MY MATE

MY MATE
18



Sara duduk di pinggir jurang menghadap pada pack yang di sana terdapat seseorang yang sangat ia benci dan juga ia cintai. Sara menatap jauh ke arah pack yang terlihat jelas di matanya menggunakan sedikit kemampuannya.


"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya? " tanya Jeyran yang sedari tadi duduk di samping Sara, dengan setia ia terus menemani Sara yang sejak tadi diam membisu menatap lurus ke depan.


"Hufff" terdengar helaan nafas dari Sara yang terlihat sangat frustasi sekarang. Ia sungguh tidak tahu harus melakukan apapun. Hatinya masih sangat sakit mengetahui semua ini, Sari yang sejak saat itu tidak lagi memunculkan kehadirannya. Sara memaklumi hal itu, karena ia tahu jika Sari merasakan Sakit untuk kesekian kalinya, mereka kembali di sakiti oleh Mate mereka sendiri.


"Aku akan kemabli" ucap Sara tiba-tiba langsung bangkit, membuat Jeyran menatapnya kaget.


"Kau akan kembali ke pack? " tanya Jeyran yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Sara, ia akan melewati semua ini, ia tak akan bersembunyi dari masalah kecil yang sudah biasa menghampirinya.


"Aku akan ikut dengan mu" ucap Jeyran, namun langsung di larang oleh Sara.


"Tidak perlu, aku akan baik baik saja. Ini tidak terlalu besar bagi ku" jawab Sara berbohong, ia sangat sakit, lebih sakit dari pada merasakan siksaan Rava.


"Apa kau yakin? " tanya Jeyran memastikan.


"Yah aku yakin" jawab Sara, lalu bergegas pergi dari sana.


Sekali lesatan Sara tiba di gerbang pack. Para warior yang berjaga di sana langsung menunduk hormat melihat kehadiran calon Luna nya.


Sara tampak acuh pada sikap warior dan penghuni pack lainnya yang takut padanya sekarang.


Aroma ke kayuan yang selalu membuat Sara mabuk asmara dan sulit mengendalikan diri saat aroma itu menyeruak kedalam hidungnya.


"Sial! " umpat Sara kesal, Lalu melesat pergi jauh dari sana, ia tak ingin bertemu dengan Rava sekarang. Hatinya masih sangat sakit jika bertemu dengan Mate sekaligus musuhnya itu.


"Lepas!! " bentak Sara mencoba untuk menghempaskan takan Rava, namun tak kunjung terlepas.


"Aku ingin berbicara dengan mu" ucap Rava dengan nada sedikit memelas.


"Aku tidak punya waktu untuk mendengar kan ucapanmu" balas Sara ketus.


"Tapi kamu harus ikut dengan ku" ucap Rava sedikit memaksa. Warior yang menyaksikan semua itu hanya menunduk takut, tak berani menatap aksi tolak menolak pemimpin mereka.


"Sialan!!! lepaskan aku!! " maki Sara memukul mukul Punggung Rava yang sudah mengangkat tubuhnya keatas bahu. Lalu membawa Sara pergi dari sana.


Blam~


Tubuh Sara terhempas di atas ranjang empuk milik Rava. Alpha yang terkenal sangat kejam itu langsung mengunci pintu dengan kekuatannya agar tak tertembus oleh Sara dan melarikan diri. Rava sangat bersyukur karena kekuatan Sara yang sangat kuat tidak berfungsi pada dirinya yang ditakdirkan sebagai belahan jiwa gadis ini.


"Kau sudah gila!!!! " teriak Sara mencoba membuka pintu yang sudah di mantrai oleh Rava.


"Maafkan aku... " lirih Rava pelan.


"Aku tidak butuh maaf mu!!! lepaskan aku!! " bentak Sara dengan nada dinginnya.


"Aku tidak mau" jawab Rava santai lalu duduk di tepi ranjang.


Sara semakin kesal karena Rava terlihat tak akan melepaskannya, pria itu malah dengan santainya duduk di atas ranjang dengan mata lurus menatap ke arah Sara.