
Author Pov
Drey tidak henti-hentinya melakukan ciuman disekitar leher ashley, sesekali membubuhi tanda kiss mark di leher mulus Ashley. Sedangkan gadis tersebut terus menahan desahannya yang ingin keluar dari mulutnya, Drey kembali memanggut bibir Ashley yang sudah membengkak merah karena ulah dirinya.
"Enghh...." suara erangan lolos begitu saja dari mulut Ashley yang sedang sibuk Drey lumati.
Mendengar desahan dari Matenya lantas membuat Drey semakin kalang kabut untuk meminta lebih dari ini.
Bibir Drey tepat berada diceruk pangkal leher dan bahu Ashley, dengan cepat Drey melakukan half transformation lalu mengeluarkan taring dan mulai menancapkan taring tersebut dipangkal leher Ashley dan menembus kulitnya.
Gadis tersebut memekik keras, tangannya dengan refleks mendorong tubuh lelaki itu agar menjauh darinya, namun tubuh Drey yang besar tersebut tidak bergeming sama sekali dan masih dengan posisi yang sama tanpa berubah saat didorong keras oleh Ashley.
Dengan masih menancapkan taring dibahu Ashley, Drey menekan kedua tangan Ashley dan menautkan jari mereka dengan genggaman erat agar Ashley tidak meronta.
Tetesan darah keluar dari sisi leher Ashley karena terluka saat Drey dengan cepat menembuskan taringnya dikulit leher Ashley yang semakin dalam.
Rasa panas teramat sangat menjalar diseluruh tubuh Ashley. Hingga membuat kepala Ashley sedikit sakit dan ketidaksadaran menjemput Ashley. Saat itu juga Drey menarik kembali taring miliknya dari kulit Ashley.
Membersihkan sisa-sisa darah Ashley yang keluar didaerah lehernya. Drey mengangkat wajahnya dan menatap wajah Matenya yang tengah terlelap dengan wajah lelah dan menahan sakitnya, sesekali dia mengecup bagian yang terluka untuk mengucapkan maaf karena dirinya terlalu gegabah.
Seketika itu juga luka yang berada dileher Ashley tertutup kembali dalam hitungan detik, begitu kuatnya sekarang Ashley saat sudah ditandai oleh Matenya. Mata Drey melihat tanda yang dia buat dibagian leher yang tersembunyi.
Ukiran yang dia buat sangat indah, bulan sabit dan kepala serigala yang diatasnya ada mahkota menandakan jika dirinya adalah Queen Luna. Drey tersenyum merasa senang saat ini karena Ashley sudah sepenuhnya milik dia sekarang, walau yang dia lakukan hanya sebagai menandai bukan melakukan seperti yang seharusnya.
Drey mengucapkan ikrar seperti sebuah sumpah pun terucap. "Ashley Stormi, my mate.... you are my mine."
Setelah itu Drey menyusul Matenya kedalam mimpi dengan posisi memeluk erat tubuh Ashley dan menaruh kepalanya diceruk leher gadis itu.
Malam berlalu, pagi pun menyapa. Ashley membuka matanya saat sinar matahari yang masuk lewat celah-celah gorden kaca menusuk indra pengelihatannya.
Ashley melihat lelaki yang semalam sudah menandainya sebagai miliknya, sebuh senyuman tiba-tiba terukir dari bibir Ashley saat mengingat kejadian semalam dengan Drey.
Tangannya bergerak memegang leher yang semalam tertancap gigi taring milik Drey, seingat Ashley saat melakukkannya rasa sakit dan panas yang menjalar keseluruh tubuh tidak dia rasakan lagi hari ini. Apakah kekuatan dirinya dari makhluk Werewolf sudah keluar? Kekuatan bisa menyembuhkan luka sendiri dengan cepat?
Antara rasa bingung dans senang memenuhi hati Ashley, walaupun dalam keadaan seperti itu. Mata Ashley tidak terlepas dari wajah Drey yang masih tertidur pulas. Namun tiba-tiba dia dikejutkan saat Drey membuka kedua matanya.
"Sedang mengagumiku secara diam, huh?" Sahut Drey dengan suara serak khas bangun tidur.
Ashley menegang, dia meyakini dirinya sendiri jika wajahnya saat ini sudah memerah karena malu. Ashley tidak menjawabnya melainkan memalingkan wajahnya dan mengedarkan pandangannya kearah lain.
Drey yang melihat Matenya tengah malu karena kepergok sedang memandangi wajahnya pun tersenyum simpul. "Kau sangat menggemaskan." Ucap Drey lagi sambil menarik tubuh Ashley dan terjatuh diatas tubuhnya.
"Drey, lepaskan aku. Aku ingin mandi." Kata Ashley meronta.
"Kau tidak usah mencari alasan lain Shey, aku bertanya padamu. Apakah kau sering mengagumiku saat aku belum bangun?" Tanya Drey dengan nada penuh percaya dirinya.
