
Sara menutup buku yang sudah sejak kemarin ia baca, Sara paham sekarang mengapa kekuatan nya tidak mempan pada Rava, karena Rava merupakan titik kelemahannya.
Sluss....
Tiba-tiba buku sejarah itu mengeluarkan kepungan asap, lalu menghilang begitu saja bersama asap tersebut.
Sara tak ambil pusing karena Lisa sudah menjelaskan pada nya kemarin. Buku itu akan hilang dengan sendiri tak jika waktunya telah habis
"Apa yang akan kita lakukan? " tanya Sara bingung.
"Aku gak tahu Ra" balas Sari lesu.
Mereka bingung ingin bersikap seperti apa, Rava sudah menoreh luka yang sangat dalam di hati mereka.
Sara memilih bangkit dari ranjangnya lalu berjalan keluar dari kamarnya. Gadis ini berniat ingin ke puncak bukit untuk menemui Jeyran sepupunya.
Ketika melewati gerbang pack seluruh warior menunduk hormat pada Sara, berbeda ketika dulu Sara melewati ink malah mendapatkan cacian yang membuat hatinya Sakit.
"Sara!! " panggil seseorang membuat Sara menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang.
"Ada apa? " tanya Sara ketus melihat Rava yang berlari kecil ke arahnya.
Tak menjawab, Rava malah menarik lengan Sara agar mengikutinya.
"Lepas!!! " bentak Sara menghempaskan cengkraman tangan Rava di lengannya.
Langkah Rava terhenti lalu menatap Sara dengan tatapan datar. Sara sungguh bingung dengan perubahan sikap Matenya. Kadang ia sangat membenci Sara, kadang ia malah terlihat begitu menginginkan Sara.
"Ikut aku! " ucap Rava dingin kembali menarik lengan Sara.
Lagi lagi Sara menghempas kan cengkraman Rava menolak untuk ikut dengannya.
"Aku tidak mau ikut dengan mu! " tolak Sara dengan nada suara dingin, ia berbalik untuk melanjutkan langkahnya, namun tiba-tiba tubuh Sara malah terangkat ke udara, sontak membuat Sara mengalungkan tangannya ke leher Rava
"Dasar alpha bodoh!! turun kan aku!! " teriak Sara meronta ronta agar Rava melepaskannya.
"Aku tak akan melepaskan mu pergi begitu aja!! " jawab Rava tanpa menghentikan langkahnya.
Sara mendengus kesal, ia mulai pasrah mengikuti kemana Rava membawa nya, Sara juga tidak bisa menolak karena melawan Rava sama saja bunuh diri.
"Gadis pintar" puji Rava tersenyum miring.
Deg
Sara baru pertama kali melihat Matenya terseyum di hadapannya, dan lihat Rava tersenyum karena dirinya.
"Sari.... aku gak kuat" lirih Sara berteriak pada Sari dalam hati.
Sara menggigit bibir bawahnya menahan debaran jantung yang sekarang seakan berpacu dengan langkah Rava.
"Semoga dia tidak dengar" batin Sara.
Fyuuu
Sara mengerjap ngerjapkan matanya ketika Rava tiba-tiba meniup wajahnya.
"Kau terpesona dengan ketampanan ku? "Tanya Rava tersenyum miring.
Sara tersadar dari lamunannya, ia mengabaikan ucapan Rava, lalu memilih menatap sekeliling nya. Sara baru menyadari jika mereka telah sampai di sebuah ruangan, dan ia juga sudah di turunkan Rava dari gendongannya.
" Aiss.. sial" umpat Sara kesal karena terpesona melihat senyum Rava malah membuatnya terlihat bodoh sekarang.
"Kenapa kau membawa ku kesini? " tanya Sara dengan nada ketus. Ia beringsut menjauh dari Rava yang duduk di sampingnya dengan jarak yang dekat.
"Jangan jauh jauh dari ku" ucap Rava kembali menarik pinggang Sara agar mendekat pada nya.
"Jangan mengatur ku! " balas Sara tajam membuat Rava menggeram kesal.
"Cepat katakan! mengapa kau membawa ku kesini! " desak Sara.
Rava terdiam sejenak, lalu beranjak mengambil sesuatu dari laci meja yang terletak tak jauh dari mereka duduk.
Rava kembali mendekati Sara dengan membawa sebuah buku, lalu memberikannya pada Sara.
"Buka saja" ucap Rava singkat. Sara menatapnya lalu beralih pada bukit yang memiliki sampul hampir mirip dengan buku sejarah yang ia baca tadi.
