
Melihat kemarahan Alena. Aluna pun segera mengambil tindakan agar saudara kembarnya itu tidak semakin emosi, karena jika dibiarkan maka Alena bisa berbuat hal yang nekat, mengingat kemarahan orang yang diam itu lebih mengerikan dari pada orang normal lainnya.
"Sudah Ale, kita tidak boleh terpancing emosi untuk menghadapi Mommer ku tercinta, dan ulat bulu tak tahu diri ini," ucapnya sambil melepas cengkraman tangan Alena.
"Ulat bulu? Siapa yang kau sebut —"
"Diamlah" sentak Aluna dengan menunjuk kasar tepat di depan wajah Arumi. "Kau itu tidak diajak, jadi diam saja!"
Arumi pun tak dapat berkutik karena takut pada kedua wanita kembar itu yang kini menatapnya dengan tajam. Terlebih calon mertuanya hanya diam saja tidak membantunya sama sekali saat disentak tadi.
"Dan untuk Mommy mertuaku tersayang." Aluna mendekat lalu merangkul ibu Iriana dengan paksa, karena ibu mertuanya itu tak mau disentuh sama sekali. "Ada yang ingin aku bicarakan dengan Anda, hanya berdua," tekannya dengan tatapan mengintimidasi.
Hingga membuat Iriana pun mau tidak mau pergi bersama Aluna, meskipun tak tahu apa yang akan dibicarakan oleh menantu Lilian tersebut.
"Mau kemana kau?" Alena menahan tangan wanita yang ia ketahui bernama Arumi, saat wanita itu hendak menyusul Aluna dan Ibu Iriana.
"Aku.., aku ingin..."
"Sudah kau di sini saja, temani aku."
Alena menarik Arumi dengan paksa, agar wanita itu tak menganggu adiknya yang ingin menyelesaikan permasalahan dengan ibu mertuanya. Selain itu, Alena juga ingin memanfaatkan Arumi untuk menemaninya menunggu kedatangan Abian.
Sementara itu di tempat yang berbeda, lebih tepatnya di sebuah ruang kerja dengan konsep gaya Bohemian. Tampak seorang pria tampan, tengah tersenyum setelah menerima panggilan telepon dari seseorang.
Ya, selama ini Erik bukannya tidak tahu jika ibu Iriana bersama Arumi kerap menganggu Aluna, agar istrinya tidak nyaman tinggal di kediaman Cokrodinata. Itu sebabnya Erik memerintahkan orang kepercayaannya untuk menjaga Aluna agar memastikan keamanan sang istri.
"Tapi tunggu dulu, tadi dia mengatakan Aluna dan Ibu Iriana masuk ke dalam kamar," gumam Erik dengan sedikit cemas.
Walaupun ia tahu Aluna selalu bisa mengatasi ibu Iriana dengan kecerdikan wanita itu, tapi tetap saja Erik merasa khawatir mengingat ibu tirinya begitu keras dan berani melakukan apa pun demi mendapatkan keinginannya.
"Aku harus pulang sekarang."
Ia pun memutuskan untuk pulang walaupun pekerjaannya belum selesai, karena merasa khawatir dengan keadaan Aluna. Selain itu ia juga sangat merindukan sang istri, dan ingin mengajak wanitanya itu untuk berbagi peluh di atas ranjang agar apa yang diinginkannya cepat berhasil.
Ya, Erik ingin istrinya itu cepat mengandung agar hubungan mereka tidak lagi diganggu oleh ibu Iriana atau pun Arumi. Karena jika sampai Aluna mengandung keturunan Cokrodinata, maka orang-orang yang menganggu Aluna akan berhadapan langsung dengan Aji. Dan alasan lainnya, karena ia tidak ingin kehilangan Aluna apalagi sampai direbut oleh pria yang bernama Azam. Karena Erik tahu betul pria itu masih sering menghubungi Aluna, meskipun hanya sebatas komunikasi lewat ponsel.
*
*
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, akhirnya mobil yang ditumpangi Erik sampai di kediaman Cokrodinata.
"Aluna..." panggil Erik sambil berjalan masuk ke dalam ruangan. "Alu..." mulutnya tak lagi terucap saat kedua matanya menatap sosok Aluna yang tidak sadarkan diri di atas sofa.