
Author Pov
Sihir demi sihir Ashley keluarkan dan berhasil membuat hampir semua anggota Pearl Moon Pack tewas terjatuh kedalam lubang yang cukup dalam, sedangkan para Warrior Moon Stone Pack berhasil lari menghindar dari tanah yang terbelah tersebut.
Sedangkan Drey, Traffic dan Beta Alrick menatapnya seperti orang bodoh saat Ashley bergerak maju melawan tanpa menyentuh fisik. Wyersa lambat laun menghilangkan perisai yang melindungi Ashley, begitupun dengan Ashley yang sudah meredakan sihirnya.
Mereka berdua berbalik menatap Drey, Traffic, Beta Alrick dan juga, oh ada Drake dibelakang Traffic dengan mulut yang terbuka mengagumi kehebatan Ashley.
"Wow nona, aku tidak menyangka Ayahku menculik orang yang salah. Bahkan aku anaknya sendiri belum pernah melihat Ayah mempunyai sihir seperti dirimu." Puji Drake kepada Ashley dan sedikit menyindir Ayahnya.
Traffic melotot kearah anaknya yang sifatnya masih kekanakan namun usianya sudah sangat dewasa. Sedangkan Drey dia menatap marah kepada Drake karena telah memuji Matenya.
"Tutup mulutmu, nak!" Tegas Traffic kepada sang anak.
"Ah ya, tentu saja Ayah." Ucap Drake tanpa melawan. Dia tahu jika dirinya melawan maka Ayahnya tanpa segan menghukum dirinya.
"Bagus sekali nona Ashley, kau menunjukkan kemampuanmu yang sebelumnya tak pernah kuduga." Kata Traffic sambil sedikit mengangkat bibirnya sinis. Melangkah mendekati Ashley, namun Drey lebih cepat berlari kearah Ashley dan melindunginya didepan.
"Selangkah kau maju mendekati Ashley, aku bersumpah akan menghabisimu malam ini juga!" Ancam Drey kepada Traffic.
Traffic hanya terkekeh pelan. "Benarkah seperti itu?" Ujar Traffic meremehkan.
"Kau!!!" Saat Drey ingin menyerang Traffic, kedua tangannya dicekal oleh Ashley dan juga Wyersa. Sedangkan Beta Alrick dan Warrior yang tersisa bersiap menyerang kapan saja dan menghancurkan pack tersebut.
"Jangan gegabah Alpha, saya membaca apa yang akan dia lakukan." Bisik Wyersa pelan. Semula Drey yang menahan emosi dan dadanya turun naik, sekarang sedikit merileks kan tubuhnya.
Drey menatap Ashley, sedangkan Ashley hanya tersenyum dan mengangguk sambil mengusap dada Drey agar menuruti apa yang Wyersa katakan.
"Oh rupanya diam-diam kalian tengah menyusun strategi? Sangat hebat menyusun disituasi seperti ini." Ucap Traffic, sedangkan Drake melangkah maju mendekati Ayahnya.
"Apa kau tidak bosan memperbanyak musuh, Ayah?" Tanya Drake kesal kepada sifat Ayahnya.
"Aku tidak memperbanyak musuh bodoh! Ini adalah balasan dendamku yang sudah aku pendam selama 14 tahun terakhir. Apa aku harus melepaskan mereka begitu saja? Jangan menjadi bodoh seperti ibumu yang baik kepada siapapun!" Ujar Traffic berdebat dengan Anaknya.
"AYAH!! Jangan pernah bawa nama Ibu yang tidak bersalah atas apapun! Dia meninggal juga karena kebodohan dari Ayah karena menjadikan Ibu sebagai tumbal agar mendapatkan lebih banyak sihir hitam yang tidak berguna!!" Teriak Drake murka.
Ashley yang mendengar hal itu entah kenapa hatinya tiba-tiba tercenung. Apakah Ibu dari Drake sudah meninggal? Pantas saja saat berbicara mengenai Ibunya ada siratan kerinduan dan juga kasih sayang dimata Drake.
"Kau bilang ilmuku tidak berguna?" Kata Traffic tak kalah murkanya. Sedetik kemudian Traffic menyalangkan sihirnya kearah sang anak yang berhasil membuatnya terlempar jauh.
"Dasar bodoh!" Katanya lagi setelah melempar tubuh anaknya sampai menabrak pohon tinggi.
Sedangkan Drey, Ashley, Wyersa, Beta Alrick dan semuanya menonton seperti pertujukkan drama.
"Apa kita disini untuk melihat sepasang anak dan ayah bertengkar?" Sahut Ashley membuka mulutnya.
Traffic menatap nyalang Ashley. "Akanku balaskan dendamku karena sebuah kesalahan dari orangtuamu!" Ucap Traffic.
"Benarkah seperti itu, Traffic?" Tanya Ashley menantang. Sebenarnya ada sedikit rasa takut didalam hati Ashley, karena ini strategi yang diberikan Wyersa Ashley hanya menurut saja untuk memancing emosi Traffic.
