
Buah yang sangat manis, Sara masih sulit untuk mempercayai nasib nya.
Dengan pelukan hangat dari Rava yang merupakan suaminya, Sara memejamkan mata sangat erat. Menikmati sisa sisa kenikmatan yang baru saja Rava berikan kepada dirinya.
"Apa kamu bahagia?"
"Tentu" sahut Sara dengan anggukan kepala.
Kemudian, mereka sama sama memejamkan mata, dan mulai masuk ke dalam alam mimpi.
"Hidup sangat lah indah" batin Sara sebelum benar benar memasuki alam mimpi.
Di tempat lain, Melani melakukan hal yang sama dengan Johan. Meskipun suaminya tidak memiliki serigalanya lagi, Melani tetap setia menyayangi suaminya.
"Sayang, aku tidak sabar menunggu kelahiran cucu pertamaku" ujar Melani, membuat Johan memutar bola matanya jengah.
"Kenapa begitu" sungut Melani kesal dengan ekspresi wajah suaminya.
"Sayang, mereka baru saja melakukan nya. Bagaimana kau bisa mengharapkan terlalu seperti itu."
"Apa salahnya berharap?" dengus Melani.
"Yaya terserah kau saja"
Cup.
Johan membungkam bibir istri nya, agar tidak mengoceh lagi.
Bukannya menolak, Melani malah membalas semakin dalam lagi.
"Sayang..." Desahnya.
...----------------...
Kehidupan menjadi sangat baik, Bluemoon pack menjadi pack yang sangat kuat. Tidak ada yang berani mengganggu Meraka.
Para sekutu semakin mengikat hubungan baik dengan mereka.
Jesika, dia yang ingin kembali menghancurkan kehidupan sara. Langsung di beri pelajaran oleh sara.
Wanita yang pernah menyicip mate nya. Langsung di beri hukuman, menjadi santapan para serigala yang belum memiliki mate. Mereka bebas melampiaskan kepada Jesika.
"Apa kau yakin hukuman ini pantas?" tanya Lisa.
Mereka tengah melihat Jesika di hantam oleh dua Warior yang baru saja meminum obat kuat.
"Apakah kurang?" sahut Sara tersenyum miring.
Menjadi Luna, membuat dirinya tidak memiliki belas kasihan pada musuhnya.
"CK. Kau sudah menjadi kejam sekarang" decak Lisa.
"Berkat mereka " ujar Sara melenggang pergi.
"Setidaknya itu hal yang bagus" sahut Lisa ikut pergi.
"Ahh...Ah.., Teruss, jangan berhenti" erang Jesika saat para Warior mempermainkan nya.
"Ahahahah.... Kuat juga kamu" seru mereka meremehkan Jesika.
"Tolong jangan berhenti!!!?"
"Ahahahha...."
Mereka kembali menghajar Jesika, entah sudah berapa Warior yang dia layani selama beberapa jam itu.
Di dalam kamarnya, Rava dengan gerakan cepat menarik Sara dan menghempaskan ke atas ranjang.
Blam.
"Akkhh..." Pekik Sara terkejut.
Namun, pekikan nya berubah menjadi ******* saat Rava dengan gesit mencumbui area sensitif nya.
Bersyukur mereka sama sama kuat, jadi merek bisa saling mengimbangi.
Saat Rava akan menanam benih kembali, tiba-tiba Sara mendadak mual.
"Minggir," usir Sara mendorong suaminya hinggap terjatuh kelantai.
Sara berlari ke kamar mandi, memuntahkan lendir putih bening.
"Wueekk... Wueekk"
Mendengar itu, Rava segera bangkit dan menghampiri istri nya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Rava.
"Wueek....."
Sara hanya menggeleng, dan terus muntah muntah. Membuat Rava semakin panik dan khawatir.
"Wueekk...."
Tidak tahan melihatnya, Rava pun langsung berlari keluar dari kamar, dia pergi ke kamar mamanya.
Brak!! Brak!!
"Mama!!" teriak Rava dari luar. Membuat Melani dan Johan yang sedang bersantai terkejut dan berlari keluar.
"Ada apa Rava, kenapa kamu membuat keributan di kamar ku!" hardik Johan kesal karena terganggu.
"Aku tidak ada urusan dengan mantan alpa" ketus Rava yang memang tidak pernah akur dengan papanya. Mereka selalu berperang soal mamanya.
Bersyukur sekarang Rava sudah memiliki mate, jadi Johan tidak perlu merasa khawatir.
"Ah sudah sudah, jangan membuat aku pusing. Rava ada apa kamu ke sini?" lerai Melani mulai jengah dengan tingkah keduanya.
"Mama... Istri ku sejak tadi muntah muntah, aku panik dan khawatir. Ayo kita lihat ma" ajak Rava segera menarik tangan Melani ikut bersama dengan nya.
Sedangkan Johan, dia hanya bisa mendengus kesal. Waktu romantis bersama mate nya hilang karena bocah tengil itu.
Setibanya di kamar, Rava lupa jika Mate nya masih telanjang bulat. Dia dengan segera mengambil selimut dan melilitkan ke tubuh istrinya sebelum mama dan papanya melihat tubuh sexy Sara.
"Sayang, ada apa?" tanya Melani khawatir.
Sara menggeleng pelan, dia merasa tubuhnya sangat lemah. Tidak bertenaga lagi untuk berbicara.
"Ayo Rava, bawa Sara ke tempat tidur" titah Melani.
"Baik ma" balas Rava patuh.
Setelah membaringkan Sara di atas tempat tidur, Melani langsung memakaikan Sara pakaian. Lalu menyuruh Rava memanggil dokter.
"Semoga apa yang mama harapkan benar" gumam Melani penuh harap.
"Ma, tenang. Biarkan Dokter yang memastikan" sahut Johan. Dia tidak mau istri nya kecewa karena tidak sesuai dengan harapannya.
Rava kembali, membawa dokter pack ke kamarnya.
"Luna, Alpa" hormat dokter pada Melani dan Johan.
"Ayo cepat, periksa menantuku"
"Baik Luna"
Dokter pun meminta ijin pada Rava untuk segera memeriksa Sara.
Rava langsung mengangguk agar dokter bergerak cepat tanpa mengeluarkan suara.
"Pastikan istri ku baik baik saja" seru Arvie.
"Cih" decak Johan mengejek putranya yang terlalu berlebihan.