My Lovely CEO

My Lovely CEO
Ingin Cucu



Kini David dan Clary berada di rumah besar Agatha. Elena meminta mereka untuk menginap disana karena ingin mengamati lebih dekat kedekatan putra dan menantunya.


Clary berjalan menyusuri tangga menuju kamar David dengan dibimbing oleh kepala pelayan di rumah tersebut. Sebut saja Fang. Fang menunjukkan jalan untuk nona mudanya dan sampailah mereka di lantai 3 dimana kamar David berada.


"Nona, ini kamar Anda. Barang-barang yang Anda butuhkan sudah ada di dalam." Ucap Fang hormat saat berada di depan pintu kamar David yang kini juga menjadi kamar wanita di depannya.


Clary mengangguk mengerti.


"Kalau begitu kami undur diri ke belakang, Nona. Jika Nona membutuhkan sesuatu, Nona bisa memanggil kami." Ucap Fang menunduk hormay lalu melirik ke arah dua pelayan yang berdiri di sampingnya.


"Tunggu." Ucap Clary.


"Aku harus memanggil kalian apa?" Tanya Clary.


"Panggil saja Saya Fang. Dan ini Fina dan Tasya." Jawab Fang memperkenalkan dirinya dan juga kedua pelayan di dekatnya yang memang di tugaskan Elena untuk melayani Clary.


"Baiklah." Imbuh Clary tersenyum.


"Kalau begitu, kami permisi, Nona." Pamit Fang menunduk hormat diikuti dua pelayan lainnya dan berjalan meninggalkan Clary.


Clary memegang handle pintu dan membukanya. Clary melongo melihat kamar tersebut yang sangat luas dan mewah sambil menutup pintu. Baru kali ini dia masuk ke dalam kamar yang sangat besar seperti ini, bahkan lebih besar dari kamar David di apartementnya dan lengkap dengan fasilitasnya. Clary melihat sekeliling ruangan tersebut yang di dominasi warna putih dan abu-abu.


Clary berjalan ke arah spring bed king size yang berada di tengah ruangan tersebut. Ia duduk di pinggiran ranjang.


"Wah.. Empuk sekali." Gumam Clary. Kemudian matanya bemralih ke lemari besar yang ada di samping tempat tidur. Ia berdiri lalu berjalan ke arah lemari dan membukanya.


"Ternyata benar kata Fang. Barang-barang yang aku butuhkan sudah tersedia dengan rapi." Bathin Clary lalu mengambil handuk yang terlihat masih baru di lemari tersebut.


***


David duduk di ruang keluarga bersama Elena dan Jason.


"Lian, Sekarang kamu bukan lagi lelaki yang bebas. Kau sekarang sudah beristri. Jadi kau harus memperhatikan setiap langkah dan keputusan yang akan kau ambil. Meskipun, mungkin kalian belum benar-benar saling mencintai, tapi Papi harap kalian akan selalu bahagia." Ucap Jason menasihati David.


"Iya, Nak. Sekarang putra kesayangan Mami benar-benar sudah menjadi milik wanita lain. Mami sedih, Namun juga sangat bahagia. Lian, kau harus janji, Kau akan memperlakukan istrimu dengan baik. Jangan sampai membuatnya terluka sedikitpun. Meskipun Mami baru mengenalnya, Tapi Mami yakin dia gadis yang sangat baik." Tambah Elena tersenyum tulus.


"Pasti Mi, Pi. David akan selalu berusaha menjaga hubungan kami. Dan terima kasih untuk Mami dan Papi karena telah membantu David." Ucap David.


"Itu sudah kewajiban kami, Nak. Tapi Lian, ingat! Mami dan Papi sudah cukup berumur. Kami juga ingin menggendeng seorang cucu. Apalagi saat Mami dan teman-teman Mami berkumpul, mereka selalu bercerita tentang bagaimana lucunya cucu mereka. Mami juga mau seperti itu." Imbuh Elena mengerucutkan bibirnya.


"David juga maunya begitu, Mi. Tapi tergantung dari Clary lagi. David tidak jika harus memaksanya. David akan menunggu sampai Clary benar-benar siap."


"Papi setuju. Tunggu sampai Clary benar-benar siap. Jangan sampai kau memaksanya dan malah membuat dia tidak bisa membuka hatinya untukmu. Cobalah untuk menjadi suami yang pengertian." Jason tersenyum melirik istrinya.


"Hmm.. Tapi jangan terlalu lama menunda. Umur kalian juga sudah matang untuk memiliki seorang anak." Elena mengangguk pelan mengiyakan suaminya.


"Kalau begitu, Kau pergilah istirahat. Tidak baik juga jika kau membiarkan Clary sendirian terus di kamar. Bagaimana bisa cucunya ada kalau kaliab tidak saling berinteraksi?!" Goda Jason pada David.


David pun bergegas menuju kamarnya setelah pamit dengan dengan kedua orang tuanya.


Bersambung...