My Lovely CEO

My Lovely CEO
Temani Aku Makan!



"Satu lagi. Jangan pernah membicarakan masalah perceraian lagi." Perintah David yang diangguki Clary.


Clary pun membereskan meja makan dan membawa piring-piring bekas makan ke dapur.


Setelah itu, Clary menghampiri David yang berdiri di depan cermin untuk memasang Dasinya. Ia pun mengambil alih untuk memasang dasi David lalu mengancingkan lengan kemejanya.


"Mulai sekarang Kau harus belajar membiasakan diri. Jangan pernah memikirkan masalah perceraian. Mungkin kita memang dijodohkan. Namun tanpa perjodohanpun, Kau akan tetap menikah denganku." Ucap David di sela-sela aktivitas Clary.


Clary mengangkat kepalanya menatap wajah David dengan tatapan penuh pertanyaan. Namun David hanya membalas tatapan Clary tanpa memberikan penjelasan padanya.


"Apa maksudnya ini?" Gumam Clary dalam hati masih dipenuhi pertanyaan tentang ucapan David barusan. Namun Ia mengubur rasa penasarannya karena tersadar jika Ia melanjutkan untuk bertanya apa maksud David, Ia pasti akan terlambat ke kantor.


***


Windy terlihat sedang menunggu taxi di pinggir jalan. Sudah hampir sekitar 30 menit Ia menunggu taxi, namun tak juga ada yang datang.


Windy pun akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki ke kantor. Namun saat Ia baru saja hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba ada sebuah mobil Porsche Cayman berwarna putih berhenti tepat di depannya. Saat pengemudi membuka kaca mobilnya, betapa terkejutnya Windy dengan apa yang dilihatnya.


"Ken?!" Batin Windy


Ya, Ken menjulurkan sedikit kepalanya dari dalam mobil lalu tersenyum manis pada Windy. Bayangkan saja bagaimana perasaan kalian jika orang yang kalian suka tersenyum manis pada kalian. Begitulah yang kini dirasakan oleh Windy.


"Ayo masuk." Ajak Ken pada Windy.


Windy masih tak berpindah dari tempat berpijaknya.


"Hey.." Ucap Ken menyadarkan Windy.


Karena mengingat waktunya tinggal sedikit, Windy pun langsung masuk ke mobil Ken.


Saat Windy selesai memasang seatbelt, Ken langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.


Diperjalan teras sangat hening tanpa sepatah kata sedikitpun dari kedua orang tersebyt sebelum Ken membuka suara terlebih dahulu.


"Kau ingin ke Kantor kan?" Tanya Ken melirik sekilas ke arah Windy lalu kembali fokus ada setirnya.


"Iya. Anda sebenarnya tidak perlu mengantar Saya. Apalagi arah kantor Bapak dan Saya berlawanan." Jawab Windy merasa tidak enak pada Ken.


"Haha..Tidak masalah. Aku juga ada urusan di kantormu." Jelas Ken memperlihatkan kembali senyum manisnya pada Windy. Ken, apa kau tau? Senyummu bisa saja membuat Windy diabetes saking manisnya.


"Dan jangan terlalu formal padaku. Santai saja." Jawab Ken santai melirik Windy sekilas kembali tersenyum manis.


Sekitar 7 menit perjalanan, mereka sampai di kantor dan bergegas mengerjakan urusan masing-masing setelah Windy mengucapkan terima kasih.


"Huh... akhirnya sampai juga. Bisa mati aku kalau lebih lama lagi bersamanya. Jantungku serasa mau copot." Gerutu Windy lega lalu melangkah menjauh dari Ken sambil mengusap dadanya tanpa menoleh.


***


David fokus pada dokumen di atas mejanya. Aktivitasnya terhenti saat memegang salah satu dokumen yang akan Ia tanda tangani.


David pun memanggil Clary melalui Calling System. Semenit kemudian, terdengar ketukan pintu dari luar dan David pun memberikan izin untuk masuk.


Clary melangkah mendekati David lalu menunduk hormat.


"Ada yang bisa Saya bantu, Pak?" Tawar Clary.


"Bagaimana penandatanganan kontrak dengan pihak London? Apa jadwalnya sudah ditentukan?" Tanya David.


"Iya, Pak. Waktunya 2 hari lagi. Saya sudah menyiapkan dokumen yang diperlukan dan juga Saya telah mengkonfirmasinya dengan Manager Ken." Jawab Clary tersenyum.


David hanya mengangguk mengerti tanpa menatal Clary dan malah fokus pada dokumen di tangannya.


"Kalau begitu, Saya permisi, Pak." Pamit Clary menunduk hormat lalu berbalik melangkahkan kakinya untuk keluar.


"Jam berapa sekarang?" Pertanyaan David seketika menghentikan langkah Clary dan membuatnya segera membalikkan badannya.


"Jam 11.57, Pak. 2 menit lagi jam makan siang. Apa Bapak butuh sesuatu untuk makan siang?" Perhatian Clary selayaknya sekretaris.


"Temani Aku makan!" Perintah David mengalihkan pandangannya pada Clary.


Clary hanya mengangguk mendengar ucapan David meskipun kini Ia merasa aneh. Dia memang sudah sering makan siang bersama David jika ada hal yang mendesak. Namun kali ini beda, pertama kalinya Ia akan makan siang dengan David dengan status sekretaris sekaligus istri.


Bersambung...


***Like, beri Kritik & saran, dan juga di share ya, Guys.


Dan jangan lupa vote nya dong😢😢


Terima kasih***:)