
Ken berjalan menghampiri David yang sedang fokus dengan dokumen di tangannya.
"Dav!" Tegur Ken yang berniat mengejutkan David namun sama sekali tidak berpengaruh.
David hanya menoleh sekilas ke arah Ken kemudian kembali fokus pada dokumennya.
"Dav. Gue mau minta penjelasan dari Lo. Kenapa Lo nambah jam kerja Clary dengan bekerja juga di rumah Lo?" Tanya Ken sambil menyeruput kopi di atas meja David.
"Karena seharusnya itu memang tugas dia". Ucap David santai tanpa menoleh ke arah Ken.
"Alasan. Dav, kita udah lama temenan. Dan setau Gue Lo gapernah tuh ngebiarin orang asing masuk ke rumah Lo, apalagi dia perempuan." Imbuh Ken tak percaya.
"Dia bukan orang asing. Dia sekretaris Gue." Jawab David.
"Eh, sekretaris itu cuma berlaku di kantor. Lo jujur aja deh. Lo ada rasa kan sama dia?" Tanya Ken menyelidik sambil menyipitkan matanya.
David yang mendengar hal tersebut langsung mendongakkan wajahnya ke arah Ken.
"Naksir? Hh" Batin David yang tanpa sadar menaikkan sudut bibirnya membentuk senyuman kecil.
"Nah, Tu kan. Lo naksir sama dia.
"Sepertinya kantor harus cari Manager Perencanaan dan Pengembangan yang baru." Imbuh David santai namun terkesan mengancam.
"Eh eh eh, maksud Lo apa?" Ken tersentak mendengar perkataan David.
"Yah. Sepertinya manager yang sekarang sedang malas-malasan bekerja dan lebih memilih bergosip". David menatap Ken dengan tatapan licik.
"Ok ok ok, Gue pergi, Gue pergi sekarang. Gue mohon jangan pecat Gue." Ken yang tiba-tiba berdiri dari duduknya lalu mengatupkan kedua tangannya sebagaimana orang memohon.
David hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya kemudian memberi isyarat kepada Ken untuk segera keluar dari ruangannya.
Ken pun langsung berlari keluar dari ruangan David dan menuju ruangannya.
David memikirkan perkataan Ken barusan. Tanpa sadar senyuman tanpak di wajah David.
***
Jam menunjukkan pukul 17.00, waktunya pulang kerja.
Clary merapikan dokumen yang berserakan di atas meja. Setelah semuanya rapih, Clary bergegas pulang ke rumahnya. Clary selalu pulang jalan kaki, karena kontrakannya cukup dekat kantor. Di tengah jalan, saat Clary sedang asik berjalan tiba-tiba mobil mewah berhenti di sampingnya. Clary pun tak menggubris hal tersebut, dan tetap melanjutkan langkahnya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar suara yang tak asing menyebut namanya.
"Masuk!" Perintah orang tersebut dari dalam mobil yang tak lain adalah David.
Clary menoleh ke arah sumber suara
"Saya?" Tanya Clary menunjuk dirinya sendiri sambil membungkukkan sedikit badannya setinggi pintu mobil.
"Siapa lagi?" Tanya David balik.
Clary pun masuk ke dalam mobil tanpa berkata lagi, karena Ia tau bossnya sangat tidak suka dibantah.
Setelah memasang sabuk pengaman, Clary memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Kita mau kemana, Pak?" Tanya Clary.
"Pulang." Jawab David.
Clary masih mencerna ucapan David.
"Apa dia ingin mengantarku pulang?" Gumam Clary dalam hati.
Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mobil berhenti di depan kontrakan susun kecil.
"Hmm, sudah sampai? Kenapa dia bisa tau alamatku?" Gerutu Clary dalam hati.
"Kenapa tidak turun?" Pertanyaan David membuyarkan lamunan Clary.
