My Lovely CEO

My Lovely CEO
Berinisiatif



Drrttt...


Ponsel David bergetar membuatnya segera menjawab telepon tersebut.


"Halo, Mi." Jawab David tenang meski kini amarahnya masih diujung kepala.


"Lian, kamu dimana Nak? Clary sudah sadar." Ucap Elena.


"Apa? Oke.. Aku kesana sekarang." Seketika amarah David mereda mendengar ucapan Elena.


David berbalik menatap menatap 2 tersangka dengan tatapan membunuhnya dan juga Ken.


"Ken, Kau tau apa yang harus kau lakukan." Ucap David dingin lalu melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut.


Rasa takut meliputi pikiran Viona.


"Lepaskan!" Viona berusaha melepaskan diri dari 2 orang suruhan Ken yang akhirnya berhasil.


Viona berlari ke arah Ken lalu memegang lengan pria tersebut.


"Ken, kau tau aku sangat mencintaimu. Aku melakukan itu karena Aku cemburu pada Clary. Dia hanya gadis biasa dan pendatang, tapi bisa selalu dekat denganmu. Sedangkan Aku, Aku bahkan tak pernah bercengkrama denganmu dengan santai. Ken, tolong. Pikirkan baik-baik. Aku mengaku, Aku salah paham padanya. tolong lepaskan aku." Pinta Viona memohon.


Ken menghempaskan tangan Viona membuatnya terdorong hingga jatuh.


"Ken, kumohon. Aku akan melakukan apa saja asal kau melepaskanmu. Aku janji tidak akan mengganggunya lagi. Aku janji akan pergi sejauh mungkin." lagi-lagi Viona memohon bersimpuh dikaki Ken dengan air mata yang mengalir deras.


Ken manarik kakinya dari Viona, lalu mengambil sebuah map dan memberikannya pada Viona yang masih terduduk di lantai.


"Kalau begitu, tanda tangani ini!" Perintah Ken.


Seketika juga Viona mengambil map di tangan Ken lalu membubuhkan tanda tangannya tanpa basa basi.


"Pergi!" Perintah Ken dingin.


Viona pun mengangguk lalu berlari keluar meninggalkan tempat itu sambil mengusap air matanya.


Sementara Doni,


"Si*l. Kenapa j*l*ng itu malah di bebaskan?!" Umpat Doni dalam hati melihat Viona yang berlalu pergi.


***


David mempercepat langkah kakinya menuju ke bangsal VVIP.


David dengan tidak sabar membuka pintu ruangan tersebut.


"Sayang, bagaimana? Kau tidak apa-apa kan? Dimana yang sakit?" Tanya David langsung memegang kedua pipi istrinya yang sedang duduk termenung di bed hospital.


Seketika Clary menghamburkan diri dipelukan David membuat wajah David merona merah. Wajar saja, ini kali pertama Clary sendiri yang berinisiatif memeluknya.


"Terima kasih telah menyelamatkanku." Lirih Clary di sela pelukannya.


David tersenyum lalu membalas pelukan istrinya.


"Itu sudah kewajibanku melindungimu." Imbuh David mempererat pelukannya.


"Tapi aku senang." Tambah David mengelus rambut istrinya yang masih didekapannya.


Clary mengernyitkan dahi tak mengerti dengan ucapan David.


"Kau berinisiatif memelukku duluan." Ucap David membuat Clary tersadar dengan situasi saat ini.


Sontak Clary mendorong tubuh David untuk menjauh darinya dengan wajah bersemu merah karena malu.


"A-Aku aku..." Clary tak tau apa yang harus Ia katakan. Jujur saja, Ia tak sadar dengan apa yang dia lakukan. Bagaimana bisa dia memeluk David duluan. Tapi, toh itu juga tidak masalah karena David adalah istrinya. Tapi, tetap saja rasa malunya tak bisa Ia sembunyikan.


David hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang begitu menggemaskan menurutnya.


"Sudah.. Dimana Mami?" Tanya David mengalihkan pembicaraan dan menyapu sekeliling ruangan.


"Mami sedang keluar. Katanya mau membeli beberapa makanan." Jawab Clary.


"Oh. Kalau begitu, kau istirahatlah." Perhatian David membaringkan Clary lalu mencium pucuk kepalanya membuat wajah Clary kembali bersemu merah.


"Apa aku benar-benar jatuh cinta padanya?" Batin Clary melirik ke arah David yang masih duduk di sampingnya.


Bersambung...