
entari pagi menampakkan sinar cerahnya menyinari dua insan yang kini masih tertidur lelap.
Apa ini? semalam David yang memeluk Clary dengan erat, tapi kini malah terlihat Clary yang memeluk David dan menjadikan dada David sebagai bantalnya.
David terbangun mendengar jam walker terus berbunyi di nakas. Ia pun menjangkau jam walker tersebut dan mematikannya kemudian memperhatikan Clary yang kini memeluknya.
David menyibakkan anak rambut Clary yang menutupi sebagian wajahnya. Ia menatap lekat wajah istrinya tersebut lalu tersenyum.
David mengusap lembut wajah Clary dengan telapak tangannya lalu perlahan mengecup kening Clary dengan sayang.
"Bangun. Sudah pagi. Apa kau sebahagia itu bisa memelukku? Hmm?" Bisik David di telinga Clary.
Clary mengerjapkan matanya saat merasakan nafas David telingannya.
Wajahnya seketika merona saat menyadari bahwa posisinya kini memeluk David dan bahkan wajah mereka saat ini hanya terpaut beberapa senti. David tersenyum melihat wajah Clary yang bersemu merah. Ia sangat tau kalau istrinya pasti sangat malu, namun itu malah membuat David tambah ingin menggoda Clary.
"Kenapa? Masih mau dilanjut tidurnya? Baiklah." Goda David lalu memejamkan kembali matanya dan memeluk Clary dengan erat.
Wajah merona Clary tak dapat Ia sembunyikan. Sekarang Ia benar-benar sangat malu. Ditambah lagi jantungnya yang seakan ingin melompat dari tempatnya.
"Ya Tuhan. Ada apa ini? Apa ini mimpi? Jika benar mimpi, tolong bangunkan aku." Doa Clary dalam hati masih mematung di pelukan David.
Clary pun mencoba mencubit dada David untuk memastikan bahwa ini semua hanyalah mimpi. Namun nihil, David malah memekik saat Clary mencubitnya.
"Aw.. Kenapa kau mencubitku?" Pekik David melonggarkan sedikit pelukannya pada Clary.
"Astaga... Ini bukan mimpi." Gerutu Clary dengan wajah semakin merona tak tertolong.
"Sa-Sa-Saya pergi mandi dulu." Elak Clary gugup melepaskan diri dari pelukan David lalu masuk ke dalam kamar mandi.
David hanya tersenyum puas melihat istrinya yang salah tingkah.
Setelah mandi dan menyiapkan pakaian David, Clary bergegas ke dapur untuk membuat sarapan. Ini kali pertamanya memasak untuk David di apartement sebagai seorsng istri, bukan sekretaris.
David tiba di dapur saat Clary sudah selesai menat makanan di atas meja. David duduk lalu menyantap makanannya dengan tenang begitupun dengaj Clary.
Selesai makan, David mengambil tissue di sampingnya lalu membersihkan sisa makanan di sudut bibirnya.
Clary yang jug selesai makan hendak membereskan piring-piring di atas meja. Namun, aktivitasny terhenti saat David menyebut namanya.
"Iya, Pak?" Dengan sigap Clary menjawab layaknya seorang sekretaris.
David terdiam sejenak manatap Clary lalu memalingkan wajahnya.
Clary mengangkat kedua alisnya menatap David untuk menunggu jawaban David.
"Sampai kapan kau akan memnggilku seperti itu?" Tanya Davuid menatap kembali wajah Clary dengan Datar.
Clary menaikkan sebelah alisnya lalu memiringkan sedikit kepalnya karena belum paham akan ucapan David.
"Apa tidak ada panggilan lain selain Pak? Aku bukan Bapakmu." Tandas David.
"Lalu Saya harus memanggil Bapak apa?" Tanya Clary kebingungan.
"Terserah kau saja. Kau hanya boleh memanggilku seperti itu jika kita dikantor. Karena di kantor aku memang atasanmu. Tapi jangan lupa, di rumah Aku suamimu." Ucap David sedikit menahan kesal.
Clary berpikir sejenak masih mencerna kata-kata David.
"Benar juga. Aku sudah terbiasa memanggilnya seperti itu. Tapi bagaimanapun, Ia memang benar. Di rumah aku tidak seharusnya memnggilnya seperti itu, mengingat sekarang status kami sudah berbeda." Batin Clary.
"Mm.. Bagaimana jika Kakak?" Tanya Clary meminta pendapat.
"Aku bukan kakakmu." Tolak David.
"Kalau Mas?" Clary menyondongkan kepalanya sedikit menatap David.
"Mungkin Aku memang harus belajar membiasakan diri." Batin Clary.
"Hmm.. terserah Kau." Ucap David tanpa melirik Clary.
Bersambung...
***Jangan pelit Vote dong Guys😢
Like, Komen & Share, gapapa kan ya?😅
Terima Kasih*:)😊**