My Lovely CEO

My Lovely CEO
Terpana



"What?! Gimana bisa Aku jadi pasangan orang ini? Bisa-bisa aku mati membeku kalau di dekatnya terus!" Batin Clary yang terlihat lesu sambil menepuk jidatnya.


David hanya menatap tingkah Clary di depannya. Lalu mempersilahkan Clary untuk keluar


Jam menunjukkan pukul 17.00. Clary sudah bersiap untuk pulang. Saat Clary membuka pintu ruangannya,


Jreng


Clary terkejut karena David sudah berada di balik pintu.


"Ikut Saya!" Perintah David.


"Kemana, Pak?" Tanya Clary bingung.


David tidak menghiraukan perkataan Clary, Ia langsung berjalan menuju lift. Dengan terpaksa Clary mengikuti dari belakang.


Sesampainya di Lobby, David langsung menuju ke parkiran untuk mengambil mobilnya. Clary yang dari tadi mengikuti dari belakang tidak sadar bahwa Ia sudah berada di dekat mobil David.


"Kenapa bengong? Ayo masuk!" Teriak David dari dalam mobil.


Clary yang tersadar dari lamunannya langsung spontan mengikuti perintah David dan masuk ke dalam mobil. Beberapa menit perjalanan, akhirnya sampailah mereka di depan sebuah butik. David turun dari mobil dan masuk ke butik lalu diikuti dengan Clary yang masih bertanya-tanya dalam hati.


Sesampainya David dan Clary di dalam,


"Pilihkan gaun yang sesuai dengannya!". Perintah David kepada pegawai butik sambil menunjuk Clary.


Clary yang dari tadi hanya diam akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


"Pak, untuk apa semua ini?" Tanya Clary yang tak mengerti dengan kelakuan Boss nya.


"Apa kau sudah lupa? Kau akan menjadi pasanganku di pesta perjamuan. Dan aku tidak ingin pasanganku tampil biasa saja." Ucap David angkuh yang duduk di sofa sambil meletakkan kedua lengannya di sandaran sofa.


"Tidak ada tapi-tapian." Tegas David tak ingin dibantah.


"Hmm... Dasar sombong. Eh, tapi benar juga. Aku kan tidak punya gaun mewah taupun branded. Sedangkan orang yang akan jadi pasanganku adalah orang terpandang di negara ini. Mana mungkin aku mempermalukannya dengan penampilanku?!." Gerutu Clary dalam hati.


Clary pun hanya pasrah dan tak berani berkata-kata lagi. Ia berjalan mengikuti pegawai butik untuk memilih gaun, lalu masuk ke ruang ganti untuk mencoba beberapa gaun yang telah di pilih. Beberapa menit kemudian, Clary keluar dari ruangan ganti menggunakan dress mini berwarna soft grey tanpa lengan lalu berdiri di depan David untuk memperlihatkan gaunnya.


"Ganti! Itu terlalu kampungan." Komentar David.


Clary yang mendengar komentar David langsung berbalik menuju ruang ganti.


"Kampungan apanya? Menurutku ini sudah cukup bagus. Haih... Selera orang kaya memang beda." Gumam Clary menghela nafas dengan kasar.


Setelah beberapa kali Clary mencoba berbagai gaun namun ditolak terus oleh David, Akhirnya Ia memilih sebuah Long dress berwarna merah maroon dengan bahu terbuka sebelah, dan belahan pada bagian bawah sampai di atas lutut yang otomatis menampilkan sedikit paha mulus dan putih Clary. Ia kemudian keluar dengan anggun dari kamar ganti untuk memperlihatkan gaunnya kepada David.


David yang melihat Clary keluar dari kamar ganti langsung tertegun karena terpana dengan pesona Clary.


"Ternyata dia juga bisa secantik ini." Batin David yang tak mengedipkan matanya memandang kagum Clary.


Clary yang melihat ekpresi David merasa bingung.


"Pak, bagaimana dengan ini? Apa Saya harus ganti lagi?" Tanya Clary dengan tampang letih.


Mendengar pertanyaan Clary, David langsung tersadar dari lamunannya kemudian dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Ah..Iya. Anu. Mm.. Maksud Saya ini lumayan bagus dari sebelumnya." Ucap David gugup.


"Bungkus ini. Dan sekalian, pilihkan juga beberapa sepatu." Titah David kepada pegawai butik.


Bersambung...