
Kini Elena duduk di samping Clary sambil menunggu menantunya itu sadar. Sedangkan David keluar untuk menerima telepon dari Ken.
"Semua udah beres sesuai perintah Pak Boss." Ujar Ken di telepon.
"Ok. Tunggu di sana." Jawab David menutup telepon dan bergegas menuju mobilnya.
***
"Saya dimana? Lepaskan Saya!" Teriak Doni yang barus saja sadar dan mendapati dirinya sudah duduk terikat di sebuah kursi.
"Hmm.. Melepaskanmu?" Ken menyunggingkan sebelah bibirnya dengan kedua tangan dilipat di depan dada.
"Tenang saja. Sebentar lagi kau juga akan lepas." Bisik Ken di telinga Doni dengan senyum penuh arti.
"Mau apa kamu? Hh.. jangan pikir karena jabatanmu lebih tinggi aku akan takut padamu." Ucap doni yang sama sekali tak digubris oleh Ken.
Tak berapa lama, suara langkah kaki terdengar semakin mendekat dan cepat.
"Boss." Hormat Ken, Namun David tak mempedulikannya dan malah mempercepat langkahnya ke arah doni yang masih babak belur di atas kursi akibat ulahnya di perjamuan.
Bugh
Satu tendangan mendarat di pipi kanan Doni membuatnya terhempas ke lantai dengan tubuh yang masih terikat.
Untuk kedua kalinya darah segar mengalir di sudut bibir Doni membuat pria itu meringis sakit.
"Arrggh.." Teriak Doni tanpa bisa melawan.
"Beraninya kau menyentuhnya." Bentak David menggelegar memenuhi gudang yang sempit dan hanya disinari satu lampu itu.
"Hh.. Memangnya kenapa? Hanya perempuan m*rahan sepertinya juga pasti sudah banyak orang yang menyentuhnya. Atau mungkin bahkan sudah banyak pria yang menidurinya." Ucap Doni enteng membuat urat wajah David semakin terlihat jelas.
Bugh
Satu tendangan lagi-lagi menimpa tubuh Doni.
"Apa kau bilang? Siapa yang kau sebut mur*han? Hah? Siapa?" Teriak David menarik kerah kemeja Doni yang masih tersungkur di depannya.
"Apa kau tau dia siapa? Dia istriku. Siapa kau berani menyebutnya seperti itu?" Emosi David tak bisa Ia bendung lagi.
Pukulan dan tendangan pun menghujani tubuh Doni hingga membuatnya hanya bisa meringis kesakitan berulang kali hingga Ken menghentikan David.
"Dav, cukup. Masih ada yang lebih penting." Sela Ken menyodorkan amplop coklat kepada David.
David menghentikan aksinya dan mengambil amplop coklat tersebut lalu membukanya.
Seketika rahang David mengeras saat melihat isi amplop tersebut.
"Bawa dia di hadapanku sekarang!" Geram David dengan wajah merah penuh amarah.
Seketika juga 2 orang suruhan Ken menyeret seorang wanita yang masih memakai gaun pesta dengan kepala tertutup plastik hitam.
"Dimana ini? Siapa kalian? kalian mau apakan aku? jangan sentuh aku!" Ucap wanita tersebut sambil meronta-meronta.
Ken membuka plastik yang menutupi wajah wanita tersebut.
"Manager Ken?" Viona terbelalak saat mendapati Ken di depannya.
Lain halnya dengan David yang amarahnya sudah terlihat jelas di wajahnya.
"Katakan. Ada masalah apa kau dengan istriku?" Ucap David dingin dengan tatapan membunuhnya.
"Istri? Siapa? Apa jangan-jangan..." Batin Viona tak percaya.
"Tidak Pak. Saya tidak tau apa-apa. Itu semua rencana dia." Elak Viona menunjuk Doni dengan isyarat matanya.
"Dasar j*l*ng. Enak saja kau memfitnahku. Kau yang merencanakan semua ini. Kau yang menyuruhku menyentuhnya." Ucap Doni membela diri.
Flashback
Doni menuju ke meja untuk mengambil minuman setelah tidak sengaja bertabrakan dengan Clary. Tiba-tiba Viona yang sempat melihat Doni dan Clary bertabrakan pun berjalan mendekati Doni.
"Perasaan memang tak bisa disembunyikan." Sahut Viona saat berada di dekat Doni yang meneguk minumannya sambil menikmati perjamuan.
Doni berbalik manatap Viona.
"Maksud Bu Viona?" Tanya Doni menaikkan alisnya sebelah karena belum mengerti maksud Viona.
"Pak Doni tidak perlu menyembunyikannya. Saya bisa melihatnya sendiri. Pak Doni tertarik kan dengan sekretaris Clary?" Ucap Viona lalu meneguk minumannya.
"Siapa yang tidak tertarik dengan wanita secantik dan se s*xy Clary?" Jawab Doni membuat Viona mengepalkan tangannya.
"Hh.. karena itulah dia bisa menarik perhatian para pengusaha kaya." Imbuh Viona tersenyum kecut.
"Maksud Bu Viona?" Tanya Doni.
"Yah.. Saya tidak pernah mengatakan hal yang mengada-ngada. Karena Saya pernah melihat sendiri dia masuk ke dalam hotel bersama pengusaha kaya yang sudah berumur." Ucap Viona.
"Jadi Clary seperti itu" Batin Doni mencerna kata-kata Viona.
"Akhirnya masuk perangkap. Dasar pria bodoh." Batin Viona.
"Tapi jika Pak doni mau, Saya bisa membantu Bapak untuk mendapatkannya." Tawar Viona.
"Caranya?"
"Bapak hanya tinggal .... " Ucap Viona membisikkan sesuatu kepada Doni membuat wajah Doni penuh Hasr*t dan n*fsu.
"Tamatlah riwayatmu wanita j*l*ng. Jangan harap bisa merebut Ken dariku." Batin Viona tersenyum licik.
Flashback End
Bersambung...
***Buat teman-teman yang udah support aku, terima kasih banget yah.
Selanjutnya jangan lupa like, komen, dan share ke teman-teman yang lain supaya bisa terhibur juga dengan cerita aku.
Dan, Vote juga dong Guys. Author kan juga butuh Vote dari teman-teman sekalian😢🙏
Terima kasih***:)