
Elena mengedipkan sebelah matanya pada David tanda mengerti dengan isyarat David. Tentu saja hal tersebut disadari oleh Ken, namun tidak dengan Clary yang masih menundukkan kepalanya karena gugup.
"Nyonya, Ini--" Belum sempat Clary menjelaskan, Elena sudah terlebih dahulu membuka suara.
"Clary, David. Apa-apaan kalian? Jadi begini perilaku kalian jika hanya berdua? sejak kapan kalian begini? Atau mungkin bahkan sudah melakukan hal yang lebih dari yang Mami lihat barusan?" Tanya Elena bertubi-tubi dengan nada sedikit tegas dengan tatapan tajamnya, namun tentu saja itu hanya sebuah sandiwara.
David hanya diam mendengar omelan Maminya. Sedangkan Clary, masih berusaha menjelaskan kebenarannya.
"Nyonya, ini semua salah paham. Kami bisa menjelaskannya. Iya kan, Pak?" Elak Clary lalu menatap David seolah meminta David untuk membantunya menjelaskan. Namun David tetap bungkam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Oh Tuhan.. Bahkan kalian masih ingin mengelak setelah semua sudah terpampang jelas begini?" Ucap Elena menepuk jidatnya.
"David, Clary. Sekarang Mami tidak mau tau, kalian harus mempertanggung jawabkan apa yang telah kalian lakukan. Mami tidak mau kalau sampai nanti terjadi hal buruk, apalagi yang bisa merusak kehormatan keluarga." Elena tegas menatap Clary dan David.
"Nyonya, kami sungguh tidak melakukan apa-apa. Tadi itu hanya sebuah kecelakaan. Tidak ada maksud lain." Jelas Clary memegang tangan Elena. Sungguh saat ini hati Clary sangat kacau dan panik.
Elena melepas genggaman tangan Clary dengan raut wajah yang terlihat kecewa.
Elena menghela napas kasar lalu seakan memikirkan sesuatu.
"Kalian harus segera menikah, sebelum hal yang lebih buruk terjadi." Tegas Elena menatap kosong ke jendela.
Tantu saja hal tersebut membuat Clary melototkan matanya. Namun tidak dengan David dan Ken, karena tanpa dijelaskan pun Ken sudah bisa membaca pikiran ibu dan anak yang ada di depannya.
"Tapi Nyonya.." Clary masih mencoba memberi alasan.
"Clary, Kau tau Saya tidak suka penolakan." Tandas Elena lalu berbalik membelakangi Clary.
"Kalian akan melangsungkan pernikahan besok. Untuk berkasnya, Ken yang akan mengatur semuanya." Tambah Elena memalingkan sedikit wajahnya ke belakang lalu berbalik menatap Ken yang hanya dibalas anggukan olehnya.
Elena pun melangkah keluar dari ruangan tersebut.
"Akhirnya Aku benar-benar akan punya menantu." Gumam Elena kegirangan dalam hati menyembunyikan tawanya saat berada di ambang pintu.
"Acting Nyonya sangat alami. Bahkan melebihi Acting seorang Aktris papan atas."
Sementara Clary,
"Pak, cepat jelaskan pada Nyonya bahwa semua ini salah paham. Ini semua tidak benar. Pak.." Pinta Clary menarik narik lengan kemeja David.
"Sudah terlambat. Semua sudah terjadi. Kita hanya bisa menerima. Aku tau persis bagaimana sifat Mami." Balas David yang ikut memerankan perannya.
Clary beralih menatap Ken.
" Manager Ken, tolong jelaskan pada Nyonya. Semua ini benar-benar salah paham." Clary sedikit memohon.
"Maaf Clary, kali ini aku tidak bisa membantu." Ken mengedikkan bahunya tersenyum kecut.
Sekarang Clary hanya bisa pasrah menerima apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ini semua hanya salah paham, tapi kenapa bisa jadi begini? menikah? dengan Pak David? orang sedingin itu akan menikah denganku? bagaimana mungkin. Kami saja tidak memiliki perasaan untuk satu sama lain." gerutu Clary dalam hati lalu menghela napas berat.
Keesokan paginya
Clary dan David sudah berada di tempat akad nikah akan dilaksanakan. Mereka tidak melakukan resepsi dan pesta mewah karena Clary dan David sudah sepakat untuk merahasiakan pernikahan ini dulu. Di sana hanya terlihat beberapa orang saksi, kedua orang tua David, Ken, dan tentu saja Windy yang satu-satunya dari pihak Clary.
Beberapa menit berlalu, akhirnya kini Clary telah sah menjadi istri dari seorang Julian David Agatha, pengusaha termuda dan terseukses di negaranya.
Bersambung...
Typo? Maaf.
Jangan lupa like, kritik & saran (kalau ada), dan juga Vote sebanyak-banyaknya.
Terima Kasih:)