
"Hahahahaha lihat lah sekarang mereka saling membenci" ujar Jesika tertawa puas, merasa begitu bahagia melihat kehancuran Sara.
"Kau tak akan ku biarkan bahagia" tekat Jesika menatap Saran yang kini duduk sendirian di taman belakang pack, sejak kembalinya Sara ke pack ini Jesika selalu memantau gerak gerik Rava dan Sara.
"Keluar lah!! " ucap Sara, ia menyadari jika seseorang tengah memperhatikan nya.
"Insting mu lumayan juga" ucap Jesika keluar dari persembunyian nya, cukup mengejutkan bagi nya di ketahui oleh gadis lemah seperti Sara, Rava saja tak bisa mendeteksi keberadaan nya.
"Aku tahu kau selalu mengikutiku, kali ini aku sedang tak ingin di ikuti" ujar Sara malas, suasana hatinya sungguh sangat buruk saat ini.
"Sombong sekali kau! " balas Jesika namun wanita itu tetap pergi, melawan Sara ketika sudah memiliki kekuatan kuat seperti ini sama saja bunuh diri.
"Ku pikir dia akan menyerang kita" cibir Sari.
"Mana berani, kita kan sudah kuat" sahut Sara sedikit menyombong kan diri.
"Dasar sombong" cibir Sari. Gadis itu hanya tertawa renyah mendengar cibiran dari serigalanya itu.
Sejak bulan purnama itu, tak ada seorang pun yang berani membentuknya, bahkan mereka semua menunduk dan hormat kepadanya.
Perubahan fisik dan juga insting di tubuh Sara membuat hatinya semakin terasa keras. Dendam mulai menguasai dirinya meskipun hanya setengah.
Sara bersusah payah untuk mengendalikan diri ketika haus akan mangsa selalu menguasai dirinya.
Brak!!!
"Aku tak bisa menahannya! " geram Sara, sedari tadi ia sangat ingin berburu.
"Tahan Sar, jika kita mengikuti hawa nafsu itu kita akan semakin gila" sahut Sari mencoba menjernihkan pikiran Sara.
"Kau benar, tapi ini sangat sulit! " balas Sara mengepal tangannya, gejolak di dalam tubuhnya semakin membara.
"Sara" panggil melani. Gadis itu menoleh dan tersenyum pada Melani yang berjalan santai ke arahnya.
"Luna mencariku? "
"Kau sedang mengendalikan dirimu? " tanya Melani mengabaikan pertanyaan Sara. Gadis itu mengerut, bagaimana Melani tahu apa yang sedang ia lakukan saat ini.
"Tentu saja aku tahu, aku lebih dulu hidup darimu" cibir Melani.
"Luna bisa membaca fikiran? " tanya Sara kaget.
"Haha, aku tidak bisa melakukan itu" balas Melani tertawa.
"Lalu? "
"Ekspresi mu yang memberi tahu ku" jelas Melani, sementara Sara mengusap wajahnya.
"Terlihat jelas kah? " tanya Sara nyengir, ia memang gadis yang lucu dan ekspresip. Apapun yang di fikirkan nya akan terlihat jelas di wajahnya.
"Mari aku bantu untuk mengendalikan nya" ajak Melani menarik pergelangan tangan Sara menuju suatu tempat. Gadis itu menurut dan mengikuti kemana Melani membawanya.
"Kenapa Luna membawa ku ke sini? " tanya Sara memperhatikan sekeliling. Terdapat pohon besar dan beberapa Kandang ayam.
"Berburu lah disini" ujar Melani.
"Hei jangan bercanda Luna, aku lebih suka berburu rusa ataupun kambing. Ayam sungguh tak mengenyangkan" balas Sara.
"Coba saja, menangkap ayam lebih menyenangkan dari pada binatangvyang sudah sering kita makan itu" sahut Melani lagi, ia berjalan meninggalkan Sara.
"Hahahaha, Luna ayoo itu di sebelah sana" ucap Sara tertawa keras melihat Melani terjungkal karena melompati akar kayu demi mendapati seekor ayam, jatuh dapat ayam lepas.