"Peperangan??? " gumam Sara tak percaya, Sara membuka lembaran demi lembar buku itu.
Rava mengamati wajah Sara yang terlihat memperlihatkan ekspresi yang berubah ubah. Kadang Sara mengerut, kadang kaget dan juga marah.
Aurah tubuh Sara sudah berubah, Rava dapat merasakan aurah kemarahan disana.
"Apa kau sudah mengerti? " tanya Rava.
Sara yang baru saja menyelesaikan membaca buku itu menoleh dengan tatapan tajam pada Rava.
"Sejak kapan kau mengetahuinya? " tanya Sara dengan nada suara dingin.
"Sejak acara itu" jawab Rava jujur.
"Kau sudah mengetahuinya sejak lama" lirih Sara terlihat menahan sesuatu.
"Tapi sejak itu aku berusaha menca-" ucap Rava berusaha menjelaskan namun terhenti karena Sara sudah memotong nya.
"Dasar bajingan!!!! kau sudah mengetahuinya, lalu mengapa kau malah menyiksa ku!!!!! " teriak Sara histeris, ia sangat marah mengetahui Rava sudah mengetahui kebenaran nya tapi Rava malah membencinya bahkan Rava mengurungnya di penjara bawah tanah.
"Karena... " lagi lagi Sara memotong nya.
"Aku sangat membenci mu!! " teriak Sara kemudian berlari keluar dari ruang kerja Rava.
"Sara!! " panggil Rava namun ia tak beranjak dari poilsisinya. Rava menyadari kesalahannya, tapi ia masih bingung dan belum percaya sepenuhnya dengan Sara karena ia melihat sendiri kedekatan Sara dengan Raja Demon itu.
**
Sementara Sara terus berlari menuju hutan belantara, gerakan cepat Sara tidak membuat siapapun melihat nya.
Bahkan warior yang menjaga Gerbang saja tidak menyadarinya, mereka hanya merasakan tiupan angin yang tidak terlalu kencang.
Sara mendaki Bukit menuju kediaman Jeyran, ia sangat membutuhkan saudaranya itu.
"Sara!! " panggil Jeyran ketika melihat Saran berdiri di depan rumah nya namun tidak memasukinya.
Saran menatap Jeyran nanar, lali memeluk Jeyran dan menumpahkan semua tangisnya di sana.
"Hei, ada apa? " tanya Jeyran kaget.
Saractak menjawab, ia malah terus menangis di dalam pelukan Jeyran yang kini menepuk nepuk punggung nya pelan.
Sementara di pack, Raval malah menghampiri mamanya yang sedang duduk santai di balkon kamarnya.
"Ada apa? " tanya Melani tanpa menoleh pada sang putra.
"Dia marah pada ku" lirih Rava dengan nada putus asa.
Melani mengangkat alisnya lalu menatap Rava bingung, ia tidak tahu siapa yang di maksud oleh putranya.
"Sara.. " lirih Rava lagi.
Bukannya mencari solusi, Melani malah tertawa keras, membuat Rava menatap pada sang mama.
"Jangan menertawakan aku" ucap Rava dengan suara memperingati mamanya, karena ia sedang sedih.
"Apa sekarang kain sedang galau? " tanya Melani yang berusaha menahan tawanya. Ia merasa sangat senang karena anaknya merasakan apa yang dahulu ia takutkan.
"Dia marah padaku, aku memberikannya buku yang pernah papa berikan pada ki" ucap Rava, kini ia sudah duduk di ranjang mamanya, sementara Melani berjalan mendekati sang putra.
"Aku benar bukan? kau menyesali perbuatan mu" ucap Melani mengusap rambut Rava membuat Rava langsung memeluk perut mamanya.
"Aku hanya marah karena saat itu aku mencarinya dan aku melihatnya bersama Slamor, ditambah lagi warior banyak yang terluka dan mengatakan jika itu adalah perbuatan Sara" ungkap Rava panjang lebar.
"Sekarang mama tanya, apa kau percaya jika sara melakukan itu? " tanya Melani menatap mata putranya lekat.
Rava menggeleng, ia benar-benar bingung sekarangmSara sudah sangat membencinya, hatinya juga masih ragu karena masih menduga duga hubungan antara sara dengan Slamor.
"Tanya hati mu, apa yang kamu rasakan. Apa itu benar sara yang melakukannya atau semua itu fitnah" ucap Melani melepaskan dekapan Rava di pelukan nya lalu meninggalkan Rava sendiri di kamarnya agar memikirkan tentang masalahnya sendiri. Melani ingin Rava belajar dadi kesalahannya.