
Clary tak menghiraukan sikap David dan malah memilih untuk tidur.
Sementara David yang masih sibuk dengan ponselnya tak menyadari jika istrinya telah bergabung ke alam mimpinya.
"Bagaimana cara berduaan dengan istri?"
"Apa ngga aneh yah?" Gumam David dalam hati melihat apa yang diketiknya.
Ia pun menghapus tulisannya dan memikirkan kembali kata-kata yang pas.
"Bagaimana cara merebut hati istri?"
"Ah, sama aja. Ngga ada gunanya." Batin David kesal.
Ia pun melihat ke arah istrinya yang malah tertidur lelap di dekatnya. David menghela nafas panjang lalu membelai wajah Clary dengan lembut dan menutupi badan Clary dengan selimut.
"Sampai kapan Aku harus menahan diri? Ini resikonya jika punya pasangan yang tidak peka." Batin David lagi-lagi menghela nafasnya dan tersenyum.
Ia pun ikut berbaring dan terlelap bersama istrinya.
***
David sibuk berkutat dengan laptop dan dokumen di atas mejanya. Begitu juga dengan Clary yang membantunya. Clary duduk di sofa ruangan David, sedangkan David duduk di kursi kebanggaannya. Sesekali mata David mencuri pandang pada istrinya yang terlihat sangat serius dan tetlihat lebih sehat mengerjakan urusan kantor yang menumpuk.
Selain pandai, Clary juga selalu serius dalam menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan seberapa banyak dan berat pun pekerjaannya, Ia tak pernah mengeluh dan selalu santai menghadapinya. Hal itu yang membuat David tertarik dengan sosok wanita di depannya.
David tersenyum lalu meletakkan Pulpen yang sedari tadi di pegangnya untuk menandatangani beberapa dokumen. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Clary. David duduk di dekat istrinya, menyibakkan anak rambut Clary yang sedikit menutupi wajahnya, membuat Clary memalingkan wajah ke arah David.
"Pak?!" Ucap Clary.
"Ayo makan." Ajak Davi memegang tangan Clary hendak menariknya.
"Tunggu, ini harus dibereskan dulu." Ucap Clary melepaskan genggaman David lalu merapikan beberapa dokumen yang ada di atas meja. Setelah selesai, mereka berdua pun keluar untuk mencari makan. Seperti biasa, David berjalan mendahului Clary, dan Clary mengikut di belakang David layaknya seorang sekretaris. Mereka berjalan menuju lift, dan saat pintu lift terbuka, mereka pun masuk dengan posisi yang tak berubah, yakni David berdiri agak depan dari Clary.
Pintu lift terbuka membuat keduanya segera melangkahkan kakinya keluar dari lift. David sadar langkah kakinya membuat Clary kewalahan untuk mensejajarkan langkah mereka. Akhirnya, David pun memelankan langkahnya sehingga mereka dapat berjalan beriringan.
Setiap pegawai yang dilalui David dan juga Clary menunjukkan senyum dan hormat kepada mereka berdua. Namun, telinga Clary tak luput juga dari gunjingan beberapa karyawan termasuk salah satu resepsionis.
Clary pamit pada David untuk ke toilet dan meminta David untuk menunggunya di mobil. David pun mengiyakan permintaan Clary.
Clary masuk ke toilet wanita. Saat ingin keluar, tak sengaja ia mendengar pembicaraan dua orang wanita di depan pintu toilet.
"Eh, liat ngga Bu Clary.. Kok bisa-bisanya sih barengan terus sama orang ganteng? Kemarin Pak Ken, sekarang Boss juga terlihat akrab sama dia. Sebenarnya Bu Clary itu siapa sih?" Ujar salah satu karyawan.
"Ngga tau. Padahal denger-denger ya, Katanya dia itu yatim piatu loh. Bisa aja dia pakai jalan pintas buat deketin para orang kaya kan?" Balas karyawan lain. Kamudia langkah kaki mereka pun terdengar menjauh membuat Clary terduduk diatas Closet dengan wajah sendu hingga air matanya pun lolos tanpa kesengajaannya.
Clary keluar dan membasuh wajahnya di wastafel toilet. Ia memperhatikan wajahnya yang terlihat kusam di depan cermin. Ia pun berusaha tak memperdulikan semua yang Ia dengar, lalu memperbaiki make up nya agar terlihat tetap segar.
"Anggap angin lalu. Itu karena mereka hanya tidak tau kebenarannya." Clary menghela nafas lalu menyemangati dirinya sendiri dengan memperlihatkan senyum manisnya.
Hanya itu yang dapat Clary lakukan untuk menutupi kesedihannya saat ini. Menjadi orang yang berada di sekitar David memanglah sangat jauh untuk Clary. Namun apa salahnya jika dia menjadi bagian dari hidup orang yang Ia cintai?
Cinta? Ya, itulah perasaan Clary sekarang pada lelaki tampan nan kaya berkedok suaminya.
Bersambung...
Terima kasih buat teman-teman yang udah mampir ke novel aku. Tanpa kalian, Novel aku bukan apa-apa.
Makannya Author mohon agar teman sekalian memberikan like, vote, dan komentar kalian.
Supaya Author lebih semangat lagi buat ngembangin novel ini.
Terima kasih, Guys😊