MY MATE

MY MATE
24



Ashley Pov


"Kau bersihkan dulu badanmu, kau memang jelek jika seperti ini." Ucapku menyuruh Drey yang tidak beranjak dari hadapanku.


"Baiklah, tapi kau harus berjanji untuk menyuapiku!" Kata Drey dengan mata melototnya. Aku memutar bola mataku malas.


"Iya iya. Bulu yang tumbuh disekitar rahangmu juga harus dibersihkan, aku tidak menyukainya!" Ucapku dengan menunjuk wajahnya yang dipenuhi bulu-bulu halus.


Dia mengangguk saja dan berjalan masuk kedalam kamar mandi didalam Walk in closet. Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi padaku waktu itu, yang aku ingat hanya cahaya putih yang berada diatas kepalaku.


Apakah cahaya itu berbahaya hingga membuatku tidak sadarkan diri? Tunggu, bukankah nanti malam bulan purnama akan datang? Apakah itu artinya aku bisa berganti Shift dan melihat wujud Wolfku?


"Chara!! Apakah kau disana?" Tanyaku melalui Mindlink. Tetapi tidak ada jawaban dari Chara, aku cemas.


"Chara!! Chara, kau dimana?!!" Ucapku lagi meneriakinya.


"Kau sangat berisik Shey, kecilkan suaramu. Aku tidak bisa tidur dengan tenang." Sahut Chara yang sedari tadi diteriaki namanya.


"Kau membuatku cemas, wajar saja aku berteriak." Kataku kesal, baru saja berbicara sudah membutku kesal saja.


"Ada apa?" Tanya Chara.


"Hei kau bodoh! Bukankah malam ini bulan purnama besar akan datang? Itu artinya kita bisa berganti Shift Char!!" Ucapku dengan nada yang begitu senang.


"Apakah kau yakin Shey? Kau baru saja sadar dari pingsanmu. Aku tidak bisa memaksamu, aku bisa menunggumu untuk siapkan tenaga." Kata Chara dengan nada tak yakinnya.


"Tidak Char, aku sudah lama menunggu waktu ini. Aku tidak boleh memberi ruang kepada rasa tak percaya diriku mengusaiku lagi Char!" Ujarku mantap dan meyakinkan Chara yang sedikit ragu.


"Aku harap kita akan bisa melakukannya, Shey." Sahut Chara.


"Pastinya." Ucapku dengan yakin. Lalu memutuskan Mindlink. Tepat saat Drey keluar dari Walk in closet dengan wajah yang begitu segar dilihat tidak seperti tadi.


"Kau terlihat begitu baik jika seperti ini." Kataku saat Drey menghampiriku yang duduk diatas kasur namun tidak bersandar diatas kepala kasur lagi. Aku pun bingung, rasa sakit dikepalaku tiba-tiba hilang begitu saja.


"Apakah kau sudah baikkan?" Tanya Drey yang duduk disampingku.


Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Kau serius ingin disuapi?" Tanyaku.


"Apakah wajahku tidak meyakinkan saat mengatakan hal itu?" Tanya balik Drey sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Baiklah, berikan nampan itu padaku." Ucapku, Drey mengambil nampan isi makanannya yang aku yakini sudah lama berada diatas nakas, dilihat dari makananya yang sudah dingin.


"Kau yakin ingin memakan makanan yang sudah dingin ini?" Tanyaku memastikan, Drey hanya mengangguk. Baiklah jika itu yang dia inginkan, aku mulai menyendokkan sesuap nasi dan lauk yang berada diatas piringnya.


Drey memakannya dengan begitu lahap, aku sempat berpikir apakah Drey harus seperti ini saat aku kehilangan kesadaran? Mengapa dia senang sekali menyakiti dirinya sendiri.


"Satu suapan lagi dan ini akan selesai." Ucapku sambil tersenyum, hitung saja sebagai ucapan maafku kepada Drey karena telah membuatnya se-khawatir ini.


"Terima kasih." Ujar Drey dengan senyuman yang mengembang diwajahnya. Aku mengangguk. Saat kami sama-sama terdiam, tanpa aku sadari jarak antara aku dan Drey hanya berjarak 5cm saja.


Astaga bagaimana aku tidak menyadari ini? "Drey? Apa yang kau lakukan? Singkirkan wajahmu dari hadapanku." Kataku dengan sedikit rasa gugup.