"Jangan nyuruh saja, mari kesini " teriak Melani, Sara pun menerima ajak Melani dan turut menangkap ayam ayam yang sudah liar itu, mereka hanya di sediakan kandang untuk berteduh di malam hari.
Sangat bahagia, Sara melupakan sejenak gejolak di dalam tubuhnya, bukan hanya dia Sari pun mulai bisa mengendalikan dirinya akan nafsu buas itu.
"Aku sangat lelah" lirih Sara duduk di salah satu pohon besar, di ikuti oleh Melani.
Mereka sudah menangkap ayam seharian, namun hasilnya nihil, bagaikan terkena sihir, ayam ayam itu sangat sulit untuk di tangkap.
"Aku gak tahu kenapa, ayam itu sulit untuk di gapai" tutur Sara sembari mengatur nafasnya.
"Itu karena kau menangkapnya dengan penuh nafsu" jelas Melani membuat gadis itu menoleh padanya. Sara tak mengerti dengan ucapan sang Luna.
"Jika tidak bernafsu, buat apa kita menangkapnya Luna" balas Sara menggeleng.
"Jika kau bersikap tenang, dan mencoba memperhatikan Ayam itu, pelajari gerak geriknya dan tetap dengan pikiran yang jernih. Jangan terburu-buru namun pasti" jelas Melani. Sara masih tak mengerti, otak nya memutar sedikit lebih cepat mencerna penjelasan sang Luna.
"Coba kau ikuti insting mu, dan tetap tenang jangan tergesa-gesa. " ujar Melani.
Sara pun berdiri dan mencoba mempraktekan apa yang baru saja di katakan sang Luna.
"Jangan terburu-buru, ayam itu pasti jadi milik mu, tenang dan perhatikan gerak geriknya. " titah Melani memantau Sara.
Hub! seekor ayam berhasil di tangkap Sara.
"Kau benar" ujar Sara melemparkan ayam itu pada Melani.
" Nafsu dan emosi hanya akan membuat mu memperlihatkan gerak gerik mu, sehingga musuh sangat mudah untuk menebak apa yang akan kau lakukan. lihat ayam itu mereka berjalan santai ketika kita berdiri tak mengejarnya, jika kita sudah mendekat ia baru lari, karena sudah memperhatikan gerak gerik kita yang tampak jelas di depan musuh. " Jelas Melani panjang lebar, sementara Sara mengangguk paham, kaki ini ia benar-benar mengerti.
"Baiklah, mari pulang!! " ajak Sara semangat. Ia selalu bersemangat jika bersama sang Luna, kerinduan pada sang ibu membuat nya semakin menyayangi Melani.
"Bersihkan kamar ku! " bentak Rava ketika melihat Sara dan mama nya memasuki pack.
Sara yang malas melihat wajah Rava menatapnya acuh, mengabaikan ucapan Rava.
"Hei, kau mengabaikan ucapan Ku!! " teriak Rava kesal.
"Hahahha kau berbicara dan seola mencari perhatian nya" cibir Arvie.
"Tutup mulut mu, mana mungkin aku tertarik dengan nya" bantah Rava.
"Aku tidak mengatakan itu" balas Arvie menggoda Rava.
"Terserah kau saja" balas Rava pasrah kemudian memutuskan Mindlink nya.
"Dasar, alpha bodoh" cibir Arvie.
"Sari, apa kau sudah paham sekarang? " tanya Sara.
"Yah, aku paham sekarang, kita coba abaikan haus akan mangsa itu" sahut Sari.
Mereka semakin kuat dan bisa mengendalikan setiap kekuatan yang mulai keluar dari tubuhnya. Sara, gadis yang telah berubah menjadi kuat itu semakin tak menyukai Rava, entah apa penyebabnya. Berbanding terbalik dengan Rava yang mulai melirik gadis yang sudah sangat berubah itu.
🍀🍀🍀TBC🍀🍀🍀