My Lovely CEO

My Lovely CEO
Aku Mencintaimu



Apartement


David melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dan mendapati Clary yang sedang duduk menyisir rambutnya di meja hias. David perlahan mendekati Clary dan memeluknya dari belakang membuat Clary terkejut dan menghentikan aktivitasnya.


"Mas?" Tanya Clary yang tiba-tiba dipeluk oleh David.


"Mm.." Jawab David tak melepaskan pelukannya pada istrinya.


"Lepasin mas." Pinta Clary.


Bukannya melepas, malah David semakin mempererat pelukannya membuat Clary merasa heran dengan sikap David.


"Clary." Ucap David.


"Iya." Jawab Clary.


"Ayo kita umumkan pernikahan kita." Pinta David membuat Clary segera berdiri dan membalikkan badannya ke arah suaminya tersebut.


"Maksud Mas?" Tanya Clary yang masih heran dengan sikap David.


"Maafkan Aku. Gara-gara Aku kau jadi bahan omongan orang." Ucap David menatap dalam manik mata istrinya.


Sebenarnya David sudah tau dan sudah lama mendug apa yang akan terjadi saat orang-orang melihat kedekatannya dengan Clary, seperti yang terajadi di kantor yang pada akhirnya akan menyakiti hati istrinya tersebut.


"Aku sangat mencintaimu. Aku selalu ingin melindungimu. Aku tak ingin ada orang yang menyakitimu." Jelas David memegang kedua pipi istrinya dengan lembut.


"Mungkin kau belum mencintaiku. Tapi percayalah, Kau adalah orang yang selama ini kucari." imbuh David membuat Clary membalas tatapan mata David dengan heran seakan meminta penjelasan.


"Kau ingat dimana pertama kali kita bertemu?" Tanya David.


"Di Swalayan." Jawab Clary mengingat awal pertemuannya dengan David seingatnya.


"Bukan."


"Ingin kuceritakan sesuatu?" Tawar David mengiring Clary untuk duduk di ranjang.


Clary pun menganggukkan kepalanya.


"2 tahun lalu pulang dari luar negeri karena telah menyelesaikan pendidikanku. Sebenarnya aku bukan anak tunggal. Aku punya kakak laki-lak dan aku sangat menyayanginya. Namun aku harus menerima kenyataan pahit saat Aku tiba di sini. Aku harus melihat dengan mata kepalaku sendiri kakakku mengakhiri hidupnya. Dan yang paling parah, itu semua karena ulah wanita yang sangat dicintainya. Aku sangat terpuruk waktu itu, dan danau adalah satu-satunya tempat yang bisa aku tuju untuk menenangkan pikiran. Dan disana, saat Aku benar-benar larut dalam kesedihan, Aku bertemu dengan sosok wanita yang terlihat duduk di bangku yang bersebelahan dengan tempatku duduk. Aku juga melihat diwajahnya rasa kehilangan yang sama persis denganku. Aku melihat dia menangis dalam diam jadi aku mendekatinya dan menjukurkan sapu tangan untuknya. Tapi aku tak bertanya siapa namanya. Dan dari situ aku belajar, bukan cuma aku yang punya masalah di dunia ini. Semua orang punya masalah, dan mungkin bahkan lebih berat dari masalahku." Kisah David menghentikan ceritanya dan menatap Clary dengan senyum tulusnya.


"Aku belum mengerti apa maksudmu, Mas" Ucap Clary keheranan.


"Dan Kau tau apa yang paling buatku termotivasi? Gadis culun dengan poni sebatas alis yang sebelumnya menangis tersedu-sedu berkata "bagaimanapun kondisinya, Ia tidak boleh menyerah dan membiarkan dirinya dipecundangi dunia." Dengan semangat itu, Lalu gadis culun itu menunjukkan senyum manisnya ke arahku." Jelas David.


Clary masih mencerna kata-kata David seolah Ia pernah mengalaminya.


