My Lovely CEO

My Lovely CEO
Perhatian



Keesokan paginya


Sinar matahari masuk melalui celah fentilasi kamar mengenai wajah David. David mengerjapkan kedua matanya berusaha untuk bangun dari tidurnya. Setelah sadar sempurna, David turun dari ranjangnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa menit kemudian, David keluar hanya memakai kimono mandinya. Ia berjalan ke ruang ganti untuk memakai pakaiannya yang telah disiapkan oleh Clary. David berjalan menapaki anak tangga menuju ke dapur. Namun saat berada di anak tangga terakhir, langkahnya terhenti beberapa detik karena mendengar suara sesuatu yang pecah dari arah dapur.


David mempercepat langkahnya menuju dapur untuk melihat apa yang sedang terjadi. Saat David berada di ambang pintu, Ia melihat Clary sedang berjongkok memunguti pecahan beling yang berserakan di lantai.


"Aw!" Pekik Clary yang tangannya tak sengaja digores beling hingga jari telunjuknya menitihkan darah segar.


David yang melihat hal tersebut sontak berjalan dengan langkah cepat menuju arah Clary dan berjongkok tepat dihdapan Clary.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya David yang tiba-tiba memegang tangan Clary dan membersihkan darah yang ada di jari Clary dengan menghisapnya. Clary yang melihat hal tersebut hanya bungkam dan membulatkan matanya menatap David.


"Kalau bekerja, hati-hati." Titah David masih sibuk mengobati tangan Clary.


Clary masih mematung di tempat tanpa berucap sedikitpun sampai tak sadar bahwa David sudah tak ada didepannya.


David berjalan mengambil kotak P3K. Namun saat kembali, Clary masih tetap di posisinya tanpa bergerak sedikitpun.


"Hei. Mau sampai kapan kau berjongkok disitu. Kemari!" Perintah David dan duduk di kursi meja makan.


Ucapan David membuyarkan lamunan Clary. Sontak Clary mengikuti David duduk di kursi sebelahnya, namun masih berperang dengan pemikiran dan jantungnya berdetak sangat cepat.


David mendekatkan kursinya dengan kursi Clary kemudian membuka kotak P3K untuk mengambil plester dan menempelkannya di jari Clary.


Clary menatap lekat-lekat wajah pria tampan di depannya.


"Ya Tuhan. Ada apa ini? Kenapa boss dingin ini sangat tampan bahkan lebih tampan jika dilihat sedekat ini? Dan... Ternyata perhatian. Arrghh... Apa yang aku pikirkan." Teriak Clary dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kau kenapa? Apa ini sakit?" Tanya David mengangkat sebelah alisnya karena melihat tingkah Clary.


"Ah, tidak tidak. Ini sudah tidak apa-apa. Terima kasih, Pak." Jawab Clary cepat dan menarik tangannya yang sudah diobati dari genggaman David.


"Baiklah. Lain kali hati-hati." Ucap David.


Clary masih diam di tempat.


"Ah, baik pak. Akan Saya siapkan." Clary tersentak dan kemudian berjalan cepat untuk menyiapkan sarapan.


Beberapa makanan sudah tertata rapi di atas meja. Semenjak Clary bekerja di rumah David, Ia tak pernah hanya menyiapkan roti dan selai untuk sarapan. Tapi berbagai macam kebutuhan tubuh seperti makanan dan sayuran yang mengandung karbohidrat, Vitamin, Protein, dsb.


Setelah menata makanan, Clary pun duduk di kursi sebelah David.


"Saya menyuruhmu berhati-hati bukan karena Saya perhatian padamu. Saya hanya tingin kau memecahkan semua piring yang ada di rumah ini." Jelas David menunjuk ke wajah Clary.


"Cih! Apa-apaan Dia? Ternyata aku hanya ke GR-an. Wajah khawatirnya tadi bukan untukku. Tapi untuk piring-piringnya." Gerutu Clary dalam hati.


"Baik, Pak. Saya pastikan tidak ada lagi lain kali." Ucap Clary menunjukkan senyum ramahnya namun hatinya tak henti-hentinya memaki Boss yang ada dihadapannya.


"Aku tarik kembali kata-kataku bahwa dia perhatian." Batin Clary menatap sinis pada David yang tetap santai menikmati makanannya.


David dan Clary sampai tiba di kantor. David berjalan menuju lift dengan Clary mengekor di belakang. Lift berhenti tepat di lantai 30 dimana kedua ruangan orang tersebut berada.


Clary dan David masuk ke ruangan masing-masing. David melepas jasnya dan meletakkannya di hanger yang ada di ruangannya. David duduk di kursi kebanggaannya menatap kedepan dengan kedua tangan mengepal di depan dagunya dengan kedua sikut di letakkan di pegangan kursi masing-masing. David memikirkan hal yang terjadi di apartementnya beberapa menit yang lalu.


"Apa yang aku lakukan? Mengapa aku sangat khawatir padanya? Hh.." Batin David tersenyum kecut.


Lamunannya terhenti saat mendengar suara ketukan dari luar. Seorang berjalan ke arahnya membawa secangkir kopi di tangannya. Siapa lagi kalau bukan Clary.


"Ini kopinya, Pak." Clary meletakkan kopi di atas meja sambil membungkuk hormat lalu mundur mengambil jarak.


Clary menjelaskan jadwal David hari ini sangat jelas. David hanya manggut-manggut mengerti. Kemudian memberi isyarat kepada Clary untuk keluar. Clary pun paham dan berjalan keluar setelah menunduk hormat pada atasannya itu.


Bersambung...


Typo bertebaran? Maaf ya, Guys.


Jangan lupan like and Vote ya kalau kalian suka novel ini. Dan jangan lupa juga dijadikan favorite.


Enjoy😂😂