
Dari hari ke hari hubungan yang terjalin antara Erik dan Aluna kini semakin membaik, meskipun masih ada Agatha diantara mereka. Keributan yang terjadi diantara keduanya hanya terjadi saat Aluna salah membuat sarapan atau makan malam untuk pria itu. Seperti menanak nasi yang tak kunjung jadi karena lupa ditekan cook, atau membuat rumah yang mereka tempati begitu berantakan dan banyak kesalahan lainnya.
Seperti yang saat ini sedang terjadi. Erik tengah menatapnya dengan tajam karena Aluna telah membuat kemeja kesayangan pria itu berlubang. Lubang dengan bau terbakar karena wanita itu lupa mengangkat setrika dari kemeja suaminya.
"Lun, ini kemeja kesayanganku," geram Erik dengan tertahan saat melihat kemeja yang dibeli Agatha sebagai hadiah ulang tahun kini tak lagi bisa dikenakan.
"Maaf, aku lupa. Lagi pula aku sudah bilang tidak bisa menyeterika tapi kau memaksa," cicit Aluna tak mau disalahkan.
Siapa suruh pria itu hanya memanggil pelayan, khusus untuk membersihkan rumah mereka tiga kali dalam satu Minggu. Sedangkan urusan pribadi Erik, Aluna lah yang harus mengerjakannya seorang diri.
Mendengar jawaban Aluna, Erik pun hanya bisa menghela napas sembari menutup kedua matanya sesaat guna menghilangkan emosi yang berkecamuk didalam dada.
"Sudahlah, cepat kita bersiap. Karena ada meeting dengan pemegang saham siang ini." Erik pun berlalu dari ruangan tersebut setelah mengambil kemeja yang lainnya untuk dikenakan.
"Erik tunggu!" Aluna berjalan menyusul suaminya. "Sudah lama aku ingin bertanya tentang rumah yang kita tempati saat ini. Apakah rumah ini milikmu, atau—"
"Ini rumah temanku. Aku menyewanya selama satu tahun."
"Oh..." Aluna menganggukkan kepalanya. "Tapi kenapa hanya satu tahun? Apa kau berencana ingin membeli rumah baru untukku?"
Erik tidak menanggapi ucapan Aluna yang dianggapnya terlalu percaya diri. Lagi pula ia juga tidak mau Aluna mengetahui lebih jauh tentang urusan pribadi dan keluarganya.
"Memangnya kenapa kau ingin tahu? Apa kau berniat untuk membayarnya?"
"Tentu saja tidak, itu kan sudah jadi tugas suami untuk memberikan tempat tinggal bagi istrinya. Dan tugas istri untuk —"
Aluna terdiam menatap pada Erik yang tengah menunggu perkataannya.
"Apa tugasmu? Bukankah selama ini kau hanya bisa membuat pekerjaan rumah menjadi berantakan. Tidak ada pekerjaan yang bisa kau kerjakan dengan benar."
"Siapa bilang? Ada satu yang bisa aku kerjakan dengan baik," ucap Aluna dengan tersenyum penuh arti, membuat Erik terdiam dengan kening berkerut. "Aku bisa memuaskanmu diatas ranjang, tapi sayang kau yang tidak mau."
Jangankan untuk melakukan hubungan suami-istri, Erik bahkan tidak mau tidur satu kamar dengannya. Tapi itu tidak jadi masalah bagi Aluna, mengingat hubungan mereka kini lebih maju dari pada sebelumnya.
Setelah mengucapkan hal tersebut Aluna pun berlalu, meninggalkan Erik yang diam menatap punggung istrinya yang menghilang dibalik pintu.
"Bukan aku tidak mau, tapi aku menahannya Lun." gumam Erik dalam hati.
Tanpa Aluna ketahui akhir-akhir ini Erik harus menahan rasa ingin menyentuh dan memiliki wanita itu karena tersulut amarah ketika melihat kedekatan Aluna dengan Azam. Ya, sudah satu Minggu ini Aluna dekat dengan Azam, bahkan keduanya selalu menghabiskan waktu makan siang bersama.