Aku terkejut, ciuman Drey awalnya pelan, begitu pelan, pelan, tak lama ciuman itu berubah menjadi kasar dan mendalam. Menggigit bagian bawah bibirku hingga aku tersentak kaget dan menjerit.


"Aww." Aku membuka mulut otomatis dan kesempatan besar untuk Drey memasukkan lidahnya menjelajahi rongga mulutku. Ciumannya semakin lama semakin nafsu, membuatku tak bisa bernafas dan kewalahan mengatasinya.


"Eehmm." Erangku yang membuat Drey semakin semangat melumat bibirku. Drey melepaskan ciumannya, kesempatan untukku menghirup banyak-banyak udara. Begitupun Drey yang nafasnya menderu, namun dia kembali menghujamiku dengan ciuman.


Tidak, kali ini bukan dibibiku! Melainkan dia turun dibawah leherku, mencecapnya dan sesekali meninggalkan jejak menandai kiss mark. Aku mengerang, ada apa denganku? Bukannya menghindarinya tapi mengapa aku seperti.... Menikmatinya? Sialan.


"Dhreeyyy... Sudah! Khau ini kenapa!" Ucapku menahan erangan yang ingin keluar dari mulutku. Drey tidak menanggapinya lagi dan lagi, dia malah semakin turun tepat dibawah dadaku.


Oh astaga apa yang kali ini akan dia lakukan? Tangan kanan Drey bergerak maju untuk menyentuh buah dada Ashley. Namun sebelum itu terjadi Ashley mendorong tubuh Drey dengan kuat sehingga mampu mendorong tubuh Drey menjauh.


"Kau ini kenapa!" Ucapku teriak marah. Drey termangu seperti orang sadar dan tidak sadar.


"Aarrgghhh....." Teriak Drey yang aku dengar seperti teriakan Frustasi. Ada apa dengannya? Apakah aku melakukan hal salah agar Drey tidak menyentuhku lebih jauh sebelum aku bisa berganti shift? Bukankah itu juga perjanjianku dengan Drey.


Aku melihat Drey keluar dengan langkah besar dari kamar setelah teriak. Aku meneriaki namanya namun lagi lagi Drey tidak menanggapinya.


"Apa aku salah menolak hal ini moon goddess?" Tanyaku sambil menatap langit-langit kamar Drey. Tidak, kamar kita berdua. Entahlah mungkin hahaha.


Sekarang masih jam dua siang, aku mencoba untuk keluar dari kamar untuk sekedar meregangkan otot-otot tubuhku yang keram sekaligus mencari keberadaan Drey yang tidak kembali dua jam yang lalu.


Disepanjang jalan mencari Drey, semua Werewolf yang aku temui menundukkan sedikit badannya menghormatiku. Sebenarnya aku merasa risih dan tidak enak, tapi harus bagaimana? Aku hanya menjawabnya dengan senyuman terbaik yang aku punya.


Ditengah aku mencari Drey, rupanya Geigi sudah kembali dari kampus. Jika kalian bertanya darimana aku tahu, jawabannya adalah dari Drey sewaktu aku menyuapinya makan.


"Geigi!" Panggilku sambil melambaikan tangan. Begitupun sebaliknya yang dilakukan Geigi, aku segera menghampirinya.


"Hai kak, kau sudah sembuh rupanya. Kenapa kau ada disini tidak istirahat dikamar?" Tanya Geigi setelah aku berada didepannya.


"Aku sedang mencari Drey, apakah kau melihatnya?" Tanyaku kepada Geigi.


"Tidak, kemana dia? Setahuku dia tidak pernah keluar dari kamar saat kau terbaring lemah. Apa kalian sedang ada masalah?" Ucapnya.


"Hanya masalah kecil. Kalau begitu aku pergi dulu untuk mencarinya lagi." Kataku berpamitan kepada Geigi.


"Baiklah, hati-hati. Jika aku bertemu kak Drey, aku akan mengabarimu." Ujar Geigi, lalu aku pergi dari hadapannya.


Dimana dia? Apakah dia benar-benar marah padaku? Oh astaga Drey kau dimana! Aku terus mencarinya diseluruh pack, hingga satu ruangan yang belum aku cek. Ruangan pribadinya!


 


***°TO BE CONTINUE°


 


Hai aku hari ini up 2 kali karena kemarin aku gk up hehehe. Semoga suka kalo ada typo tegur aja. Jangan lupa vote, like&comment agar DreyShey semakin semangat nyeritainnya.


See you next part🌻***