkan keberuntungan.
"Ahh..."
Sara mendesah pelan, saat merasakan sentuhan halus dari Rava. Mereka telah kembali pada diri mereka masing masing.
Setelah penyatuan Arvie dan Sari selesai, mereka membiarkan Rava dan Sara yang melanjutkan nya.
Rava dengan brutal menerkam Sara. Setiap inci tubuh sara tidak lepas dari jangkauan nya.
"Ahh...Rava.."
"Yea, terus panggil nama ku mate. Malam ini milik kita"
"Rava....Ahh..."
"Yes Mate"
Sara menggeliat tidak karuan, Rava sangat pintar mengendalikan dirinya.
Alpa dan Luna sangat kuat, mereka masih terlihat tangguh meskipun sudah berjam jam melakukan penyatuan.
"Apa kau sudah lelah?"
"Tidak" sahut Sara malu malu.
"Baiklah, akan kita teruskan" ucap Rava kembali memberikan sentuhan yang membuat Sara berteriak keenakan.