
Sejak kedatangan keluarga Cokrodinata ke kediamannya dua Minggu yang lalu, Aluna sering melihat sang suami melamun dengan raut wajah yang sedih. Meskipun Erik tidak pernah memperlihatkan kesedihannya di hadapan Aluna, tapi ia tahu betul apa yang tengah dirasakan pria itu.
Seperti malam ini, Erik lagi-lagi terlihat melamun sambil berdiri di balkon kamar setelah menerima telepon dari ibu kandungnya. Entah apa yang dibicarakan oleh keduanya, namun yang pasti Erik terlihat bingung dan cemas sampai pria itu merokok. Padahal sejak mengenal dan menikah dengan Erik, Aluna tidak pernah melihat sang suami merokok.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Aluna sambil memeluk suaminya dari belakang.
"Aluna...." Erik yang terkejut langsung membuang puntung rokok yang dipegangnya. "Kau belum tidur?" tanyanya dengan membalik badan untuk menatap sang istri.
Erik pikir Aluna sudah tertidur saat meninggalkan istrinya itu untuk menerima telepon dari lbunya. Hingga ia memutuskan untuk merokok terlebih dahulu di atas balkon sambil menikmati udara malam, berharap bisa menghilangkan beban yang ada di kepalanya.
"Bagaimana aku bisa tidur jika selimutku ada di sini," ucap Aluna dengan manja, memeluk erat sang suami seakan takut kehilangan.
Erik sendiri tertawa karena merasa aneh dengan sikap manja Aluna, terlebih rayuan yang diucapkan wanita tersebut.
"Aku selimutmu?" tanyanya dengan mencubit hidung mancung sang istri dengan gemas.
Aluna menganggukkan kepalanya lalu mencium bibir Erik dengan lembut. Ciuman itu berubah berubah semakin panas saat suaminya membalas dengan sangat menuntut. Bahkan bibir Erik kini menyentuh leher jenjangnya, meninggalkan banyak kecupan yang pastinya akan meninggalkan jejak kemerahan.
"Jangan di sini sayang..."
Aluna menahan tangan Erik yang sudah masuk ke dalam pakaian tidur yang dikenakannya.
Erik yang sudah terbakar oleh gairah langsung menggendong Aluna layaknya baby koala, tanpa melepas ciuman mereka hingga keduanya kini berada di atas ranjang. Pasangan suami-istri itu sibuk melepas pakaian masing-masing, hingga tak ada sehelai benang pun menempel di tubuh mereka.
Aluna yang berada di bawah tubuh Erik hanya bisa pasrah menerima semua sentuhan sang suami walau sedikit kasar, tanpa protes sama sekali. Ia sengaja melakukan hal itu bahkan tadi menggoda Erik untuk bercinta, berharap bisa menghibur pria itu atau sedikit mengurangi beban sang suami. Karena setahu Aluna dengan melakukan hubungan intim bisa mengurangi stres, meningkatan rasa senang, juga membuat tidur lebih nyenyak. Dan ketiga hal itu yang sedang dibutuhkan Erik.
Kedua insan yang sedang terbakar oleh gairah itu pun bergumul di atas ranjang, menciptakan suara ******* dan erangan di seluruh sudut kamar. Setelah mendapatkan pelepasannya, mereka kini saling berpelukan dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun, dengan bulir keringat yang membasahi tubuh keduanya.
"Apa kau sudah mencintaiku?" tanya Aluna dengan harap-harap cemas.
Meskipun akhir-akhir ini hubungan mereka hangat baik di luar maupun di atas ranjang. Tapi Aluna belum mengetahui perasaan Erik, apakah pria itu sudah mencintainya atau belum.
"Aku mencintaimu Aluna. Jika tidak, mana mungkin aku mempertahankanmu," ucap Erik namun dalam hati.
Karena tidak mungkin ia mengucapkan hal tersebut di saat sang Ibu menangis, karena mengorbankan dirinya demi keinginan Erik agar bisa bersama dengan Aluna.
Ya, tadi ibu Lilian menghubunginya hanya untuk mengatakan agar ia tetap mempertahankan pilihannya. Tidak perlu mengkhawatirkan nasib Ibu Lilian dan memikirkan bagaimana hubungan kedua orangtuanya.
Tapi Erik tidak bisa seperti itu, karena orang kepercayaannya yang tinggal di kediaman keluarga besar Cokrodinata mengatakan. Sejak pulang dari rumahnya, Aji mengurung Lilian di dalam kamar. Bahkan Aji tengah mempersiapkan berkas perceraian dengan Ibu kandungannya.
Aji Cokrodinata tenyata benar-benar merealisasikan ucap pria itu dua Minggu yang lalu, dan kini Erik bingung harus melakukan apa. Karena tidak mungkin Erik diam saja melihat sang Ibu diceraikan oleh Aji. Karena jika sampai itu terjadi, maka bukan hanya hidup Ibu Lilian saja yang akan hancur tapi keluarga dari Ibunya pun akan mendapatkan akibat dari perpisahan kedua orangtuanya. Sedangkan ia belum memiliki kekuatan untuk bisa melawan ayah kandungnya sendiri.