
Jam dinding menunjukkan pukul 17.00.
Ken pun sudah berada di ruangan David untuk mengajaknya pulang bersama.
"Dav, gue nebeng Lo ya." Pinta Ken cengengesan.
"Mobil Lo kemana?" Tanya David menaikkan alisnya sebelah.
"Tadi pagi ban mobil gue kempes pas otw ke kantor. Jadi gue bawa aja ke bengkel. Gak apa-apa kan gue nebeng lo? sampai bengkel doang kok. Lagian kita searah kan?!" Pinta Ken memegang lengan David dan memasang wajah memelas.
"Iya..iya. Lepasin tangan gue. Jijik tau gak." Perintah David dengan ekspresi jijik.
"Kyakkk. Makasih Dav." Teriak Ken kegirangan.
Mereka pun turun ke lantai 1 dan berjalan menuju parkiran. Mereka masuk ke mobil, lalu David menyetir dengan kecepatan sedang.
Di tengah jalan, Ken tiba-tiba teringat sesuatu...
"Dav, Menurut Lo Clary gimana?" Tanya Ken melirik ke arah David.
"Clary? sekretaris gue? kenapa emang?" Tanya David tetap fokus menyetir.
"Lo ngerasa gak kalau dia beda?" Ken menggenggam tangan di belakang kepalanya.
"Gak." Jawab David singkat.
"Yaelah. Menurut gue ya, dia itu beda. Dia cewek yang ceria, pintar, rajin, telaten, terus cantik lagi. Dan juga, dia diidolain banyak staff cowok di kantor. Dan Lo tau gak? yang paling bedain dia sama kebanyakan cewek itu karena dia orangnya gak caper. Terus cuek-cuek aja sama gombalan orang-orang yang ngejar dia." Puji Ken panjang lebar.
"Lo sebegitu kurang kerjaannya kah sampai bisa merhatiin urusan orang lain? Atau jangan-jangan Lo suka sama dia?" Tanya David menoleh ke Ken.
"Bukan gitu. Gue cuma kagum aja sama dia." Ucap Ken mencoba menjelaskan.
"Ah..udah. Sana turun, Udah sampai!" Usir David.
"Oh, makasih ya Dav." Ucap Ken senyum lalu turun dari mobil.
David pun kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah orang tuanya.
David sampai pada pukul 19.00 karena jarak rumah orang tuanya lumayan jauh dari kantornya.
Pip
Pip
"Eh, Den David. Tunggu Den." Ucap Mang Tino (Security) sambil membukakan pagar lebar-lebar untuk David.
David pun memarkirkan mobilnya di depan rumah mewah orang tuanya yang bertingkat 3. David mengetuk pintu rumah.
"Tunggu." Ucap Elena membuka pintu.
"Lian.. akhirnya kamu datang, nak. Mami sama Papi kangen banget sama kamu." Seru Elena lalu memeluk anaknya.
"Iya, Mi. David juga kangen sama Mami dan Papi." Ucap David sambil membalas pelukan Maminya.
"Ayo masuk. Jangan cuma berdiri di pintu." Ajak Jason, ayah David.
"Iya, Pi."
Mereka pun masuk ke dalam rumah.
David duduk di sofa bersama papinya.
"Lian, kamu duduk dulu ya. Mami siapin makanan dulu. Kita makan malam sama-sama." Pinta Elena tersenyum lalu menuju ke dapur.
Di meja makan...
"Lian, gimana kerjaan kamu?" Tanya Jason sambil mengunyah makanannya.
"Semuanya baik, Pi." Jawab David.
"Terus kapan kamu rencana buat menikah?"
Uhuk
Uhuk
David langsung mengambil air yang ada di depannya.
David terkejut mendengar kata menikah dari Papinya.
"Menikah?" batin David.
"Umur kamu udah mateng buat membangun keluarga, Lian. Umur Papi dan Mami juga udah tua, Papi pengen banget liat cucu Papi sebelum Papi pergi." Lanjut jason yang memasang wajah sedih.
Bersambung...
Jangan lupa dukungannya dengan Like and Vote sebanyak-banyaknya Ya Guys😁😁😁