My Lovely CEO

My Lovely CEO
Tidak sengaja



Jam menunjukkan pukul 12.00 menandakan waktu makan siang telah tiba. Clary merapikan mejanya dan hendak keluar makan siang, namun niatnya terhenti saat David memanggilnya melalui telepon ekstensi. Clary pun masuk ke ruangan David.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tanya Clary menunduk hormat.


"Tolong siapkan makan siang Saya. Saya ingin makan Spagetti yang ada di restaurant seberang jalan dan minumannya Orange juice." Ucap David santai.


"Baik, Pak." Patuh Clary.


Clary tak mempermasalahkan hal tersebut karena itu sudah termasuk kewajibannya sebagaimana yang tertera dalam dokumen yang diberikan Ken kepadanya.


Clary pun hormat undur diri dan bergegas untuk membeli makanan di restauran tersebut. Clary memasuki lift lalu menekan tombol menuju lantai 1. Saat sampai di lobi, Clary yang terburu-buru karena takut jam makan siangnya habis tak sengaja menabrak seseorang.


Brug..


"Aw.." Pekik Clary.


Keduanya tidak sampai tersungkur di lantai. Hanya terpental ke samping.


"Maaf, Bu. Saya tidak sengaja." Ucap Clary memiringkan wajahnya menatap seorang perempuan paruhbaya dan memegang bahu orang tersebut.


Alangkah terkejutnya Clary saat melihat wajah orang yang ditabraknya tersebut.


"I-ini kan maminya Pak David. Astaga, kenapa aku bisa seceroboh ini? Tamatlah riwayatku." Gerutu Clary dalam hati menggigit bibir bawahnya.


"Ma-maafkan Saya, Nyonya. Saya tidak sengaja. Sungguh Saya tidak sengaja. Saya kurang hati-hati. Tolong jangan pecat Saya." Clary meminta maaf dengan berulang kali menunduk hormat.


Bagaimana tidak, orang yang ditabraknya adalah Ibu dari bossnya sendiri. Clary langsung bisa mengenali wajahnya, karena beberapa kali melihat foto keluarga David di Apartementnya.


"Tidak apa-apa. Toh kau juga tidak sengaja." Ucap Elena tersenyum.


Clary yang mendengar perkataan Elena langsung mendongakkan kepalanya menatap Elena dengan senang.


"Terima kasih, Nyonya." Senyum sumringah Clary mengembang.


Clary melihat Elena menjinjing beberapa paper bag di tangannya. Sebagai ungkapan maaf, Clary pun mengajukan diri untuk membantunya membawa paper bag tersebut.


"Nyonya, biar Saya yang membawanya." Pinta Clary.


"Hmm? Baiklah" Ucap Elena tersenyum dan memberikan bawaannya kepada Clary.


Clary.


Sesampainya Clary dan Elena di ruangan David, Elena pun langsung masuk tanpa mengetuk pintu dan diikuti oleh Clary.


Di dalam ruangan, Clary terlihat duduk bersandar di atas sofa memejamkan sambil memijit mijit keningnya.


"Lian." Sapa Elena membuat David langsung membuka mata menatap ke arah sumber suara.


"Mami?" Ucap David kaget dan tiba-tiba berdiri lalu berjalan ke arah Elena.


"Kenapa Mami tidak mengabari David dulu kalau Mami ingin ke sini?" Tanya David lalu memeluk Elena.


"Apa mami harus izin dulu jika ingin melihat putra Mami?" Ucap Elena dengan raut wajah kecewa yang dibuat-buat.


"Bukan begitu, Mi. Maksud David, Mami tak perlu repot-repot ke kantor. Biar David yang mengunjungi Mami." jelas David.


"Mami hanya ingin memberi surprise." imbuh Elena tersenyum.


Clary yang melihat pemandangan tersebut hanya diam sambil menenteng paper bag yang dibawa Elena.


"Ternyata dia juga bisa selembut ini." Batin Clary.


"Mami duduklah." Pinta David menggiring Elena untuk duduk di sofa.


Kemudian David berbalik ke arah Clary yang masih mematung di samping sofa. Pandangan mereka bertemu. David mengangkat alisnya sebelah mengisyaratkan sedang apa disini. Clary yang mengerti langsung membuka mulutnya.


"Nyonya, ini bawaan Anda saya simpan disini." Ucap Clary santun dan meletakkan bawaannya di atas meja sofa.


"Oh, Lian. Mami bawa makanan kesukaanmu. Ayo makan siang bersama." Elena dengan raut wajah bahagianya.


"Dan Dia?" Tanya Elena yang menunjuk Clary dengan tatapannya.


"Ahh, Dia sekretaris David, Mi. Clary Angelica." Jawab David yang langsung mengerti maksud Maminya.


"Oh. Sekretaris Clary?! Ikutlah makan siang bersama kami. Waktu makan siangnya juga tinggal sedikit." Ajak Elena lalu menepuk-nepuk tempat duduk di sebelahnya.


"Terima kasih, Nyonya." Clary pun hanya menuruti permintaan Elena dan duduk di belelah Elena karena tidak enak hati jika harus menolaknya.


Akhirnya mereka pun makan siang bersama di ruangan David. Entah dimana niat awal Clary yang diminta membeli makan siang untuk David.


Bersambung...