
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit, akhirnya mobil yang ditumpangi Aluna sampai disebuah rumah berlantai dua dengan desain eropa klasik modern.
"Benar ini alamatnya? Kau tidak salah bukan?" tanya Aluna dengan tak percaya pada Revano.
Karena ia pikir tempat tinggal yang akan ditempatinya berukuran kecil, sama seperti apartemen milik Erik. Tapi tenyata dari luar pagar saja bangunan itu tampak megah dan pastinya mahal, melihat kawasan rumah tersebut yang terbilang elit.
"Benar Nona," jawab Revano sembari menatap rumah yang terbilang cukup besar itu.
Aluna yang masih ragu mengambil foto rumah tersebut lalu mengirimkannya pada Erik, bertanya apa benar rumah tersebut tempat yang akan mereka tinggali. Tanpa menunggu lama, Erik membalas pesan Aluna dengan begitu singkat. Pesan yang berisi agar ia menunggu ditempat tersebut tanpa menjelaskan lebih rinci.
"Sepertinya memang ini rumahnya. Kau boleh pulang, No! Dan ingat, jangan terlambat menjemputku!" peringat Aluna.
Ya, hari ini dia datang terlambat ke tempat kerja karena Revano yang terlambat menjemputya di apartemen. Karena semalam ia pulang ke apartemennya, bukan ke mansion Ricardo.
Revano sendiri hanya menjawab dengan anggukkan kepala tanpa mau mendebat. Padahal ingin sekali ia berkata kalau hal yang wajar dia datang terlambat, mengingat Nona nya itu sudah tidak tinggal di mansion Ricardo. Dan sebenarnya sudah bukan menjadi tugas Revano mengantar jemput Aluna, karena ia sudah ditugaskan oleh Tuan ricardo untuk mengantar jemput Alona.
"Tapi Nona, apa Anda yakin baik-baik saja jika aku tinggal?" tanya Revano dengan perasaan tak tega meninggalkan Aluna ditempat baru tersebut.
Bagaimana Revano bisa tahu rumah berlantai dua tersebut tempat tinggal baru Aluna. Karena tadi wanita itu menjelaskan alamat yang mereka tuju, adalah tempat tinggal yang akan ditempati Aluna dan dia harus menjemput ditempat tersebut setiap paginya.
"Ya, kau tenang saja. Aku akan baik-baik saja." Aluna turun dari dalam mobil setelah menyuruh Revano pulang.
"Kenapa tidak ada orang yang keluar?" gumam Aluna dengan bingung.
Dia kembali menekan bel pintu berulang kali tapi tetap saja tidak ada yang membukakan pintu gerbang tersebut.
"Sial, jangan bilang kalau di rumah sebesar itu tidak ada pelayan atau petugas keamanan?" tebaknya dengan sangat kesal sembari mengambil ponselnya untuk menghubungi Erik, meminta pria itu agar cepat pulang.
Sungguh kalau saja Aluna tahu rumah tersebut kosong, maka ia akan meminta Revano untuk menemaninya lebih dulu sampai Erik pulang. Tapi sekarang supirnya itu sudah pergi, meninggalkannya seorang diri di depan gerbang rumah tersebut
Kekesalan yang dirasakan Aluna kini semakin bertambah karena ponsel Erik yang tidak aktif. Bagus sekali bukan suami tercintanya itu. Menyuruh istri sah nya untuk menunggu, sedangkan si brengsek itu tengah asik berkencan dengan Agatha.
Sementara itu ditempat yang berbeda. Erik tengah mengendarai mobil pribadinya menembus jalanan dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Bukan tanpa alasan pria itu melakukan hal tersebut, tapi karena ia sadar ada Aluna yang tengah menunggu kedatangannya.
Ya, Erik baru bisa pulang setelah menemani Agatha makan malam. Itu pun setelah ia berbohong ada banyak perkejaan yang harus dilakukannya, jika tidak Agatha akan terus menahannya untuk tidak pulang.
Jujur Erik sendiri bingung dengan sikap Agatha belakang ini yang sering datang menjemputnya pulang kerja dan menghabiskan waktu bersama. Karena dulu wanitanya itu sangatlah sibuk, bahkan setiap ia mengajaknya untuk makan malam Agatha selalu tidak bisa.
"Angkat Aluna..." gumam Erik yang sejak tadi mencoba menghubungi ponsel wanita itu, tanpa mengalihkan fokusnya pada jalanan.
Karena panggilannya tidak diangkat juga oleh Aluna. Erik pun mengirim pesan suara jika ia tengah berada di jalan dan sebentar lagi akan sampai.