
"Mas, Kau tidak apa-apa?" Tanya Clary khawatir.
David hanya menggeleng dan masih mencoba menstabilkan nafasnya.
"Ayo tidur lagi." Ajak David yang hanya diangguki Clary.
Clary membaringkan tubuhnya membelakangi David membuat pria tersebut mengernyitkan dahinya.
David ikut berbaring di sebelah Clary memeluk Clary dari belakang. Clary yang tak menahan kantuknya tidak merespondnya sama sekali. Akhirnya, mereka tidur dengan David memeluk Clary.
Pagi menjelang. Sinar mentari menyeruak masuk ke dalam kamar mengenai dua insan yang masih terlelap dalam mimpi.
Clary mengerjapkan matanya karena silaunya sinar mentari. Clary memenggeser tangan David dari perutnya dan berniat untuk ke kamar mandi. Namub tangan kekar tiba-tiba menarik tangannya dan mendekap kembali tubuhnya.
"Mas?" Ucap Clary mencoba melepaskan pelukan David.
"Apa kau mencintaiku?" David mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnua di bahu istrinya. Clary terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan David.
"Kenapa diam?" Tanya David lagi mengangkat sedikit kepalanya.
"A-aku..." Jujur saja saat ini Clary tak tau harus menjawab apa. Ia sendiri tidak tau bagaimana perasaannya sebenarnya pada David.
"Baiklah. Mungkin sekarang kau memang belum tau perasaanmu. Tapi aku berjanji akan membuatmu tak bisa kehilanganku." Ucap David percaya diri lalu mengecup kening Clary dan beranjak bangun.
Clary masih terdiam, ada rasa tak enak hati pada David. Dan pertanyaan pertanyaan yang masih terlontar di pikirannya.
"Mas." Panggil Clary saat David ingin turun dari ranjang.
"Hmm?"
"Bagaimana denganmu? Apa kau mencintaiku?" Tanya Clary menunduk mencoba menutupi wajahnya yang merona malu.
David mendekat ke arah Clary, memegang wajah Clary dengan kedua telapak tangannya agar menatapnya.
"Jika Aku tak mencintaimu, Aku tak mungkin menikahimu." Jawab David menatap kedua manik mata indah di depannya.
"Tapi itu hanya karena kesalah pahaman. Bukan di dasari dengan cinta." Ucap Clary dengan ragu membalas tatapan David.
"Ya, mungkin terlihat seperti kesalah pahaman. Tapi kau ingatkan, aku sudah mengatakan bahwa aku akan tetap menikahimu meski tanpa alasan sekalipun." Tersirat ketulusan di mata David mendorong Clary untuk mencoba memercayainya.
"Apa maksudmu?" Clary sama sekali tak mengerti maksud ucapan David. Namun David enggan menjelaskannya dan malah masuk ke dalam kamar mandi.
***
Tibalah hari yang di nanti-nanti di JDA Group.
Mulai dari pidato CEO JDA Group yakni David, perkenalan umum produk baru hingga pemotongan pita.
Saat ini acara perjamuan tengah berlangsung megah. Para petinggi group dan kolega-kolega bisnis ikut andil dalam perjamuan.
Clary terlihat sangat anggun dengan tubuh terbalut long dress berwarna hijau tua berlapiskan bling-bling memperlihatkan punggung mulusnya dengaj satu tali terikat di lehernya. Sungguh sangat menarik perhatian semua pasang mata yang menghadiri perjamuan.
David sibuk berbincang dengan kolega bisnisnya sambil memegang minuman di tangannya sebelum Clary pamit untuk ke toilet.
Clary berjalan melewati berbagai macam pandangan yang hanya membuatnya tersenyum kecut. Jujur saja, Ia sangat risih dengan tatapan para buaya yang terlihat sangat mengerikan terhadapnya.
Clary mempercepat langkahnya menuju toilet dengan wajah menunduk hingga tak sadar bahwa di depannya ada seseorang dan
Bugh..
Clary menabrak sesuatu yang keras di hadapannya. Seorang lelaki berbalik menatapnya dengan wajah kesal.
"Nona, Apa Anda buta? tolong gunakan mata Anda untuk melihat jalan di depan. Jangan menunduk jika berjalan." Ucap pria tersebut emosi.
"Maaf , Tuan. Saya tidak sengaja." Clary mengangkat wajahnya menatap orang yang di tabraknya.
"Sekretaris Clary." Ucap Doni langsung meredam emosinya saat tau orang yang menabraknya adalah Clary.
"Ahh.. Tidak masalah. Aku yang salah." Ucap Doni semanis mungkin mengulurkan tangan untuk menyentuh bahu Clary, namun dengan cepat Clary menghindar.
"Maaf, Permisi." Clary melenggang pergi dengan berlari kecil ke arah toilet.
"****." Umpat Doni memandang punggung Clary yang menjauh. Namun dengan cepat ia mengubah ekpresinya dengan senyum seringaian yang penuh arti. Entah apa itu, yang jelas hanya author yang tau pastinya apa yang dipikirkan Doniπ
Clary masuk ke toilet wanita. Lalu berdiri di depan cermin mencuci tangannya di wastafel. Menatap bayangan dirinya di dalam cermin, memperhatikan penampilannya yang memang wajar jika menarik perhatian. Apalagi yang ia kenakan adalah gaun yang sedikit terbuka. Sungguh ini membuatnya sangat tidak nyaman. Bagaimana tidak? Ia tidak nyaman memakai gaun seperti ini, namun karena paksaan Elena mertuanya, Ia terpaksa mengenakannya walaupun dengan hati yang enggan.
Clary menghela napas berat lalu berniat kembali ke ruang perjamuan.
Saat Clary membuka pintu toilet, Ia terlonjak melihat Doni sudah berada di balik pintu bersandar di tembok dengan kedua tangan dilipat di depan dada.
Bersambung...
***Typo bertebaran? πππ
Jangan lupa like, komen, vote, dan share ke teman-teman kalian ya Guys.
Dan terima kasih bagi kalian yang setia membaca cerita Author.
Semoga kalian enjoy it yaπππ***