My Husband My Assistant

My Husband My Assistant
Bab 39



Entah berapa lama Erik berdiam diri di dalam kamar mandi, tapi yang pasti saat ia keluar Aluna sudah tertidur dengan tubuh tertutup rapat oleh selimut. Dengan perlahan Erik berjalan mendekat dan berdiri disamping Aluna sembari menghela napas dengan berat.


Ia tahu pasti Aluna marah dan terluka dengan sikapnya tadi, meninggalkan wanita itu ditengah gairah yang membakar tubuh mereka. Tapi Erik harus melakukannya karena tidak ingin merusak Aluna ditengah keinginannya untuk menceraikan wanita itu.


"Maaf..." lirihnya sembari membuka selimut yang menutupi tubuh Aluna, agar wanita itu bisa tidur dengan nyaman tanpa merasa sesak.


Tapi apa yang dilakukannya itu ternyata salah, karena kini dia lah yang tidak nyaman saat melihat tubuh Aluna yang hanya tertutup lingerie tipis tembus pandang. Hingga bisa melihat dengan jelas tubuh wanita itu yang dipenuhi kissmark hasil karya buatannya.


Gairah yang sudah padam kini kembali naik, dan rasanya tidak mungkin ia melepasnya dengan bermain solo kembali. Terlebih saat melihat bibir Aluna yang bengkak juga karena perbuatannya.


"Sial!"


Dengan frustasi Erik memutuskan keluar dari dalam kamar. Ia memilih tidur di atas sofa daripada tidur seranjang dengan Aluna yang terus menggoda untuk disentuh.


Sementara itu Aluna yang sebenarnya belum tidur, menghela napas dengan lelah saat mengetahui Erik keluar dari kamar mereka. Sungguh ia tak menyangka akan sesulit ini untuk membuat sang suami tergoda. Padahal tubuhnya sudah polos tanpa sehelai benang pun, tapi pria itu tetap saja tidak tergoda untuk menyentuhnya.


"Apa lagi yang harus aku lakukan?" gumamnya pada diri sendiri sembari memejamkan mata.


Aluna harus mencari cara agar Erik mau menyentuhnya, sebelum pria itu memutuskan berpisah dan kembali pada Aluna, setelah kejadian tadi dimana Agatha terlihat sebagai wanita baik hati dan tak berdosa karena hanya bertugas menuruti perintah dari Nick.


*


*


Keesokan harinya.


Erik yang tertidur di atas sofa, membuka kedua matanya karena merasa terganggu saat perutnya terasa begitu berat seperti tertimpa batu besar.


"Selamat pagi sayang..."


"Kau..." Betapa terkejutnya Erik saat melihat Aluna duduk diatas perutnya dengan lingerie tipis yang dikenakan wanita itu. "Apa yang kau lakukan?"


Erik hendak bangkit. Namun tubuh Aluna menahannya untuk tidak bergerak. Wanita yang sudah berada diatas tubuhnya dengan wajah tepat dihadapannya, membuat Erik dengan leluasa melihat wajah cantik itu juga belahan dada yang menggantung tepat dikedua matanya.


Kejadian semalam di kamar mandi dan diatas ranjang kini bermuculan, semakin membuatnya tidak bisa bernapas dengan jantung berdegup kencang.


"Kalau kau tidak mau melakukannya, biar aku yang memulai..."


Tanpa banyak kata ia mencium bibir Erik dengan paksa, menggodanya agar gairah pria itu bangkit.


"Luna, cukup!" ucap Erik setelah berhasil menghentikan ciuman Aluna. "Kau gila, apa kau ingin memperkosaku?" umpatnya dengan ambigu.


Karena tidak ada yang namanya wanita memperkosa pria, dan tidak ada juga istilah memperkosa karena status mereka sebagai pasangan yang halal.


"Diamlah sayang, cukup nikmati saja." Aluna memundurkan tubuhnya.


Erik yang hendak kembali mengumpat, langsung terdiam dengan wajah yang terkejut saat merasakan Aluna mengusap miliknya yang sejak tadi sudah bangun hanya dengan menatap tubuh Aluna yang terbungkus lingerie.


"****!" umpat Erik dengan kedua mata yang terpejam, saat Aluna melakukan hal yang tidak pernah ia pikiran sebelumnya.


Sesuatu yang membuat hasratnya naik berkali-kali lipat hanya dengan permainan mulut yang dilakukan wanitanya dibawah sana. Membuat Erik mengerang hingga hampir mencapai puncak, sebelum rasa nikmat itu menghilang seiring tubuh Aluna yang tiba-tiba beranjak dari tubuhnya.


"Hari ini cukup! Bersiaplah kalau tidak ingin terlambat, atau gajimu akan aku potong!"


Aluna melenggang pergi begitu saja setelah membuat Erik tak berdaya. Sama seperti yang dilakukan pria itu tadi malam hingga membuat kedudukan mereka imbang.


"Satu sama, sayang..." gumam Aluna dengan tersenyum penuh kemenangan.