
Pagi hari
David terlihat sudah siap dengan pakaian kerjanya. Ia menatap Clary yang masih tertidur. David berjalan mendekati Clary, lalu mencium kening istrinya.
David mengerutkan dahi, setelah merasakan hawa panas dari tubuh Clary. Ia menempelkan telapao tangannya di kening lalu di leher Clary.
"Demam?" Gumam David.
David membangunkan Clary, membuat wanita itu mengerjapkan matanya dan bangun dengan lemas.
"Kenapa Mas? Sekarang udah jam berapa?" Tanya Clary membuat David menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu sakit." Ucap David membuat Clary mengedutkan alisnya.
Ia memng merasa tidak enak badan sejak semalam. Namun Ia tidak menghiraukannya dan malah mengabaikannya.
"Ayo kita ke rumah sakit." Ajak David hendak menggendong tubuh istrinya.
Clary menahan tangan David membuat David menatap heran pada Clary.
"Ini cuma demam biasa. Istirahat sedikit pasti akan baik-baik saja." Ujar Clary tersenyum.
"Oke, kalau begitu aku akan merawatmu." David membaringkan tubuh Clary perlahan.
"Tidak perlu, Kau pergilah ke kantor. Ada bibi yang bisa merawatku." tolak Clary.
"Tapi-" Clary menggeleng-gelengkan kepalanya membuat David dengan terpaksa menuruti kemauan istrinya ini.
"Baiklah. Kalau kau butuh sesuatu, panggil bibi saja. Aku akan pulang lebih awal hari ini." David memeluk lalu mencium kening istrinya dan berjalan keluar dari kamar. Jujur saja, Ia sngat tak tega meninggalkam istrinya yang sedang sakit di rumah.
David bergegas ke dapur untuk memberitahukan ART agar mengurus istrinya dan selalu siap siaga jika dibutuhkan.
"Bi, kalau terjadi sesuatu, langsung hubungi saya!" Perintah David.
"Baik, Tuan."
***
Di kantor
David terlihat tak fokus dengan rapat membuat Ken menatapnya dengan heran.
Ken mempercepat rapat dan mengakhirinya setelah semua yang ingin di sampaikan telah tersampaikan.
"Dave" Tegur Ken namun tak digubris sama sekali oleh David.
"Hah? kenapa? lanjut saja rapatnya!" David masih tak fokus dengan situasi.
"Rapat apa?" Tanya Ken.
David melirik ke Ken dan menyapu seisi ruangan yang ternyata sudah kosong.
"Bahkan rapat selesai pun Lo ngga nyadar." Ken menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah bossnya yang ameh hari ini.
"Baru kali ini Gue liat seorang David hilang fokus di tengah-tengah rapat. Sebenernya ada apa?" Ken sangat penasaran tentang apa yang membuat Bossnya yang selalu teliti ini sampai bisa gagal fokus.
"Istri gue demam." Jawab David santai membuat Ken tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"What? What The F*ck? Cuma gara-gara istri demam sampai rapat sepenting ini pun Lo ngga perhatiin?" Ken tak habis pikir dengan sahabat sekaligus Bossnya ini.
Ken sadar, ternyata Clary benar-benar telah melelehkan es yang ada di hati David sampai membuat Bossnya itu lupa akan segala hal hanya gara-gara hal kecil tentangnya.
David menatap heran pada Ken hang melotot padanya.
"Kenapa emangnya kalau cuma demam?" David baru sadar dengan ucapan Ken.
"Lo belum punya istri, makanya Lo anggap ini hal sepele." Ketus David lalu meninggalkan Ken yang masih tak percaya dengan boss nya itu.
Ken ikut keluar dan berjalan cepat menyusul David yang akan masuk ke lift.
Setelah beberapa saat, pintu lift terbuka dan David dengan langkah santainya berjalan ke ruangannya, begitu juga dengan Ken.
***
David membuka jasnya dan menggantungnya di hanger.
Ia duduk di singgasananya dan membuka laptopnya. Tiba-tiba Ken masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu.
"Maaf, Pak. Di bawah ada perwakilan dari London ingin bertemu Bapak." Jelas Ken sopan membuat David segera berdiri dari duduknya.
David mengambil kembali jas dan memakainya lalu berjalan keluar dengan di ikuti Ken.
***
David sampai di Lobi dan terlihat seorang wanita berambut pirang dengan gaun formalnya yang berwarna merah tersenyum kepadanya.
"Hi, Mr. David. Nice to meet You."