My Lovely CEO

My Lovely CEO
Pemakaman



Clary selesai memebersihkan tempat tinggalnya. Ia pun langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pergi ke makam orang tuanya.


Clary tiba di pemakaman setelah beberapa menit lalu singgah di toko bunga tempat Ia bekerja dulu untuk dibawa ke makam. Clary membeli mawar putih sebagai tanda kasih sayang. Sekarang Clary berjongkok di depan makan ayah dan ibunya sambil mengusap-usap nisan.


"Ayah, Ibu. Clary datang menjenguk kalian. Clary rindu dengan kalian. Kalian baik-baik saja disana kan? Kalian bahagia kan, Ayah, Ibu?" Ucap Clary tersenyum menatap makam kedua orang tuanya secara bergantian.


"Oh ya. Ayah, Ibu, Clary sekarang sudah memilki pekerjaan yang layak. Clary sudah bisa mandiri. Clary sudah bisa hidup dengan hasil kerja keras Clary tanpa membebani orang lain. Ayah dan Ibu bangga kan?" Clary mengusap kedua ujung matanya yang mulai berair.


Setelah selesai berbicara sendiri di depan makam, Clary pun meninggalkan tempat tersebut dan pulang ke kontakannya. Namun sebelum itu, Ia lebih dulu singgah di toko bunga untuk melihat sahabatnya.


Clary membuka pintu toko ysng terdapat tulisan Open. Clary dengan senyum manisnya berjalan ke arah Windy yang tengah merapikan beberapa bunga.


"Sibuk ya, Mbak?" Tanya Clary yang langsung muncul di samping Windy.


"Ah, Clary. Aku pikir siapa. Bikin kaget aja. Kamu udah ke pemakaman?" Tanya Windy melirik ke arah Clary dan tersenyum.


"Iya." Jawab Clary.


"Yaudah, duduk dulu." Imbuh Windy meletakkan bunga yang sudah dirapikan kemudian beranjak ke tempat duduk yang ada di dekat jendela.


Mereka pun berbincang-bincang sekitar beberapa menit. Tak lama kemudian pintu toko terbuka dan muncul seorang yang ingin membeli bunga. Windy pun pergi melayani pembeli, sedang Clay pamit untuk pulang.


Sesampainya Clary di kontakannya, Ia hanya bersantai sambil menunggu waktu untuk bertemu Elena. Clary duduk di sofa dan menekan tombol On pada remote untukenyalakan TV.


Jam menunjukkan pukul 13.00. Clary beranjak dari duduknya menuju ke kamar untuk bersiap-siap. Clary hanya berpenampilan sederhana dengan pakaian kasualnya namun masih menapakkan kesopanan. Clary menguncir rambutnya ke belakang dengan poni ia sibakkan di belakang telinganya. Clary tak memakai make up, karena memang Ia tak terbiasa. Ia hanya memakali lipbam di bibir merahnya agar tak terlihat kering. Setelah selesai bersiap, Clary pun menuju ke alamat yang dikirimkan Elena.


Elena dan Clary sudah berada di dalam kafe dan memesan minuman serta makanan masing-masing.


Pelayan meletakkan makanan dan minuman yang telah dipesan di atas meja. Clary dan Elena pun mulai menyantap makanan masing-masing. Setelah selesai makan, Elena mulai membuka mulutnya.


"Sekretaris Clary." Imbuh Elena tersenyum.


"Iya, Nyonya?!" jawab Clary.


"Sebenarnya Saya mengajak mu bertemu untuk membicarakan putra saya David. Bagaimana pekerjaannya akhir-akhir ini? Apa semua berjalan dengan lancar?" Tanya Elena menatap Clary.


"Syukurlah." Ucap Elena lega meneguk minuman yang ada di depannya.


"Hmm.. Bagaimana dengan David? Apakah di kantor sekretaris Clary pernah melihat sesuatu yang aneh?" Tanya Elena memajukan kepalanya sedikit.


"Hmm? Maksud Nyonya aneh bagaimana?" Tanya Clary mengangkat sebelah alisnya namun masib menunjukkan senyumnya.


"Maksud Saya, seperti David sering bertemu dengan seorang wanita? Atau semacamnya?" Tanya Elena penasaran.


"Ahh.. Kalau soal itu. Menurut sepengetahuan Saya, Pak David tak pernah bertemu atau janjian dengan seorang wanita, Nyonya. Pak David hanya bertemu dengan beberapa klien. Selain itu, yang datang dan masuk ke ruangan Pak David hanya Saya dan Manager Ken, Nyonya." Jawab Clary.


"Hmm... Apa kau yakin?" Tanya Elena memastikan.


"Saya sangat yakin Nyonya. Karena Saya yang menyusun jadwalnya, Nyonya." Ucap Clary dengan polosnya.


"Haih... Kapan anak itu bisa maju. Melirik wanita saja Ia enggan." Gerutu Elena dalam hati sambil menghel napas.


"Lalu, pendapat sekretaris Clary terhadap David bagaimana?" Tanya Elena tersenyum menunjukkan giginya.


"Pak David adalah orang yang banyak dikagumi karena kecerdasan dan ketampanannya. Setiap orang yang bertemu atau melihatnya pasti juga berpikiran seperti itu, Nyonya." Jujur Clary.


"Benarkah? Termasuk semua perempuan?" Cecar Elena.


"Iya, Nyonya." Senyum Clary.


"Menurut sekretaris Clary, Apakah David sudah termasuk pasangan yang sempurna?" Tanya Elena lagi yang semakin lama semakin membuat Clary kebingungan.


Clary mengerutkan dahinya mendengar perkataan Elena. Ia mulai bingung arah dengan pembicaraan merek berdua. Akhirnya dengan terbata-bata dengan senyum yang di paksakan.


"Te-tentu saja, Nyonya."


Beberapa saat berbincang, akhirnya mereka pun berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.


Bersambung...