"Apakah seorang Alpha harus sepercaya diri itu?" Kata Ashley menaikkan sebelah alisnya.
"Tentu saja, percaya diri, tegas dan berani itu adalah keunggulan seorang Alpha untuk memimpin pack ini." Ujar Drey dengan bangganya.
"Ya, ya, ya terserah dirimu saja. Lepaskan pelukanmu! Aku ingin mandi." Ucap Ashley sambil berusaha melepaskan pelukannya.
"Tidak ada hadiah untukku pagi ini?" Tanya Drey dengan muka masamnya.
"Hadiah apa? Setahuku kau tidak sedang berulang tahun." Kata Ashley polos.
Dengan polos Ashley menggelengkan kepalanya tanda jika dirinya tidak mengerti. "Berikan ciuman selamat pagimu untukku, mulai saat ini dan seterusnya kau harus melakukan hal itu kepadaku." Jelas Drey lagi.
"Apakah harus? Mengapa seperti itu?" Kata Ashley berpura-pura bodoh dan tidak mengerti, sebenarnya dia tengah menguji Drey seberapa sabar dia menghadapi dirinya.
"Terserah padamu!" Ucap Drey kesal lalu melepaskan pelukannya dari Ashley dan membelakangi tubuh Ashley begitu saja.
Astaga sejak kapan Drey memiliki sifat seperti ini? Bukankah itu menggelikan atau menggemaskan? Entahlah, merajuknya Drey membuat Ashley terkekeh geli.
Dia menurunkan tubuhnya dari atas tempat tidur, menghampiri Drey yang tengah kesal dengannya. Dia duduk tepat dipinggir sisi tempat Drey berbaring.
"Kau marah kepadaku?" Tanya Ashley sambil mengelus surai rambut cokelat Drey.
"Tidak." Jawab singkat Drey.
Ashley lagi-lagi terkekeh geli dan itu membuat Drey tersinggung, seperti Ashley tengah mengejeknya. Tanpa aba-aba Ashley mendekatkan wajahnya dan mencium sekilas bibir Drey yang cemberut.
"Selamat pagi!!" Ucap Ashley sambil tersenyum hangat. Membuat Drey yang melihatnya terkejut dan terpana akan senyuman milik Ashley yang walaupun sudah pernah dia lihat, tapi ini sangat berbeda seperti biasanya.
Aura dari tubuh Ashley semakin kuat membuatnya semakin candu untuk menghirup begitu banyak aroma Vanilla bercampur strawbarry tersebut.
"Tidak usah marah seperti itu, kau bukan anak kecil lagi Drey. Aku ingin mandi terlebih dahulu setelah itu dirimu, dan kita akan langsung turun untuk sarapan." Kata Ashley lagi sambil berdiri dari jongkoknya.
Drey menahan tangan Ashley membuat langkah Ashley terhenti. "Terimakasih untuk semalam, aku mencintaimu. Bahkan lebih dari hidupkus sendiri." Ucap Drey begitu tulus keluar dari bibirnya.
Membuat hati Ashley yang mendengarnya tersentuh dan ingin menangis, namun masih bisa dia tahan. "Aku juga mencintaimu." Jawab Ashley dengan senyuman terbaik miliknya.
Drey bangkit dari tidurnya dan memeluk kembali tubuh Ashley dengan gemas sendiri. "Drey lepaskan aku!! Aku tidak bisa bernafas!!" Pekik Ashley sambil memukul bahu Drey dengan kuat.
"Maafkan aku, kau sangat menggemaskan. Jangan salahkan aku jika memelukmu dan ingin meminta lebih dari menandaimu." Ucap Drey dengan nada menggodanya.
"Kau terus saja menggodaku!! Singkirkan tanganmu dari pinggangku, jika seperti ini terus aku tidak akan mandi-mandi!" Kata Ashley.
"Mandi denganku?"
"Tidak! Aku masih ingat caranya mandi sendiri!!" Ucap Ashley lalu melangkah pergi dan masuk kedalam Walk in closet.
Drey hanya tersenyum melihat balik punggung matenya yang kini menghilang dibalik pintu Walk in closet.
"Aku tidak akan menunda waktu lagi untuk mengangkatmu sebagai Luna dan Mateku Shey. Auramu begitu sangat kuat kali ini, aku takut jika para Werewolf mengambil dirimu dariku." Ujar Drey berbicara kepada dirinya sendiri.
"Cinta itu kotak adil disetiap sisinya, cemburu itu segitiga tajam disetiap sisinya. Rindu itu lingkaran, tak berujung." ~ Author
°TO BE CONTINUE°
Hai!! Maaf banget kalo kelanjutan dipart ini gajelas se-gajelas jelasnya😭 Kalo suka jangan lupa vote, like&comment ya🤗😍
See you next part🌻***