"Apa mas sedang menceritakan sumbet motivasi mas? Atau... Cinta pertama, Mas?" Tanya Clary dengan wajah sendu.


"Ya. Dia sumber motivasi dan juga cinta pertamaku." Ucap David tersenyum.


Terlihat jelas raut wajah Clary yang cemberut membuat David menyunggingkan senyumnya.


Clary bingung dengan pertanyaan David. Ia juga bingung tentang cerita David yang seperti de javu baginya. Ia pun mencoba mengingat-ingat kembali. Clary membelalakkan matanya saat mengingat sesuatu.


"Mas, kakak saputangan?" Ucap Clary menutup mulutnya dengan telapak tangannya karena tidak percaya.


David hanya menganggukkan kepalanya tersenyum ke arah Clary membuat Clary segera memeluk David dengan erat.


"Aku menemukanmu. Terima kasih." Ucap Clary haru karena tahu jika orang yang selama ini Ia cari untuk mengembalikan sapu tangan yang telah lama Ia simpan ternyata adalah milik suaminya sendiri.


"Aku yang harusnya berterima kasih. Terima kasih karena kau telah hadir. Aku mencintaimu." Imbuh David memeluk Clary yanh dibalas hangat olehnya.


"Aku juga, Mas." Balas Clary.


"Baiklah aku akan mengurus resepsi pernikahan kita." Ucap David yang diangguki Clary.


David menatap dalam mata istrinya dan perlahan mendekatkan wajahnya dan mencium bibir ranum istrinya yang selalu saja menggodanya. Semakin lama c*uman David semakin panas dan menuntut membuat Clary membuka mulutnya hingga David leluasa menjelajahinya. Kini tak ada penolakan sama sekali dari Clary.


Perlahan David membaringkan istrinya di ranjang dan kini Clary berada di bawah kungkungan David.


"Sayang, Aku menginginkannya sekarang. Apa kau siap?" Tanya David lembut membuat wajah Clary bersemu merah dan menganggukan kepalanya dengan malu. David pun kembali mencium bibir istrinya dengan lembut dan bahkan mel*matnya dengan dalam membuat Clary mengalungkan lengannya di leher David.


Dengan perlahan tapi pasti, Tangan David mulai masuk kedalam pakaian Clary membuat Clary merasa geli namun tak membuat David menghentikan aktivitasnya dan kini menurunkan ci*mannya ke leher, rahang, dan dada Clary sehingga meninggalkan kissmark disana membuat Clary tak bisa menahan des*hannya.


David membuka satu persatu kancing baju Clary dan kemudian bajunya membuat keduanya tak terlapisi barang sehelai benang pun. David dengan susah payah menelan salivahnya melihat pemandangan yanga ada di depannya. David dengan pelan membuka paha Clary membuat Clary merasa sangat malu saat ini.


"Sayang, apa kau siap?" Tanya David yang dibalas anggukan oleh Clary.


"Ini mungkin akan sakit. Aku akan pelan." Ucap David, Dan penyatuan mereka pun akhirnya terjadi membuat Clary kalang kabut akibat rasa sakit di bagian bawahnya.


"Aaahh... Sakit." Teriak Clary mencengkeram bahu David dengan air mata yang mengalir.


"Aku janji, selanjutnya tidak akan sakit." Ucap David kembali mencium bibir istrinya.


"Aku mencintaimu." Bisik David di telinga Clary.


"Aku juga mencintaimu." Balas Clary yang tersenyum walau masih menahan sakit.


Entah sudah berapa lama waktu yang mereka habiskan, membuat Clary begitu lelah hingga akhirnya tertidur lelap di pelukan David.


"Terima kasih, Sayang." Ucap David membelai wajah mulus istrinya lalu mencium lembut keningnya dan ikut terlelap bersama istrinya.


Bersambung...


***Hohoho... Guys. Jangan kepanasan ya baca ceritanya.


Jangan lupa Like, komen, dan votenya yahhh..


Terima kasih***:)