Clary pun membuka sabuk pengamannya dan turun dari dalam mobil. Namun sebelum masuk ke kontrakannya, Clary tak lupa mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih, Pak." Clary tersenyum membungkuk hormat lalu berbalik hendak masuk ke kontrakannya. Namun, entah kenapa David juga ikut turun dari mobil lalu berjalan mengikuti Clary. Clary yang tersadar akan hal itu langsung berbalik ke arah David.
"Kenapa Bapak ikut turun?" Tanya Clary heran.
"Saya ingin bertamu." Ucap David santai sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya.
"Maaf, Pak. Tapi saya tidak menerima tamu." Jelas Clary yang merasa canggung namun tak melupakan sopan santunnya.
David tak menghiraukan perkataan Clary dan terus melanjutkan langkahnya hingga di depan pintu kontrakan Clary. Clary hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah bossnya. Ia pun terpaksa mengikuti langkah David, kemudian membuka pintu kontrakannya.
"Silahkan masuk, Pak." Ucap Clary hormat.
"Berani sekali kau memerintahku." Imbuh David datar.
"Tidak tau diri sekali. Masih untuk aku mempersilahkanmu masuk." Gerutu Clary dalam hati sambil menatap ketus ke arah David.
Namun dengan cepat Clary mengubah ekpresinya.
"Ini kontrakan kecil Saya, Pak. Jika anda ingin masuk, silahkan." Ucap Clary ramah sambil mengangguk hormat.
David pun masuk tanpa basa-basi. David memperhatikan setiap sudut rumah Clary yang sempit itu.
"Kenapa dia tinggal di tempat seperti ini? Apa gajinya tidak cukup besar untuk membeli rumah yang lebih bagus?" Gumam David dalam hati.
Ia pun berjalan mengelilingi setiap bagian di rumah tersebut. Hingga pada akhirnya Ia membuka pintu suatu ruangan yang tak lain adalah kamar Clary. Tanpa izin, David langsung masuk ke kamar tersebut.
"Hmm.. Ternyata dia gadis yang rapih." pikir David yang menhedarkan pandangannya di ruangan tersebut.
"Maaf, Pak. Mau apa bapak masuk ke kamar Saya?" Tanya Clary kebingungan melihat tingkah bossnya.
David tak menggubris perkataan Clary dan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang Clary.
"Apa yang Bapak lakukan?" Tanya Clary yang sedikit kaget melihat David yang berbaring di atas ranjangnya.
"Aku hanya ingin istirahat sebentar." Ucap David memejamkan matanya lalu menaruh satu lengannya di atas keningnya.
Clary yang melihat raut wajah lelah David pun tidak tega mengusir David.
"Biarkan saja lah. Toh, kelihatannya dia memang sangat lelah." Clary pun beranjak keluar dari kamarnya kemudian masuk ke kamar sebelah untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
Jam menunjukkan pukul 19.05.
David terbangun dan melihat sekeliling ruangan tersebut.
David baru mengingat bahwa dirinya sedang berada di rumah sekretarisnya. David pun keluar dari kamar tersebut, namun langkahnya terhenti saat mencium wangi masakan yang berasal dari dapur.
David berjalan menuju ke dapur. Saat sampai di dapur, David melihat Clary sedang asik memasak dengan menggunakan celana pendek berwarna pink sampai paha, memakai baju rajut lengan panjang dengan rambut di ikat ke atas sehingga memperlihatkan leher jenjangnya. David menelan salivanya melihat pemandangan tersebut.
Clary berbalik hendak menata makanan di atas meja dan kaget saat melihat David sudah berada di belakangnya.
"Bapak sudah bangun? Ini waktunya makan malam. Silahkan, Pak." Ucap Clary tersenyum sambil menata makanan di atas meja.
David pun menarik kursi dan duduk untuk menikmati makan malam.
"Rasanya enak." gumam David sambil tetap menyantap makanan tersebut dengan lahap.
Selesai makan malam, David pun pulang ke apartementnya, dan Clary istirahat di kontrakannya.
Bersambung...