My Husband My Assistant

My Husband My Assistant
Bab 56



"Turunkan aku, Erik!" Aluna kembali berteriak. Karena pria itu terus membawanya pergi tanpa peduli Azam yang menghalangi.


"Diam, Lun! Atau aku akan memaksamu bercinta di tempat ini sekarang juga!" ancam Erik, yang berhasil membuat wanitanya diam.


Erik terus berjalan membawa Aluna pergi tanpa mempedulikan Agatha mau pun Azam yang kini tertahan oleh orang-orangnya. Tenyata ada untungnya juga ia membiarkan orang-orang itu terus mengikutinya selama ini, karena akhirnya berguna di saat ia membutuhkan bantuan.


"Kau gila ya? Apa yang kau lakukan?" Aluna mengumpat suaminya setelah pria itu membawanya masuk ke dalam mobil.


"Ya, aku memang gila," sahut Erik sembari mengendari kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


Kemarahannya kini tak lagi terbendung melihat sikap Aluna yang terasa dingin dan ketus. Bahkan tadi wanita itu merendahkan posisinya yang hanya sebagai seorang bawahan. Sungguh bukan Aluna yang ia kenal selama ini dan Erik tidak suka dengan perubahan istrinya tersebut.


"Hentikan mobilnya, Erik!" pinta Aluna dengan tegas.


Erik sendiri tak menggubris permintaan Aluna. Tujuannya saat ini hanya satu memberikan hukuman bagi wanita itu dengan menunjukkan posisinya yang bukan hanya seorang asisten pribadi, tapi seorang suami.


"Erik turunkan aku!" pinta Aluna untuk kedua kalinya.


Namun lagi-lagi pria itu tak mempedulikan permintaannya. Telinga Erik seakan tuli tak mau mendengar semua umpatan yang keluar dari mulut Aluna. Bahkan sepanjang perjalanan sampai mereka tiba di rumah, pria itu hanya diam tak membalas semua perkataan tajamnya.


"Masuk!"


Erik menarik Aluna masuk ke dalam rumah mereka, meskipun wanitanya itu menolak dan meronta. Mendorong tubuh Aluna ke atas sofa lalu menghimpitnya agar tidak melarikan diri.


"Kau mau apa?" tanya Aluna dengan jantung yang berdetak dengan cepat.


"Jangan memancing amarahku lagi!" pinta Erik dengan tegas, lalu duduk di samping Aluna dengan membawa wanita itu ke atas pangkuannya.


Aluna sendiri hanya diam tak lagi memberontak karena begitu gugup dengan posisi mereka yang begitu intim. Jika saja keduanya sedang tidak bermasalah, maka Aluna akan merasa bahagia bahkan akan menyerang Erik untuk ia cium dan peluk, mengingat sudah tiga hari ini mereka tidak bertemu.


Terdengar bodoh bukan. Meskipun sakit hati pada Erik, tapi Aluna tidak bisa jauh dari pesona suaminya yang selalu membuat Aluna kehilangan akal sehatnya.


"Maaf," ucap Erik dengan mengeratkan pelukannya pada pinggang Aluna, agar wanitanya lebih nyaman dengan posisi mereka. "Maaf sudah menyakitimu."


Aluna hanya diam tak menjawab permintaan maaf suaminya.


"Kau mau memaafkan aku?"


"Tidak." Aluna menggelengkan kepalanya. "Kau tidak perlu minta maaf karena di sini akulah yang bersalah," ucapnya sembari mengubah posisinya dengan menghadap Erik, tanpa beranjak dari atas pangkuan suaminya.


"Apa maksudmu?"


Erik mengerutkan keningnya dengan bingung, atas jawaban Aluna yang di luar prediksi. Karena tadinya ia pikir Aluna tidak akan memaafkannya karena masih marah, tapi tenyata wanita itu justru menyalahkan dirinya sendiri.


"Dengar Erik, selama tiga hari ini aku terus memikirkan hubungan kita. Hubungan yang menurutku tidak sehat karena sejak awal sudah salah. Aku terlalu terobsesi untuk mendapatkan kau sekaligus membalas dendam pada Agatha, sampai memaksamu menikahi aku. Jadi di sini akulah yang bersalah, aku yang telah masuk ke dalam hubungan kalian dan merusaknya, jadi —"


Deg.


Jantung Erik berdetak dengan cepat menunggu apa yang akan disampaikan Aluna selanjutnya, meskipun ia sudah dapat menebak akhir dari pembicaraan tersebut.