My Lovely CEO

My Lovely CEO
Mimpi Buruk



15 menit kemudian, Clary keluar dari kamar mandi memakai piyama tidurnya yang couple dengan piyama David.


Clary melihat David telah duduk selonjoran dan bersandar di kepala ranjang. Clary mendekat dan naik ke ranjang ikut duduk selonjoran di samping David.


Clary terdiam menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan. Clary menghela nafa panjang lalu menghembuskannya dan memulai pembicaraan.


"Pak." Ucap Clary melihat David yang sibuk dengan laptop di pangkuannya.


"Hmm." Jawab David tanpa menoleh.


"Saya ingin membicarakan sesuatu." Clary to the point.


"Bicara saja." David masih fokus pada laptopnya.


"Apa Bapak akan melanjutkan semua ini?" Tanya Clary memiringkan sedikit kepalanya untuk melihat lebih jelas wajah David.


David yang mendengar pertanyaan Clary langsung mengalihkan fokusnya pada Clary.


"Apa maksudmu?" Tanya David menatap Clary.


"Apa Bapak akan tetap melanjutkan pernikahan kita? Apa Bapak tidak ada pikiran untuk bercerai?" Tanya Clary polos.


"Apa kau ingin bercerai?" Tanya David balik menatap lekat wajah istrinya.


Jujur saja, saat ini mood David seakan langsung buruk saat mendengar kata cerai dari David.


"Sebenarnya Saya hanya ingin menikah sekali seumur hidup dengan orang yang Saya cintai. Sedangkan kita, kita menikah karena paksaan akibat salah paham. Dan juga, kita tidak saling mencintai." Jawab Clary santai.


"Kalau begitu, mulai sekarang Kau harus belajar mencintaiku. Aku juga tidak ingin menikah sampai 2 atau 3 kali." Jawab David lalu kembali fokus pada laptopnya.


"Lalu bagaimana dengan Bapak? Apa Bapak mencintai Saya?" Clary bertanya dengan polosnya membuat David langsung menghentikan pekerjaannya dan meletakkan laptopnya di atas nakas.


"Tidurlah. Kau banyak bicara sekali." Perintah David menarik selimut dan berbaring di samping Clary.


"Tapi Bapak belum menjawab pertanyaan Saya." Desak Clary namun tak membuat David bergeming dan malah memejamkan matanya untuk tidur.


Clary hanya cemberut tak mendapat respond dari David.


"Dia tidak menjawabku. Benar juga, mana mungkin dia akan jatuh cinta padaku. Apa aku akan menghabiskan seluruh hidupku dengan orang yang tidak mencintaiku dan tidak kucintai? Tidak? Ya, tidak untuk saat ini. Huft..." Batin Clary sendu lalu ikut brbaring membelakangi David.


Pukul 02.00 dini hari


"Tidak. Tidak. Jangan. Jangan. Kakak. Kumohon jangan.."


Clary berbalik menatap David yang kini bercucuran keringat bergumam sambil memejamkan matanya.


"Hmm? Ada dengannya? Dia mengigau? Dia mengigau sampai menangis. Apakah dia mimpi buruk?" Gumam Clary.


Clary pun mencoba membangunkan membangunkan David yang masih bergumam sambil memejamkan matanya.


"Pak, Pak David. Bangun Pak!" Pinta Clary menepuk-tepuk bahu David.


"Kakak. Kumohon jangan. Kakak. Kakaakkkk." Teriak David langsung terbangun daru tidurnya membuat Clary terkejut.


"Ada apa? Apa Bapak mimpi buruk?" Tanya Clary memperhatikan wajah David yang terlihat gusar.


David hanya terdiam mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal.


"Apa Bapak tidak apa-apa?" Tanya Clary lagi memastikan.


David hanya menggelangkan kepalanya lalu memeluk erat Clary membuat Clary terkejut kebingungan.


"A-apa yang Bapak lakukan?" Tanya Clary mencoba melepas pelukan David yang sangat erat.


"Sebentar saja. Biarkan seperti ini." Pinta David memejamkan matanya lalu menenggelamkan kepalanya di bahu istrinya.


Clary tiba-tiba melunak dengan perkataan David. Ia tak ingin menolak karena melihat David yang sangat gusar sampai memeluknya dengan hangat.


"Sekarang sudah jam 2 pagi. Tidurlah." Clary membalas pelukan David dan menepuk-nepuk punggungnya dengan rasa iba.


Clary berniat melepaskan pelukan David, namun sayang tangan David kembali mengeratkan pelukannya dan malah membaringkan tubuhnya dengan kepalanya disandarkan di dada bagian atas Clary.


Clary pun tak mencoba melepasnya lagi karena rasa kantuknya juga sudah tak tertahankan. Akhirnya, mereka tidur berpelukan sampai pagi.


Bersambung...


***Jangan pelit Vote nya dong Guys😢


Like, Komen, dan Vote nya dibanyakin doongg😢😢***