My Lovely CEO

My Lovely CEO
Manis Sekali



Di kediaman Agatha


"Papi, Papi..." Teriak Elena memanggil suaminya.


"Sayang, ada apa? Kenap teriak teriak seperti itu?" Sahut Jason keluar dari ruang baca.


"Papi, Mami punya kabar penting." Ucap Elena antusias.


"Kabar apa, Mi? Mami sudah beli tas incaran Mami? Atau Mami beli perhiasan baru." Tanya Jason penasaran.


Elena menggeleng-gelengkan kepalanya. Tetlihat jelas ekpresi bahagia di wajahnya yang sudah terdapat garis halus.


"Bukan, Pi. Ini mengenai putra kita, Lian." jawab Elena.


"Lian? Ada apa dengan Lian, Mi?" Jason menaikkan alisnya sebelah.


"Sebentar lagi kita akan punya menantu, Pi." Ucap Elena kegirangan sambil memegang kedua tangan suaminya.


"Maksud Mami apa? Papi belum mengerti."


Elena menggiring suaminya duduk di sofa lalu menceritakan apa yang ada dipikirannya.


Elena bercerita tentang pertemuannya dengan Clary di kantor. Ia tertarik dengan Clary yang ramah dan baik hati. Elena pun menceritakan bahwa rencananya untuk menjodohkan Clary dengan David.


"Menurut Mami nih Pi, sepertinya David juga tertarik dengan Clary. Ken yang bilang Pi, katanya Clary juga kerja di apartement David. Aneh kan Pi? Setau Mami, David tidak pernah mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya kecuali keluarga atau sahabat baiknya." Cerocos Elena panjang lebar.


"Mami yakin?" Tanya Jason memastikan.


"Mami Yakin Pi. Pokoknya Papi harus bantu Mami jalanin rencana ini." Ucap Elena tersenyum.


***


Ken hendak membeli bunga untuk mengunjungi makam Ibu nya. Ken memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko bunga.


Ken pun masuk ke dalam toko tersebut.


"Permisi." Ucap Ken sembari membuka pintu toko bunga tersebut.


"Selamat siang, Tu...an." Windy seketika terpaku melihat pelanggan yang datang tersebut yang tak lain adalah Ken. Lelaki tampan dengan tubuh tinggi dan cool tersenyum manis di hadapannya dengan lesung pipi di kedua sisi pipinya. Windy menganga membelalakkan matanya ke arah Ken.


"OMG! Mimpi apa aku semalam? Inikah malaikat yang Engkau kirim untukku, Tuhan? Tampan dan Manis sekali." Batin Windy takjub.


"Maaf, Nona" Tegur Ken membuyarkan lamunan Windy.


Windy pun tersentak kaget dan langsung membuka mulutnya.


"Se-selamat Siang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Windy terbata-bata dan masih menatap Ken dengan kagum.


"Ya, Tolong pilihkan Saya bunga yang sangat indah di toko Ini." Pinta Ken tersenyum ramah yang sekali lagi membuat jantung Clary hampir saja copot.


"Baiklah, Tuan. Silahkan ikut Saya." Windy pun berjalan mendahului Ken.


Windy memilih salah satu bunga Lily putih yang sangat indah.


"Bagaimana dengan ini, Tuan? Ini bunga yang sangat indah dan juga memiliki aroma yang khas." Jelas Windy.


Ken pun melihat bunga tersebut lalu menundukkan sedikit bahunya untuk mencium aroma bunga tersebut.


"Ya, Nona benar. Kalau begitu Saya pilih yang ini." Ucap Ken menunjuk bungan dihadapannya itu.


Windy pun mengikat bunga tersebut hingga membentuk buket yang indah.


Sembari mengikat bunga, Windy memberanikan diri untuk bertanya


"Mm.. Tuan. Kalau boleh tau, untuk siapa bunga ini?"


"Ini untuk orang yang sangat kucintai di dunia ini." Ucap Ken tersenyum.


Terlihat rasa kecewa di wajah Windy.


"Ternyata dia sudah punya orang yang dicintainya. Dia tidak bilang pernah mencintainya, tapi sangat mencintainya. Hmm... Sepertinya tidak ada kesempatan." Gumam Clary.


"Pasti orang ini sangat spesial untuk, Tuan." imbuh Windy tersenyum getir.


Ken hanya tersenyum mendengar ucapan Windy. Bunga pun sudah siap, Ken mengambil bunga tersebut kemudian membayarnya di kasir lalu pergi meninggalkan toko tersebut setelah mengucapkan terima kasih.


Windy hanya menatap sendu punggung Ken yang perlahan menjauh meninggalkan tempat tersebut.


***


Clary merebahkan tubuhnya di atas kasurnya.


"Haihh.. Lelah sekali. Untung saja besok akhir pekan. Aku rindu dengan Ibu dan Ayah. Besok aku harus mengunjungi mereka." Ucap Clary hendak tidur.


Baru saja Clary menutup mata, tiba-tiba hp nya berbunyi menandakan ada telepon masuk.


Clary pun meraba nakas di dekat tampat tidurnya untuk mengambil hp nya.


"Siapa malam-malam begini menelepon ku?" Clary mengerjapkan matanya yang terasa sangat ngantuk.


Saat melihat layar hp nya, Clary mengerutkan dahinya melihat nomor tak di kenal meneleponnya. Clary pun dengan enggan mengangkat telepon tersebut.


"Halo." Jawab Clary yang tak bisa menghilangkan kantuknya.


"Halo, Skeretaris Clary." Tersengar suara perempuan paruhbaya di seberang sana.


"Maaf, ini siapa?" Tanya Clary masih terdengar parau.


"Ini Saya Elena, Maminya Lian."


Clary tersentak mendengar jawaban tersebut.


Clary pun langsung menegakkan duduknya.


"Ha-halo, Nyonya. Ada apa Nyonya menelepon selarut ini?" Tanya Clary terbata-bata.


"Sekretaris Clary. Apa besok anda senggang?" Tanya Elena di telepon.


"Mm.. Tidak Nyonya. Memangnya ada apa Nyonya?" 'Clary


"Kalau begitu, bisakah kita bertemu besok?." Tanya Elena.


"Tentu saja Nyonya. Tapi Saya tidak bisa jika pagi. Saya harus ke suatu tempat dulu, Nyonya." 'Clary


"Tidak masalah. Nanti kita ketemu jam 14.00 saja. Nanti saya kirimkan alamatnya." 'Elena.


"Baiklah, Nyonya."


Mereka pun saling memutuskan sambungan telepon.


"Ada Apa Mami Pak David mengajakku bertemu? dan dari mana dia mendapatkan kontakku?" Batin Clary yang kebingungan. Ia pun tak ambil pusing dan langsung melanjutkan tiduurnya menuju alam mimpi yang indah.


Bersambung...


Maaf Ya Guys. Alur ceritanya memanv sedikit lambat.


Author harap, kalian bisa suka dengan novel ini.


Jangan lupa dukungannya ya dengan Like fan Vote.


Terima kasih😊