Benar saja, Traffic terpancing emosi dan langsung mengeluarkan sihir hitamnya. Namun dengan gesit Ashley menghindar dan menarik Drey, sedangkan Wyersa membuat sihir tersebut lenyap.
"Aku Traffic Epilious, menantangmu Ashley Stormi untuk bertarung denganku!!" Ucap Traffic dengan nada yang begitu keras.
"Tidak! Jika kau ingin bertarung, lawan saja aku!" Tolak Drey cepat saat Traffic berkata seperti itu.
"Ini sangat bahaya, Ashley!" Ucap Drey dan Wyersa bersamaan.
"Tenang saja, aku bisa melakukannya." Kata Ashley dengan senyum menenangkan.
Traffic tersenyum meremehkan saat Ashley menyanggupi ucapannya. Sekarang mereka berdua memilih tempat sedikit jauh dari jangkauan mereka karena ditakutkan akan menyakiti yang lain.
"Aku akui keberanianmu, Nona." Ucap Traffic.
"Tidak usah basa-basi seperti itu!" Kata Ashley geram, bulan sabit yang berada dikeningnya tiba-tiba memancarkan cahaya. Ashley memejamkan mata, lalu membuka kembali dan menatap nyalang Traffic.
Begitupun dengan Traffic, tanpa menunggu waktu lama sihir mereka terus dikeluarkan. Hingga tanpa diduga Ashley berteriak keras dan menambahkan kekuatannya menjadi besar dan berhasil membuat Traffic terpental jauh.
Drey dan Wyersa yang menyaksinya menatap kagum sekaligus terkejut dengan kekuatan yang dimiliki Ashley. "Ini adalah Luna Ashley yang sesungguhnya." Kata Wyersa sambil terus menatap didepan.
Sedangkan Drey terus mencerna ucapan Wyersa barusan. Traffic menggeram marah saat tubuhnya dihempas kencang oleh kekutaan Ashley. Dengan sekuat tenang, lelaku tersebut berjalan menghampiri Ashley.
Tangannya merogoh sesuatu dibalik punggungnya yang tersembunyi. Ashley menatap apa yang dikelurkan oleh Traffic disaku celana belakangnya. Begitu pun dengan Mereka yang menatapnya.
Itu adalah pistol dengan peluru perak! Yang bisa saja membunuh dalam seketika jika mengenai tubuh seorang Werewolf. Dan kemungkinan besar tidak ada yang berhasil selamat. Traffic mencodongkan pistol tersebut kearah Ashley yang menatapnya terkejut, bisa saja Traffic melepas tembakan kearahnya dan mati dalam persekian detik.
Dorrr!!
Peluru tersebut Traffic lepaskan kearah Ashley yang masih berdiri kaku.
"ASHLEY!!" Teriak Drey dengan keras saat mendengar suara pistol dilepaskan. Tubuhnya seketika lemas, berpikir jika tidak ada harapan hidup kali ini.
Saat peluru silver tersebut mengarah kepadanya, Ashley langsung memejamkan mata dan menanti entah itu kapan Moon Goddess akan menjemputnya dan meninggalkan Moon Stone Pack dan juga Drey Matenya.
Namun setelah menunggu beberapa menit tubuhnya tidak merasakan apapun. Rasanya biasa saja, apa tubuhnya sudah mati rasa? Apa sekarang dirinya sudah tidak ada? Benarkah seperti itu.
Saat perlahan Ashley dengan berani membuka matanya melihat situasi, dia menemukan diri Traffic tergeletak diatas tanah. Ada apa ini? Bukankah dia tertembak? Matanya dan tangannya merapa setiap inci tubuhnya, tidak ada luka maupun darah sama sekali.
"Ashley!! Kau baik-baik saja?" Tanya Drey berlari kearahnya.
"Ada apa? Apa aku tidak terluka? Aku tidak jadi pergi?" Tanya Ashley dengan beruntut.
"Kau baik-baik saja, tentu! Kau harus baik-baik saja." Ucap Drey dengan senang sambil memeluk erat tubuh Ashley.
"Siapa yang menyelamatkanku?" Tanya Ashley lagi.
"Perempuan itu..." Kata Wyersa sambil menunjuk kearah perempuan betudung sambil menatap kearah Traffic yang sudah tergeletak diatas tanah, entah sudah meninggal atau belum.
Ashley mengikuti arah telunjuk Wyersa dan menatap lekat tubuh perempuan yang menyelamatkannya. Tiba-tiba perempuan tersebut berbalik dan membuka tudung jubah yang menutup wajahnya.
"Mama..." Lirih Ashley begitu pelan saat mengetahui wajah yang tidak asing dipikirannya.
***°TO BE CONTINUE°
Hayoloh katanya ibu dari Ashley udah meninggal dalam perang, loh kok muncul? Yeay kalo mau tau kelanjutannya. Jangan lupa kasih like, vote&comment😘🤗
See you next part🌻***