
Tanpa sadar tangan Erik menarik tubuh Aluna untuk lebih masuk kedalam pelukannya. Wajah keduanya yang tak berjarak dengan tubuh yang saling bersentuhan, membuat ke-dua mata pria itu dipenuhi oleh kabut gairah.
Rasa panas yang menjalar keseluruh tubuh, membuat jakunnya naik turun hingga tak kuasa untuk menolak pesona kecantikan dan tubuh polos Aluna. Erik mencium bibir sexy itu dengan tangan mengusap naik turun pada punggung Aluna.
Tangannya berhenti pada leher jenjang nan mulus itu, menekannya untuk memperdalam ciuman mereka. Ciuman yang membuat Erik lupa diri seakan wanita yang tengah diciumnya adalah Agatha.
Aluna sendiri menikmati ciuman tersebut juga perlakuan Erik yang begitu lembut, karena momen inilah yang dinantikannya sejak mereka menikah, sehingga ia diam dengan melingkarkan kedua kakinya di pinggang Erik saat tubuh polosnya diangkat sang suami.
Dengan langkah pasti Erik membawanya keluar dari kamar mandi tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Bahkan ciuman itu semakin panas dan menuntut sampai tubuh keduanya berada diatas ranjang.
Ada rasa geli yang membakar tubuh Aluna saat ciuman Erik kini turun mengeksplor pada lehernya. Meninggalkan jejak yang membuat ia mendesah hingga menjambak rambut pria itu saat ciuman tersebut semakin turun dan bermain ditempat yang pastinya menjadi kegemaran para pria.
"Erik..."
Aluna terus mendesah memanggil nama sang suami, yang dibalas Erik dengan ******* dan sentuhan yang semakin intens.
"Akhirnya aku bisa merasakan nikmatnya bercinta..." gumam Aluna dalam hati dengan tersenyum lebar saat melihat Erik menegakkan tubuhnya.
Ia yakin sang suami pasti sedang bersiap untuk melakukan penyatuan mereka. Namun apa yang dipikirkannya itu ternyata salah, karena Erik justru turun dari atas ranjang lalu pergi begitu saja masuk kedalam kamar mandi. Meninggalkan Aluna yang masih berbaring diatas ranjang dengan tubuh polosnya.
"Apa maksudnya ini?" pekik Aluna tak terima. Ia berjalan menuju kamar mandi lalu mengetuk pintu tersebut dengan emosi.
Bagaimana bisa Erik meninggalkannya begitu saja disaat ia menginginkan sesuatu yang lebih. Rasanya seperti kita di terbangkan keatas langit, lalu dijatuhkan begitu saja sampai ke dasar bumi.
"Erik buka pintunya!" teriak Aluna sambil terus mengetuk pintu tanpa mempedulikan tubuhnya yang kedinginan karena sejak tadi polos tak memakai apa pun.
Karena tidak mendapat respon dari Erik. Aluna pun memutuskan kembali berbaring keatas ranjang setelah mengenakan lingerie lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Jika kalian bertanya bagaimana perasaannya kini, pasti lah Aluna merasa sangat sakit hati ditinggalkan begitu saja. Namun ia bersumpah suatu saat nanti Erik yang akan mengemis untuk bercinta dengannya. Itu sebabnya Aluna memutuskan mengenakan lingerie untuk menggoda Erik kembali. Biarlah ia menjadi ****** bagi suaminya sendiri sampai bisa membuat pria itu bertekuk lutut padanya.
Sementara itu Erik yang berada didalam kamar mandi, tengah bermain solo sembari mengumpat nama Aluna berulang kali, karena hampir saja meniduri wanita itu kalau tidak teringat pada sosok kekasihnya.
Sungguh Erik dibuat frustasi dengan sikap Aluna yang terus-menerus memancing hasratnya. Ia pun tahu tidak bisa terus seperti ini, karena tidak yakin bisa bertahan jika Aluna kembali menggodanya.
"Aku harus secepatnya mengurus surat perceraian kami!"
Ya, setuju atau pun tidak Erik sudah memutuskan untuk mengurus perceraian mereka. Ia tidak peduli dengan semua resiko yang akan didapatkannya nanti karena sudah berani menceraikan putri dari keluarga Ricardo. Karena yang ada didalam pikirannya saat ini hanya terbebas dari Aluna, sebelum ia lepas kendali dengan menyentuh wanita itu.