
"Bukan urusanmu." Ketus David.
Ken hanya diam mendengar ucapan sajabat sekaligus bossnya. Ken tau persis bagaimana sikap David, bahkan bukan hanya sekali Ia di perlakukan seperti itu. Mereka melanjutkan menyantap makanannya masing-masing.
***
Clary dan Elena tiba di sebuah Mall besat di pusat kota. Orang-orang yang melihat mereka berdua pasti mengira mereka adalah ibu dan anak karena kedekatan mereka. Apalagi Elena memang memperlakukan Clary berbeda dengan orang lain. Clary sudah dianggap sebagai putrinya sendiri, karena menurutnya Clary sangat sopan dan nyaman saat diajak berbincang.
Elena masuk ke dalam toko sepatu brended di mall tersebut.
Elena sangat suka mengoleksi beberapa sepatu, gaun, tas, bahkan perhiasan mewah.
Elena memilih beberapa sepatu dengan harga fantastis ditemani dengan Clary.
"Clary, apa menurutmu ini cantik?" Tanya Elena memegang sepatu berwarna peach dengan hills sedang keluaran terbaru dari brand ***.
"Tentu saja, Nyonya. Itu terkesan sederhana namun sangat menampilkan keanggunan." Jawab Clary tersenyum memberikan pemdapat.
"Kalau begitu, Saya pilih yang ini juga." Ucap Elena pada pegawai toko yang dari tadi berdiri di belakangnya.
"Baik, Nyonya." Patuh pegawai toko.
Beberapa jam berlalu, Elena telah membeli beberapa pakaian dan sepatu mewah.
Terlihat beberapa goodie bag Ia tenteng di lengannya, begitu juga dengan Clary yang membantu membawa beberapa barang belanjaan Elena.
Elena dan Clary tiba di parkiran mall, terlihat sang supir sudah siaga membuka bagasi mobil untuk menyimpan barang belanjaan majikannya. Kemudian beralih membukakan pintu mobil untuk Clary dan Elena.
Mobil melaju sedang meninggalkan mall setelah mendapat perintah dari Elena untuk pulang. Karena hari ini sudah cukup Ia menghabiskan ratusan juta hanya untuk membeli pakaian dan sepatu.
Beberapa menit perjalanan, Elema sampai di depan kontrakan Clary karena Elena bersikeras ingin mengantar Clary pulang.
Supir turun membukakan pintu untuk keduanya. Clary dan Elena turun bersamaan dari dalam mobil.
Clary melangkahkan kakinya di samping Elena.
Sebelum Clary masuk setelah berpamitan, Elena menghentikan langkah Clary. Kemudian meminta supir untuk membuka bagasi mobil.
"Ini untukmu." Ucap Elena mengulurkan benda di tangannya.
"Apa ini, Nyonya?" Tanya Clary kebingungan.
"Ambil saja." Ucap Elena lembut sambil menggenggamkan goodie bag di tangan Clary.
"Maaf, Nyonya. Tapi sepertinya ini terlalu berlebihan. Saya tidak berhak mendapatkannya, Nyonya." Ucap Clary sungkan.
"Clary, Kau tau kan Saya tidak suka penolakan? Anggap saja ini sebagai tanda terima kasih karena sudah menemani Saya." Tandas Elena tegas.
Clary pun terpaksa menerima barang tersebut.
"Terima kasih, Nyonya." Ucap Clary tersenyum kecut.
Elena pun mendekat lalu memeluk Clary dengan sayang. Clary yang mendapat perlakuan seperti itu tentu saja kaget namun merasa sangat nyaman layaknya dipeluk ibu sendiri.
"Tidak perlu sungkan. Nanti juga akan terbiasa." Ucap Elena lalu melepas pelukannya.
Clary hanya tersenyum mendengar perkataan Elena tanpa bertanya apa maksudnya.
Elena masuk ke dalam mobil lalu membuka kaca jendela mobil dan melambaikan tangan ke Clary yang kemudian juga dibalas lambaian tangan oleh Clary.
Clary masuk ke dalam kontrakannya setelah mobil Elena sudah tak terlihat.
Saat Clary menutup pintu dan berjalan ke ruang tamu, tiba-tiba Clary terkejut melihat apa yang ada di hadapannya.
Bersambung...
Typo? Maaf.
Jangan lupa like, komen, dan vote nya guys🙏🙏
Karena dukungan kalian sangat bermanfaat untuk author😊
Terima Kasih.