
Clary sudah menggeliat kesana kemari karena merasa semakin panas. Ia tak bisa lagi menahan rasa panas akibat ulahnya sendiri. Sedangkan David yang pura-pura tidur hanya tersenyum puas tanpa suara merasakan istrinya terus bergerak kepanasan di belakangnya.
Clary sudah muak dengan permainanya sendiri, Ia pun akhirnya turun dari ranjang dan menuju ke kamar mandi mengganti pakaiannya.
Sekarang Ia juga ikut memakai piyama tidur yang tidak terlalu tipis karena masih harus berjaga-jaga jangan sampai hal yang tidak diinginkan terjadi.
Clary kembali merangkak naik ke ranjang dan merebahkan dirinya cukup jauh dari suaminya sampai-sampai Ia tidak bisa lagi bergeser lebih jauh karena tak ada tempat lagi. Ia mengambil guling lalu meletakkannya di antara mereka berdu. Clary pun menarik selimut sampai dada dan tertidur. Sedangkan David memang sudah terlelap dari tadi karena puas menertawai istrinya.
Pagi menyapa, mentari mulai memancarkan sinarnya. Jam walker berbunyi, David mengerjapkan kedua matanya untuk menyempurnakan penglihatannya.
Namun saat benar-benat sadar, Ia merasa ada beban berat yang menimpa dada dan juga kakinya. Ya, Clary memeluk David dengan posisi tangannya da dada David, dan pahanya di kaki David. Orang yang dipeluk pun hanya tersenyum dan malah mematikan jam walker tanpa membangunkan istrinya yang cukup imut menurutnya dan ikut tertidur kembali.
Jam menunjukkan pukul 06.25. Clary meraba-raba sesuatu yang dipeluknya yang Ia kira guling namun masih dengan mata terpejam. Namun tangannya terhenti saat merasakan sesuatu yang keras. Ia pun mencoba merem*s apa yang dipegangnya, lalu perlahan membuka matanya. Saat membuka mata, betapa terkejutnya Ia saat mendapati tangan dan kakinya merengkuh tubuh laki-laki di dekatnya.
"Aaaaaa...." Teriak Clary yang hampir saja memecahkan gendang telinga David. Clary langsung bangun dari tidurnya dan mengambil jarak dari David.
David yang mendengar teriakan istrinya juga ikut terbangun.
"Ada apa? Kenapa kau teriak-teriak di pagi buta begini?" Tanya David lalu mengubah posisinya untuk duduk.
"Bagaimana ini?๐ฃ Aku yang membuat jarak, tapi malah aku sendiri yang melewatinya." Gumam Clary menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Hey!" Tegur David.
"Ah.. Tidak, tidak apa-apa. Saya pikir tadi ada kecoa disitu." Ucap Clary gugup menunjuk ke meja yang ada di samping tempat tidur.
"Hmm..๐ Bukannya kau tidak takut kecoa?" David mengernyitkan dahinya keheranan, karena menurut sepengetahuannya, Clary tak pernah takut pada kecoa mengingat bagaiman Ia dulu membantunya mengusir kecoa di apartementnya.
"Ahh... I-itu.. Mm.. Anu, Saya hanya kaget saja๐ ." Alasan Clary.
Ia pun mengambil handuk serta baju ganti dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Sedangkan David hanya tersenyum melihat tingkah Clary yang semakin lama semakin menggemaskan baginya.
15 menit kemudian, Clary keluar dengan pakaian rapihnya dan David gantian masuk ke dalam kamar mandi. Clary menyiapkan pakaian David sebagaimana ajaran mertuanya, lalu keluar menuju lantai dasar untuk ikut membantu menyiapkan sarapan.
"Pagi." Sapa Clary pada Fang dan pelayan lainnya yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.
"Pagi Nona Muda." Jawab Fang membungkuk hormat diikuti pelayan lainnya.
"Apa yang bisa kubantu?" Tanya Clary.
"Tidak perlu Nona, biar kami yang mengerjakannya. Nona duduk saja." Tolak Fang sopan.
"Tidak apa-apa. Aku juga terbiasa memasak๐." Tawar Clary lagi.
"Tidak Nona. Biarkan kami yang mengerjakannya. Nona tunggu saja di meja makan." Fang tetal menolak karena takut jika majikannya memarahinya karena menantu kesayangannya juga ikut bekerja di dapur. Walaupun Ia tau, bahwa Elena jarang sekali marah.
Baru saja Clary ingin mencoba membujuk Fang lagi, namun suara seseoarang menghentikan niatannya.
"Clary."
Clary pun membuka mulut dan meminta teman-teman sekalian untuk selalu mendukung novel ini agar Author semakin semangat update new part nya๐๐
Jangan lupa like, kritik dan saran (kalau ada), dan vote nya ya Guys. Dan juga jangan sungkan untuk share ya supaya banyak yang terhibur dengan novel ini๐
Terima kasih๐๐๐