
"Kenapa tidak memberitahuku? Kalau terjadi apa-apa pada kalian bagaimana? Aku —"
Erik terdiam saat Aluna menarik tangannya, lalu meletakkan di atas perut wanita itu.
"Jangan marah-marah, Daddy ..."
Mendengar Aluna memanggilnya dengan sebutan Daddy, membuat kemarahan di hati pria itu langsung menghilang begitu saja.
"Maaf sayang, aku hanya khawatir dengan keadaan kalian," ia memeluk Aluna dengan bahagia karena apa yang diinginkannya akhirnya terkabul juga. Kini di dalam perut wanita yang sangat dicintainya itu, ada darah dagingnya yang sedang bertumbuh. "Terima kasih sudah mengandung buah cinta kita," ucapnya kembali.
Rasa cemas yang dirasakan Erik ketika melihat Aluna pingsan, kini berganti dengan rasa bahagia. Sebuah kebahagiaan yang ikut dirasakan Aji dan Lilian. Terutama Aji, karena sudah sejak lama ia menginginkan seorang cucu yang akan meneruskan garis keturunan Cokrodinata.
"Selamat menantuku," ucap Aji dengan tersenyum bahagia. "Jaga baik-baik keturunan Cokrodinata."
Aluna pun menganggukkan kepalanya. "Daddy mertua tidak perlu khawatir, aku pasti akan menjaganya. Tapi... " Aluna mengalihkan tatapan matanya pada Iriana yang sejak tadi diam, dan terlihat tidak suka mendengar kehamilannya.
Semua orang pun ikut menatap pada Iriana, sampai membuat wanita paruh baya itu menjadi kikuk dan salah tingkah.
"Tapi apa? Katakan, jangan takut!" ucap Aji dengan tegas.
"Aku takut Mommer menyuruhku ini dan itu lagi. Damer tahu bukan aku sedang hamil, dan ibu hamil tidak boleh kelelahan. Bukan begitu, Dok?"
Dokter pun menganggukkan kepalanya, lalu menjelaskan seputar kehamilan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan seorang ibu yang sedang hamil.
"Kau dengar itu, Bu! Aku tidak ingin menantu dan cucuku kenapa-kenapa, jadi mulai hari ini kau tidak boleh lagi menganggu Aluna apalagi sampai membuatnya banyak pikiran," perintah Aji dengan tegas tak terbantahkan setelah dokter keluar dari ruang rawat. "Aku juga ingin mulai hari ini kau ikut menjaga Aluna, dan mengikuti semua keinginannya!"
"I-iya Pak," jawab Iriana meskipun dengan terpaksa.
Melihat bagaimana wajah Iriana yang ketakutan. Aluna pun tersenyum tipis dengan penuh kemenangan, karena sudah berhasil membuat ibu mertuanya itu tak berkutik
"Sudah puas mengerjainya?" tanya Erik dengan berbisik, setelah melihat senyuman yang disembunyikan Aluna.
Ya, Erik tahu betul istrinya itu tengah mengerjai Ibu Iriana melalui Aji. Karena sebenarnya ia yakin Aluna bisa menghadapi ibu tirinya itu meski tanpa bantuan siapapun, termasuk dirinya.
"Belum," jawab Aluna dengan ikut berbisik.
"Kau ini..." Dengan gemas Erik mencium bibir Aluna meskipun di ruangan tersebut masih ada kedua orang tuanya.
Bahkan ia tak lagi mempedulikan ayah Aji yang masih memberikan ancaman-ancaman pada Ibu Iriana.
"Selamat ya sayang," ucap Lilian sambil mengusap rambut menantunya dengan penuh kasih.
"Terima kasih Mom." Aluna memeluk ibu mertuanya itu dengan hangat.
Ya, jika dengan Ibu mertuanya Aluna selalu memanggil Mom, karena sudah menganggap Ibu Lilian seperti Ibu kandungnya sendiri.
"Jaga menantu dan calon cucuku ini!" ucap Lilian pada putranya dengan tegas.
"Itu sudah pasti, Bu. Aku akan menjaga mereka dengan baik."
Erik mengusap perut Aluna yang masih rata lalu kembali mencium bibir istrinya berulangkali, sampai membuat Ibu lilian menggelengkan kepalanya dengan apa yang dilakukan putranya.