My Husband My Assistant

My Husband My Assistant
Bab 64



"Kau itu sebenarnya ingin bicara apa?" tanya Iriana dengan ketus, sambil menatap tak suka pada wanita muda yang mengaku sebagai istri Erik.


Selain wanita itu hanya diam saja setelah salah menyebut nama keluarga suaminya Cokro menjadi Cokor. Iriana juga takut jika wanita itu akan menjadi penghalang perjodohan antara Erik dengan Arumi. Perjodohan yang telah ia rencanakan sejak lama agar bisa mengendalikan Erik melalui Arumi tentunya.


"Tadi aku ingin bicara apa ya?" gumam Aluna dengan bingung.


Karena memperdebatkan nama keluarga Erik, Aluna jadi lupa apa yang ingin disampaikannya. Membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut menghela napas dengan kasar. Apalagi Erik, pria itu sampai menarik Aluna untuk duduk kembali.


"Sudah kau diam saja," ucap Erik pada istrinya, lalu menatap Agatha yang masih berdiri di sisinya. "Kau juga duduk!"


"Baiklah sayang," sahut Agatha sembari merangkul Erik dengan manja.


Melihat sikap agresif Agatha pada suaminya, tentu saja membuat Aluna tak terima. Ia langsung menarik Erik untuk pindah tempat duduk.


"Kau di sini saja sayang." Agatha menarik lengan Erik agar pria itu tetap duduk di sampingnya.


"Lepaskan suamiku!" Aluna menarik kembali Erik.


Hingga terjadilah saling tarik-menarik memperebutkan Erik karena tak ada yang mau mengalah, membuat keempat orang yang duduk di hadapan mereka menatap bolak-balik pada dua wanita tersebut.


Sementara Erik hanya diam dan pasrah karena terlalu pusing dengan sikap Aluna dan Agatha. Ditambah dengan kehadiran keluarga Cokrodinata yang diluar prediksinya.


"Lihatlah Pak, wanita kasar seperti mereka tidak pantas menjadi menantu keluarga Cokrodinata," ejek Iriana dengan tersenyum sinis.


"Aku bukan wanita kasar. Aku wanita baik-baik yang mendampingi Erik selama dua tahun ini," ucap Agatha lebih dulu tanpa mau memberikan kesempatan pada Aluna untuk berbicara.


Karena kini saatnya bagi Agatha untuk mengambil hati keluarga besar Erik. Keluarga besar yang pastinya dari keluarga kaya raya, terlihat dari pakaian dan barang yang dikenakan oleh orang-orang yang ia tebak sebagai kedua orang tua Erik. Kedua orang tua di mana ada Ayah kandung, Ibu tiri, dan ibu kandung jika dinilai dari percakapan mereka tadi.


"Wanita baik-baik tidak akan berselingkuh dengan pria lain," sahut Aji dengan penuh penekanan juga dengan tatapan tajamnya. Sampai membuat Agatha diam tak berkutik saat ingin membantah.


"Jadi benar kau berselingkuh?" tanya Erik dengan tak percaya, meskipun sudah menduganya sejak tadi.


Ditambah oleh ucapan Aji Cokrodinata yang tidak akan pernah berbicara atau menuduh seseorang tanpa bukti.


"Tidak sayang, aku ..."Agatha terdiam karena bingung.


Ia tak tahu bagaimana caranya untuk menyakinkan Erik dengan membatah semua tuduhan tersebut, disaat pria paruh baya yang tidak lain calon ayah mertuanya menatap Agatha dengan tajam. Ia juga tidak mau sampai salah berucap yang akan membuatnya kembali tersudut, karena Agatha tidak tahu sampai sejauh mana calon ayah mertuanya itu mengetahui semua tentang perselingkuhannya dengan Nick.


"Kalau kau tidak percaya wanita itu sudah berselingkuh, Bapak akan memberikan buktinya."


Deg


Bahu Agatha luruh seketika. Jika benar calon ayah mertuanya mempunyai bukti perselingkuhannya dengan Nick, itu artinya ia tinggal menunggu detik-detik kehancurannya.


Sungguh jika sudah seperti ini Agatha merasa sangat menyesal telah mengkhianati Erik, hanya untuk menjadi seorang istri dari pria kaya-raya, karena tenyata calon suami yang ia khianati juga dari keluarga kaya raya.