
"Dengar sayang, kita ini suami-istri kalau kau lupa itu. Lagi pula jika aku tidak boleh tidur di kamarmu aku tidur dimana?"
"Kau boleh tidur dimana pun selain di kamarku," jawab Erik tak peduli sembari masuk ke dalam kamar, meninggalkan Aluna yang masih diam berdiri ditempatnya.
Erik berjalan menuju lemari untuk mengambil semua keperluannya dalam bekerja. Karena tadi saat di perjalanan Aluna mengatakan mereka akan pergi ke Bandung, untuk melihat pembangunan cabang hotel di kota tersebut sekaligus rapat dengan beberapa investor disana.
Tidak lupa Erik juga menghubungi nomer ponsel tunangannya, karena sudah lama tidak mendengar kabar dari wanita pujaan hatinya, semenjak melarikan diri dari Aluna. Namun belum sempat panggilan tersebut tersambung, telinganya sudah lebih dulu mendengar suara pintu kamar yang dibuka dari luar. Wanita yang tadi ia tinggal di ruang tengah, kini sudah berada di dalam kamarnya.
"Apa yang kau lakukan?" Erik menutup ponselnya, berjalan mendekati Aluna dengan emosi.
Ia paling tidak suka kamarnya di masuki oleh wanita asing, terlebih wanita itu sudah menghancurkan karir dan masa depan percintaannya.
"Keluar!"
"Aku tidak mau." Aluna bersikeras tidak mau keluar dari kamar.
Ia merasa punya hak untuk menempati kamar Erik, karena statusnya kini sebagai seorang istri pria itu.
Erik yang semakin emosi, langsung menarik lengan Aluna dengan kasar. Namun bukannya membuat wanita itu keluar dari kamar, tangannya justru terluka karena digigit wanita gila yang sialnya berstatus sebagai istrinya sah nya.
"Dengar Erik..." Aluna terdiam sesaat mencoba mengingat nama lengkap suaminya. "Erik Cekerdinata."
"Cokrodinata!" Ralat Erik sembari mengusap lengannya yang digigit Aluna.
"Iya Cokordinata."
"Cokrodinata!!!" Erik kembali meralat nama keluarganya yang seenak jidat dirubah oleh Aluna.
"Ck, sama saja," gerutu Aluna dengan kesal. Masa hanya karena kesalahan beberapa huruf pria itu terus meralatnya. Padahal yang ia ucapkan sama-sama ada Dinata nya. "Dengar baik-baik, aku ini istrimu jadi aku berhak berada di kamar ini."
"What?"
Sungguh Aluna tidak habis pikir dengan Erik. Baru saja pria itu mengakuinya sebagai seorang istri disaat menyuruh untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tapi sekarang pria itu tidak mau mengakuinya sebagai seorang istri, hanya karena dirinya tidak boleh menempati kamar mereka.
Benar-benar cari masalah suami galau nya itu. Ya, galau karena sebentar A lalu sebentar B nanti satu Minggu kemudian berganti Z.
"Terpaksa atau tidak, status kita sebagai suami-istri sah dimata Agama dan Negara. Dan satu lagi, jika kau tidak mengijinkan aku tinggal dikamar ini, jangan salahkan jika keluarga ku ikut campur!"
Aluna mengambil ponselnya, berpura-pura menghubungi keluarganya untuk mengacam Erik.
"Oke, kau boleh menempati kamarnya. Tapi ingat jangan merubah apa pun yang ada diruangan ini!"
Karena semua posisi barang yang ada dikamar tersebut hasil karya dari tangan tunangannya. Ya, rencananya mereka akan menempati apartemen tersebut setelah mereka menikah nanti. Tapi rencana kini tinggal rencana, karena yang menempati apartemennya justru Aluna Ricardo.
"Ck, kau itu selalu saja membuatku gemas. Baru mau mengijinkan setelah diancam," ucap Aluna sembari mengalungkan lengannya pada leher sang suami. "Jadi ingin buat anak deh," godanya.
Saat Aluna ingin mencium bibir sang suami, pria itu lebih dulu mentoyor kepalanya.
"Isi otakmu ini mesum sekali. Kau lupa kita harus berangkat ke Bandung?"
"Oh My God, aku lupa."
Aluna menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya, lalu bergegas keluar dari dalam kamar. Meninggalkan Erik yang tengah mengusap dadanya yang berdetak tak karuan saat berada didekat Aluna tadi.
"Erik Cokordinata cepat kita pergi! Atau aku akan memotong gajimu bulan depan!" teriak Aluna dengan sangat nyaring, membuat kedua mata Erik terbelalak tak percaya.