
"Erik diamlah!" Aluna mendorong pria itu yang tengah mengecup pundaknya, setelah percintaan panas mereka berakhir.
"Kau yang diam, biar aku yang bekerja."
Erik terus mengecup pundak terbuka wanitanya, dengan kedua tangan menyentuh dua benda kenyal yang pas di genggamannya. Tak ia pedulikan punggungnya yang terasa sakit saat terkena keringat yang memenuhi tubuhnya setelah percintaan hebat yang mereka lalui. Seakan tidak ada kata puas Erik ingin kembali menyentuh wanitanya lagi dan lagi.
"Erik, kau tidak dengar sejak tadi bel rumah berbunyi." Aluna menghempas tangan suaminya lalu berbalik badan untuk menatap pria itu. "Pakailah pakaianmu, dan buka pintunya!"
Erik menggelengkan kepalanya. "Biarkan saja," ucapnya sembari mengecup bibir Aluna yang masih bengkak karena perbuatannya.
"Erik!" pekik Aluna dengan kesal.
Karena pria itu kembali memasukinya tanpa ijin. Walaupun ia menyukainya apa yang tengah dilakukan suaminya di bawah sana, tapi tetap saja Aluna harus menjaga sikapnya untuk tidak memperlihatkan betapa ia bahagia melihat bagaimana Erik yang ingin terus menyentuhnya. Setidaknya Aluna harus melakukan hal tersebut sampai Erik benar-benar sudah memutus hubungan dengan Agatha dan menjadi miliknya seutuhnya.
"Erik, cepatlah! Sepertinya tamu yang datang tidak sabaran," ucap Aluna di sela aktifitas panas mereka.
Bukan tanpa alasan Aluna meminta suaminya agar cepat menuntaskan hasrat mereka, karena memang sejak percintaan panas mereka. Aluna sudah mendengar suara bel pintu yang berbunyi bersahutan.
"****! Mengganggu saja!" umpat Erik dengan menyudahi permainan singkat mereka.
Karena jujur telinganya pun merasa berisik mendengar bunyi tersebut. Kini Erik menyesali keputusannya untuk tidak menggunakan pelayan dan penjaga keamanan, setelah kegiatan panasnya harus terganggu karena seorang tamu yang tak di undang.
"Tamu?" gumam Erik saat menyadari sesuatu.
Ia pun bergegas turun dari atas ranjang dengan menggunakan celana dan pakaiannya dengan cepat, karena terburu-buru untuk melihat siapa yang datang. Dalam hati Erik berdoa agar yang datang orang asing atau siapa pun itu asalkan jangan kedua orang tuanya.
"Tunggu aku di sini! Setelah tamunya pergi aku akan kembali," ucap Erik sembari mengecup bibir Aluna sebelum beranjak dari ruangan tersebut.
Ia berjalan keluar dari dalam rumah menuju gerbang luar, untuk melihat siapa yang berada di balik pagar yang telah menekan bel berulang kali.
"Kau...?" Erik menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini.
Sosok wanita yang merupakan mantan tunangannya itu, langsung memeluknya setelah ia membuka pintu gerbang.
"Akhirnya aku menemukanmu."
Tidak percuma Agatha mengitari kawasan rumah tersebut untuk mencari Erik, sampai akhirnya ia melihat mobil tunangannya yang berada di balik gerbang tersebut.
Dan beruntungnya Agatha tadi, karena orang-orang yang berpakaian hitam dan kekar yang sempat menahannya langsung melepaskan Agatha karena lebih fokus menahan Azam. Sehingga ia bisa mengikuti mobil yang di tumpangi Erik bersama Aluna, walaupun sempat kehilangan jejak sehingga lama ia baru sampai.
"Kenapa kau tega meninggalkan aku?" tanya Agatha tanpa melepaskan pelukannya.
Meskipun ada rasa emosi karena perbuatan Erik tadi yang lebih memilih pergi bersama Aluna. Tapi Agatha tidak akan bersikap menggebu dengan mencaci-maki Erik, karena ingin mendapatkan hati pria itu lagi. Bahkan tidak ia pedulikan wangi tubuh Erik yang tercium aroma wanita, yang itu artinya Erik dan Aluna telah melakukan hal intim.
Bagaimana Agatha tahu akan hal itu, karena ia pernah berhubungan intim dengan Nick. Sehingga Agatha tahu aroma seperti apa bekas sisa percintaan. Selain itu tadi Agatha sempat melihat leher Erik yang merah, semakin memperkuat dugaannya tersebut.
Bisa kalian bayangkan bukan bagaimana sakitnya perasaan Agatha kini. Tapi tenang saja, karena sakit yang dirasakannya itu akan terbayar saat ia bisa mendapatkan Erik kembali dari wanita licik seperti Aluna.