
Clary masuk ke ruangannya yang cukup luas.
Clary menatap takjub setiap sudut yang ada di ruangannya. Pasalnya, baru kali ini Ia bekerja di kantor besar dan mewah dengan fasilitas yang sangat lengkap.
"Wah...Keren banget. Kalau Kayak gini, Aku bakal semangat kerjanya hehe.." Batin Clary sambil cengengesan.
Clary pun duduk di meja kerjanya dan mengambil dokumen di atas meja tersebut untuk dipelajari. Karena ini adalah hari pertamanya, jadi Ia tidak terlalu sibuk. Clary hanya perlu mempelajari dokumen yang diberikan oleh Manager Perencanaan dan Pengembangan, yang tak lain adalah Ken.
Selain itu, Ia juga harus mengetahui semua informasi tentang perusahaan agar nanti saat bekerja, Ia tidak membuat kekacauan.
Sepekan berlalu...
Clary menikmati pekerjaannya. Ia juga telaten dalam menjalankan tugasnya. Sebagai sekretaris, semua yang Ia lakukan bisa dibilang melebihi standar. Seperti Mengatur jadwal, cekatan dan kompeten dalam menilai proyek, sampai membuatkan minuman atau kopi, mengantarkan makan siang untuk CEO, Semua Ia lakukan tanpa menunjukkan celah.
David pun yang selaku CEO tidak pernah mengkritik pekerjaannya.
Jam menunjukkan pukul 18.15. Jam pulang kerja pun sudah lewat 1 jam 15 menit. Karena jam kerja hanya sampai pukul 17.00.
Clary pun membereskan beberapa dokumen yang bertumpuk di atas mejanya. Karena hari ini CEO tidak masuk kantor, jadi Clary yang mengurus semua kerjaannya selaku Sekretaris menggantikan Ken. Setelah selesai membereskan dokumen, Clary bersandar di kursinya lalu meregangkan otot-ototnya.
"Ahh.. Akhirnya selesai juga," Ucap Clary lega.
Clary pun mengambil tas jinjing berwarna coklat di atas meja, lalu berjalan menuju keluar untuk pulang.
***
David yang sedang bersantai di sofa depan TV merasa sangat terbantu dengan adanya sekretaris. Karena kesibukannya mulai berkurang dan Ia punya banyak waktu untuk bersantai.
"Kenapa gak dari dulu aja gue rekrut sekretaris?! Kalau gini kan gue enak, kerjaan gak terlalu banyak. Hh.." pikir David tersenyum simpul.
Drrttt...
Drrttt...
"Halo, Mi." Sapa David.
"Halo, Lian. Apa kabar kamu, nak? Gimana kerjaan kamu? lancar?" Tanya Elena, Mami David.
"Baik, Mi. Kerjaan David juga lancar. Kabar Mami gimana?"
"Syukurlah. Mami juga baik. Lian... Mami sama Papi rindu sama kamu. Kamu jarang ngunjungin Mami sama Papi dengan alasan sibuk." Elena dengan nada sedih.
"Maaf, Mi. Akhir-akhir ini David emang lagi sibuk. Gini deh, besok kalau pulang kantor, David sempatin ke rumah ya, Mi?!" Bujuk David.
"Yaudah. Mami Tunggu ya. Kalau gitu, kamu istirahat sana. Jaga kesehatan kamu ya, Nak. Mami sama Papi mau istirahat juga". Ucap Elena bahagia.
"Iya. Mami sama Papi juga jaga kesehatan di sana. Bye, Mi." Jawab David lalu menutup telelpon.
Setelah David menutup telepon, David pun mematikan TV lalu berjalan ke Lantai 2 menuju kamarnya untuk istirahat.
David memang terkenal dengan sikap dinginnya, Tapi hal itu terkecuali untuk kedua orang tuanya. Ia sangat sayang dan patuh pada orang tuanya. Tapi soal perusahaan, Ia menepiskan sikap patuhnya karena alasan ingin hidup mandiri. Orang tuanya pun berusaha mengerti dan memberikan David kesempatan dan kebebasan untuk melakukan apa yang dia inginkan, selama tidak merugikan dirinya dan juga orang lain.
Bersambung...
Maaf ya, Guys. Kalau ada typo atau sesuatu yang agak kurang nyambung. Mohon dimaklumi😅